Beranda » Agama » Bahasa Arab » Nahwu » 5 Tanda-Tanda Kalimah Isim Dalam Kitab Alfiyah (Nahwu Bahasa Arab)

5 Tanda-Tanda Kalimah Isim Dalam Kitab Alfiyah (Nahwu Bahasa Arab)

tanda tanda kalimah isim

jumanto.com – Tanda-tanda kalimah isim. Beberapa kitab yang biasa digunakan untuk mempelajari bahasa arab khususnya ilmu nahwu di Indonesia adalah kitab Jurumiyah, Imrithy dan Alfiyah. Ketiga kitab ini sangat masyhur di kalangan pesantren, meskipun masih banyak kitab-kitab nahwu lainnya seperti yang kontemporer ada nahwul wadhih.

Kitab Alfiyah adalah kitab nahwu berupa syair dalam bahasa arab yang terdiri atas 1.002 syair. Itulah kenapa disebut Alfiyah yang berarti “seribu“.

Di dalam mengkaji kitab Alfiyah, santri biasanya diharuskan menghafalkan nadzam yang berjumlah 1.002 syair ini, untuk kemudian dikaji isi kandungannya.

Dimulai dengan muqaddimah, lalu pembahasan kitab Alfiyah selanjutnya masuk ke bab Kalam dan Sesuatu Yang Kalam Tersusun Darinya.

Di bab ini, dibahas mengenai kalam, kalim, kalimat, lafadz dan qaul.

Lalu, di bait yang ke 10, pembahasan kitab Alfiyah masuk ke tanda-tanda atau ciri-ciri kalimah isim.

5 Tanda-tanda Kalimah Isim Menurut Kitab Alfiyah

Di kitab Jurumiyah pun, sebenarnya sudah dibahas ciri-ciri kalimah isim.

Dengan redaksi berbeda, kitab Alfiyah mengungkapkan alamat kalimah isim sebagai berikut:

بِالجَرِّ وَالتّنْوِيْنِ وَالنِّدَا وَاَلْ ¤ وَمُسْنَدٍ لِلإسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ

Dengan sebab Jarr, Tanwin, Nida’, Al, dan Musnad, tanda pembeda untuk Kalimah Isim menjadi berhasil“.

Berikut ini penjelasan tanda-tanda kalimat isim selengkapnya:

ciri-ciri kalimah isim dalam ilmu nahwu kitab alfiyah
ciri-ciri kalimah isim dalam ilmu nahwu kitab alfiyah

#1. Kalimat Isim bisa dibaca jarr/khafdh

Tanda kalimat isim yang pertama yaitu kalimah isim bisa dii’rab jer atau khofdh.

I’rab adalah perubahan akhir kalimat (kata) dikarenakan ada ‘amil yang masuk kepadanya.

I’rab sendiri terbagi menjadi 4:

  • rofa’: untuk kalimah isim dan fi’il.
  • nashab: untuk kalimah isim dan fi’il.
  • jer: hanya untuk kalimah isim.
  • jazm: hanya untuk kalimah fi’il.

Ciri dari kalimah isim, dia bisa dibaca jer, baik sebab: huruf jer, idhafah, maupun tabi’ah.

Contohnya: مَرَرْتُ بغُلاَمِ زَيْدٍ الفَاضِلِ. (Aku bertemu dengan anak laki-laki Zaid yang baik itu).

  • بغُلاَمِ dibaca jer sebab ada huruf jer bi (ب).
  • زَيْدٍ dibaca jer karena menjadi mudhaf ilaih dari lafadz غُلاَمِ (sebab idhafah).
  • الفَاضِلِ dibaca jer karena tabi’ (menjadi na’at atau sifat),  mengikuti i’rab yang diikutnya yang dibaca jer.

Penjelasan lengkapnya di bawah ini.

a. Sebab huruf jer

Huruf jer terdiri atas: مِنْ، اِلٰى، عَنْ، عَلٰى، فِي، رُبَّ، بِ، كَ، ل، dan huruf qasam (تَ، بِ، وَ).

Jika kalimah isim didahului oleh huruf jer, maka harus dibaca jer, dan tandanya dengan:

  • kasrah, untuk:
    1. isim mufrad munsharif, contohnya: وَالْعَصْرِ (Demi Masa), karena ada huruf qosam wa, maka huruf terakhir dibaca jer dengan kasrah.
    2. jamak taksir munsharif, contohnya di Al Quran Surat Al Baqarah ayat 228: وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ.
    3. jamak muannats salim, contohnya: اللّهمّ اغفر لِلْمُسْلِمَاتِ
  • ya‘ untuk:
    1. Asmaul khamsah (اخوك، ابوك، حموك، فوك، ذومال), contohnya: رُوِيَ عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ.
    2. Isim tatsniyah, contohnya: اللّهمّ اغفرلنا ذنوبنا وَلِوَالِدَيْنَا.
    3. Jamak mudzakkar salim, contohnya di Al Quran Surat Al Baqarah ayat 2: ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ.
  • fathah, untuk isim ghairu munsharif, contohnya: صُمْتُ فِي رَمَضَانَ (aku berpuasa di bulan Ramadhan).

b. Dibaca jer sebab menjadi mudhaf ilaih (idhafah).

Jika ada susunan idhafah, maka yang menjadi mudhaf ilaih harus dibaca jer.

Susunan idhafah, secara gampangnya, adalah susunan dua buah kalimah isim yang berfungsi sebagai diterangkan dan menerangkan.

Contohnya:

  • Bukunya Fatimah: كِتَابُ فَاطِمَةَ, kitabu = mudhaf dan fathimata = mudhaf ilaih yang dibaca jer. Tanda jer dengan fathah karena isim ghairu munsharif.
  • Ulamanya Kaum Muslimin: عُلَمَاءُ الْمُسْلِمِيْنَ, lafadz عُلَمَاءُ adalah mudhaf dan الْمُسْلِمِيْنَ adalah mudhaf ilaih.
  • Hamba Allah: عبدُاللهِ
  • Bapaknya Abdullah: اَبُوْعبدِاللهِ .
  • Dengan nama Allah: بِسْمِ اللهِ.
  • Tuhan Semesta Alam: رَبُّ الْعَالَمِيْنَ.

c. Dibaca jer sebab tabi’

Isim yang mengikuti isim sebelumnya, disebut tawabi’.

Jika isim sebelumnya dibaca jer, maka tabi’ juga harus dibaca jer.

Berikut ini rincian tawabi’ jer beserta contohnya:

  • na’at/sifat, contoh: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ, lafadz الرَّحْمٰنِ dan الرَّحِيْمِ menjadi na’at dari اللهِ yang dibaca jer karena menjadi mudhaf ilaih, maka arrahman dan arrahim juga dibaca jer dengan tandanya berupa kasrah karena isim mufrad.
  • athaf, contohnya: اللّهمّ اغفرلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ. Lafadz وَالْمُسْلِمَاتِ menjadi ‘athaf dari المسلمين yang dibaca jer karena didahului huruf jer. Maka lafadz وَالْمُسْلِمَاتِ juga dibaca jer dengan tanda kasrah.
  • taukid, contohnya: اللّهمّ اغفرلِلْمُسْلِمِيْنَ كُلِّهِمْ. Lafadz كُلِّ menjadi taukid dari المسلمين sehingga harus sama-sama dibaca jer.
  • badal, contohnya: الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. lafadz رَبِّ dibaca dengan harakat kasrah, karena menjadi badal dari lillahi (لله) yang dibaca jer karena didahului huruf jer. Maka رَبِّ juga dibaca jer dengan harakat kasrah.

#2. Isim bisa diketahui dengan adanya tanwin

Tanda-tanda isim yang kedua yaitu bisa dimasuki oleh tanwin.

Contohnya:

  •  (nama orang) مُحَمَّدٌ
  •  (buku) كِتَابٌ
  • مَدْرَسَةٌ (sekolah)

Tanwin yang masuk ke dalam kalimah isim sendiri ada 4 yaitu:

  • tanwin tamkin.
  • tanwin tankir.
  • tanwi muqabalah.
  • tanwin iwadh.

Selengkapnya, silakan baca: 10 macam-macam tanwin.

#3. Nida

Tanda isim yang ketiga yaitu huruf nida atau huruf panggilan seperti يَا dan sejenisnya.

Kalimat yang jatuh setelah huruf nida berstatus sebagai maf’ul bih dan maf’ul bih sendiri pasti berupa kalimah isim.

Oleh karena itu, huruf nida menjadi tanda dari kalimah isim.

Contohnya:

  • يَا زَيْدُ
  • يَا حَبِيْبَ الْقَلْبِ
  • يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا

#4. Adanya alif lam atau AL (ال)

Al juga menjadi ciri dari kalimah isim, yaitu al yang berfungsi untuk mema’rifatkan isim dan juga al zaidah.

Contohnya: رَجَعَ الْمُسْلِمُ مِنَ المَدِيْنةِ . (Muslim itu telah pulang dari kota Madinah)

  • Al yang ada pada lafadz الْمُسْلِمُ berfungsi sebagai al ma’rifah.
  • Sedangkan yang ada pada lafadz المَدِيْنةِ berfungsi sebagai al zaidah.

Jika isim sudah menerima al, maka dia tidak ditanwin.

Contohnya:

  • الْمُسْلِمُ, tidak ditanwin.
  • jika mau pakai tanwin, maka ditulis tanpa al: مُسْلِمٌ.

#5. Musnad Ilaih(bisa disandari/dihukumi sesuatu)

Musnad berarti yang disandarkan, dan musnad ilaih berarti yang disandari atau dihukumi sesuatu.

Misalkan: Zaid berdiri. (قَامَ زَيْدٌ) atau زَيْدٌ قَائِمٌ

Maka, zaid di sini dihukumi berdiri, sehingga zaid adalah kalimah isim, karena bisa dihukumi sesuatu, disebut dengan Musnad Ilaih.

Lafadz Qaimun, yang disandarkan, disebut Musnad.

Kesimpulan

Itulah 5 ciri-ciri kalimah isim yang ada di dalam kitab Alfiyah.

Pada intinya, untuk mengetahui suatu kalimah apakah itu termasuk kalimah isim atau bukan, itu bisa dengan dua cara:

  • tahu artinya, contoh: buku, itu adalah kata benda, berarti kalimah isim.
  • tahu dari tanda-tanda yang telah disebutkan di atas.

Daftar isi materi Bahasa Arab, baca: Materi Nahwu Shorof Dasar.

Demikian tanda-tanda kalimah isim di dalam ilmu nahwu kitab alfiyah. Selanjutnya, kita perlu mengenal tanda-tanda kalimat fi’il serta pengertian isim dan pembagiannya. Baca: tanda-tanda fi’il.