Beranda » Agama » Tajwid » Hukum Tajwid Surat An Nisa Ayat 59 Beserta Alasannya, Kandungan, Arti

Hukum Tajwid Surat An Nisa Ayat 59 Beserta Alasannya, Kandungan, Arti

Hukum Tajwid Surat An Nisa Ayat 59 Beserta Alasannya, Kandungan, Arti
<

jumanto.com – Hukum Tajwid Surat An Nisa Ayat 59 Beserta Alasannya, Kandungan, Arti. Jika sebelumnya kita sudah membahas hukum tajwid al maidah ayat 48, kali ini kita akan membahas surah annisa ayat 59.

Surat An-Nisa adalah surat ke empat dari Al Quran, setelah Al Fatihah, Al Baqarah dan Ali Imran.

An-nisa artinya perempuan-perempuan.

Surat ini terdiri dari 176 ayat, sehingga cukup panjang saat dibaca.

Salah satu ayat yang banyak kita dengar dan diajarkan di sekolah sekolah adalah ayat 59 yang akan kita bahas ini.

Kita bisa mempelajari hukum bacaan tajwid, arti kata per kata, asbabun nuzul, maksud, isi kandungan, dan sebagainya.

Yuk kita mulai dari bunyi surat dan artinya.

Baca juga: Tajwid Surat Al Isra Ayat 32.

Tulisan Arab Dan Arti Surat An Nisa Ayat 59

Bunyi surah An-Nisa ayat 59 sebagai berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ – ٥٩

Tulisan latinnya sengaja tidak saya cantumkan, karena tulisan latin tidak bisa mewakili tulisan arab.

Arti terjemahannya:

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“.

Baca juga: Tajwid Surat Annisa Ayat 136.

Arti Perkata Surat An Nisa Ayat 59

Arti kata per kata dari surah an-nisa ayat 59 kurang lebih sebagai berikut:

  • يٰٓاَيُّهَا artinya wahai
  • الَّذِيْنَ artinya orang-orang yang
  • اٰمَنُوْٓا artinya telah beriman mereka
  • اَطِيْعُوا artinya taatilah kalian
  • اللّٰهَ Allah
  • وَاَطِيْعُوا artinya dan taatilah kalian
  • الرَّسُوْلَ artinya utusan / Rasul
  • وَاُولِى الْاَمْرِ artinya pemimpin / orang yang berkuasa
  • مِنْكُمْۚ artinya dari kalian
  • فَاِنْ artinya maka jika
  • تَنَازَعْتُمْ artinya berbeda pendapat kalian
  • فِيْ artinya di dalam
  •   شَيْءٍ artinya sesuatu  / perkara
  • فَرُدُّوْهُ artinya maka kembalikanlah ia (perkara tadi)
  • اِلَى artinya ke
  • اللّٰهِ Allah
  • وَالرَّسُوْلِ artinya dan Rasul
  • اِنْ artinya jika
  • كُنْتُمْ artinya ada siapa kalian
  • تُؤْمِنُوْنَ artinya beriman kalian semua
  • بِاللّٰهِ artinya kepada Allah
  • وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ artinya dan hari akhir / kiamat
  • ذٰلِكَ artinya itu
  • خَيْرٌ artinya lebih baik
  • وَّاَحْسَنُ artinya lebih bagus
  • تَأْوِيْلًا artinya akibatnya.

Kurang lebih itulah arti kata per kata dari surah annisa ayat 59.

Baca juga: Tajwid Surat Al Maun.

Hukum Tajwid Surat An Nisa Ayat 59 Beserta Alasannya

Beberapa hukum bacaan tajwid yang terkandung di dalam surat an nisa ayat 59 di antaranya sebagai berikut:

  1. Mad jaiz munfashil [يٰٓاَيُّهَا], alasannya ada bacaan mad (fathah ketemu alif) bertemu hamzah dalam kalimat (kata) yang berbeda, cara membacanya dibaca panjang 2 sampai dengan 6 harakat.
  2. Mad thobi’i [الَّذِيْنَ], alasanya karena ada kasrah bertemu ya mati dan setelahnya tidak bertemu hamzah, tasydid, atau huruf mati, cara bacanya dibaca panjang 2 harakat.
  3. Mad badal [اٰمَنُوْٓا], karena ada hamzah berharakat fathah ketemu alif, dibaca panjang 2 harakat.
  4. Mad jaiz munfashil [اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا], karena ada bacaan mad (dhommah ketemu wawu mati) bertemu hamzah di lain kata.
  5. Mad thobi’i [اَطِيْعُوا], karena ada kasrah ketemu ya mati.
  6. Tafkhim [اَطِيْعُوا اللّٰهَ], karena ada lafdzul jalalah (Allah) setelah huruf berharakat dhommah, cara bacanya laf pada lafadz Allah dibaca tebal.
  7. Mad thobi’i [ وَاَطِيْعُوا ], karena ada kasrah ketemu ya mati.
  8. Idgham syamsiyah [ الرَّسُوْلَ], karena ada alif lam (al) bertemu dengan ra’, cara bacanya lam dimasukkan ke huruf ra’.
  9. Tafkhim [الرَّسُوْلَ], alasannya karena ada ra’ berharakat fathah, cara bacanya huruf ra dibaca tebal (baca juga: contoh ra’ tafkhim).
  10. Mad thobi’i [الرَّسُوْلَ], karena ada dhommah ketemu wawu mati.
  11. Idzhar qamariyah [الْاَمْرِ], alasannya karena ada al bertemu huruf hamzah.
  12. Tarqiq [الْاَمْرِ ], karena ada huruf ra’ berharakat kasrah, cara bacanya ra’ dibaca tipis.
  13. Ikhfa haqiqi [مِنْكُمْۚ], alasannya karena ada nun mati ketemu kaf, cara bacanya nun mati dibaca samar-samar antara idzhar dan idgham.
  14. Idzhar syafawi [مِنْكُمْۚ فَاِنْ], karena ada mim mati ketemu fa, cara bacanya mim mati dibaca jelas tanpa berdengung.
  15. Ikhfa haqiqi [فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ], karena ada nun mati ketemu huruf ta.
  16. Mad thobi’i [تَنَازَعْتُمْ], penjelasannya karena ada fathah ketemu alif.
  17. Idzhar syafawi [تَنَازَعْتُمْ فِيْ ], penjelasannya karena ada mim mati ketemu fa.
  18. Mad thabi’i [ فِيْ], karena ada kasrah ketemu ya mati.
  19. Mad layyin [ شَيْءٍ], karena ada fathah bertemu ya mati, dibaca panjang (tidak sepanjang mad ‘aridh lissukun) jika waqaf, jika washol maka dibaca pendek.
  20. Ikhfa haqiqi [ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ], karena kasrah tanwin ketemu fa.
  21. Tafkhim [فَرُدُّوْهُ], karena ada huruf ra berharakat dhammah.
  22. Mad thabi’i [فَرُدُّوْهُ], karena dhammah ketemu wawu mati.
  23. Tafkhim [اِلَى اللّٰهِ], karena ada lafdzul jalalah didahului huruf berharakat fathah.
  24. Idgham syamsiyah [وَالرَّسُوْلِ], lihat nomor 8 9 10.
  25. Tafkhim [وَالرَّسُوْلِ]
  26. Mad thabi’i [وَالرَّسُوْلِ]
  27. Ikhfa haqiqi [اِنْ كُنْتُمْ], karena ada nun mati ketemu kaf.
  28. Ikhfa haqiqi [كُنْتُمْ ], karena ada nun mati ketemu ta.
  29. Idzhar syafawi [كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ], karena ada mim sukun ketemu ta’.
  30. Mad thabi’i [تُؤْمِنُوْنَ ], karena ada dhommah ketemu wawu mati.
  31. Tarqiq [بِاللّٰهِ ], karena ada lafdzul jalalah didahuli huruf berharakat kasrah, cara bacanya lam pada lafadz Allah dibaca tipis.
  32. Idzhar qamariyah [وَالْيَوْمِ], karena ada al ketemu huruf ya.
  33. Idzhar qamariyah [الْاٰخِرِۗ], karena ada al ketemu hamzah.
  34. Mad badal [الْاٰخِرِۗ], karena ada hamzah berharakat fathah ketemu alif.
  35. Tarqiq [الْاٰخِرِۗ], karena ada ra sukun (karena waqaf) jatuh setelah huruf berharakat kasrah, ro-nya dibaca tipis.
  36. Mad thabi’i [ذٰلِكَ], karena ada fathah ketemu alif.
  37. Tafkhim [خَيْرٌ], karena ada ra’ berharakat dhammah.
  38. Idgham bighunnah [ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ], karena ada dhommah tanwin ketemu wawu.
  39. Mad thabi’i [ تَأْوِيْلًا], karena ada kasrah ketemu ya mati.
  40. Mad iwadh [ تَأْوِيْلًا], karena ada fathah tanwin berada di posisi waqaf, cara bacanya tanwin dihilangkan dan dibaca panjang dua harakat (laa, bukan lan).

Nah, itulah analisis hukum tajwid surat an nisa ayat 59 yang saya temukan.

Jika ada salah dalam saya menuliskan hukum bacaan tajwid surat an nisa ayat 59 beserta alasannya, mohon dikoreksi.

Baca juga: Hukum Tajwid Mim Mati.

Isi Kandungan Surat An Nisa Ayat 59

Beberapa isi kandungan dari surah an nisa ayat 59 di antaranya:

1. Taat dan patuh kepada perintah Allah

Caranya dengan mengamalkan isi-isi yang terkandung dalam kitab suci Al Quran.

Segala hukum yang telah ditetapkan oleh Allah harus kita laksanakan.

Walaupun berat, banyak rintangan, banyak cobaan, tapi kita diperintahkan untuk taat pada perintah Allah.

Setiap perintah Allah pasti mengandung maslahat atau kebaikan, dan setiap larangan Allah pasti ada mudharat yang harus dihindari.

2. Taat dan patuh kepada Rasul

Selain taat kepada Allah, kita juga diperintahkan untuk taat kepada Rasul-Nya.

Rasul membawa ajaran yang sumbernya berasal dari Allah.

Rasul adalah sang penyampai pesan dari Allah.

Rasul lah yang menjelaskan isi dari Al Quran.

3. Patuh pada ketentuan yang diputuskan oleh ulil amri

Ulil amri pada surat annisa ayat 59 bisa diartikan sebagai orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kita.

Jika mereka telah sepakat mengenai perkara tertentu, maka kita wajib mematuhinya sepanjang tidak bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah.

Misalkan saja, pemerintah mewajibkan pengendara motor untuk memakai helm, maka kita wajib mematuhinya.

4. Quran dan Sunnah adalah dua panduan utama jika suatu perkara diperselisihkan

Manusia selalu berkembang dan sering suatu hal tidak disebutkan secara jelas hukumnya di dalam Al Quran dan Sunnah.

Akhirnya terjadi perselisihan pendapat.

Jika ada perselisihan, maka ambillah hukumnya dengan sumber dari kedua sumber utama ini.

Bisa dengan Qiyas, atau ijma’, atau cara lainnya.

Tentu tidak semua orang bisa membuat qiyas, hanya para ulama ahli ilmu yang seharusnya memutuskan.

Jika dalam mengambil keputusan semuanya sudah bersumber dari keduanya, dan masih terdapat perbedaan pendapat, maka perbedaan pendapat yang seperti ini adalah diperbolehkan dalam agama.

Jika benar dalam ijtihad, dapat dua pahala, jika salah dapat satu pahala.

Kurang lebih itulah tafsir singkat atau maksud surah an nisa ayat 59.

Baca juga: Tajwid Surat Yunus Ayat 40.

Asbabun Nuzul Surat An Nisa Ayat 59

Di kitab tafsir ibnu katsir, disebutkan bahwa asbabun nuzul dari ayat ini adalah berkaitan dengan Abdullah ibnu Huzafah ibnu Qais ibnu Addi ketika ia diutus oleh Rasulullah SAW untuk memimpin suatu pasukan khusus.

Ia adalah seorang lelaki dari kalangan anshar.

Saat mereka berangkat, pemimpin pasukan tadi meminta kepada pasukannya untuk mengumpulkan kayu bakar.

Lalu, pemimpin tadi meminta untuk dibuatkan api dari kayu bakar yang telah terkumpul.

Tidak selesai di situ, si pemimpin juga meminta pasukan untuk masuk ke api yang sudah dinyalakan.

Lalu, seorang pemuda dari kalangan mereka akhirnya berkata “Sesungguhnya jalan keluar bagi kalian dari api ini hanyalah kepada Rasulullah. Karena itu, kalian jangan tergesa-gesa sebelum menemui Rasulullah. Jika Rasulullah SAW memerintahkan kepada kalian agar memasuki api itu, maka masukilah.”

Kemudian mereka kembali menghadap Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu kepada Beliau.

Maka Rasulullah SAW bersabda kepada mereka: Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar untuk selama-lamanya. Sebenarnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan.

Kurang lebih, itulah tadi Hukum Tajwid Surat An Nisa Ayat 59 Beserta Alasannya, Kandungan, Arti Per Kata. Baca juga: Urutan Surat Juz 30.