Beranda » Agama » Bahasa Arab » Nahwu » 4 Syarat Mubtada Dalam Ilmu Nahwu Bahasa Arab

4 Syarat Mubtada Dalam Ilmu Nahwu Bahasa Arab

syarat jadi mubtada
<

jumanto.com – Syarat mubtada. Secara umum, mubtada adalah isim ma’rifat yang dibaca rofa’ serta jatuh di awal jumlah (kalimat). Sebagaimana kita ketahui, jumlah (kalimat) dalam bahasa arab itu terbagi menjadi dua: jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah.

Jumlah ismiyah adalah kalimat dalam Bahasa Arab yang terdiri atas susunan mubtada dan khabar.

Sedangkan jumlah fi’liyah adalah kalimat dalam Bahasa Arab yang terdiri atas susunan fi’il dan fa’il atau fi’il, fa’il dan maf’ul bih.

Jika kita menemukan susunan kalimat dengan terjemahan …. adalah  …., maka itu adalah susunan jumlah ismiyah yang terdiri dari mubtada dan khabar.

Contohnya: Aku adalah seorang pegawai.

Maka kata aku berkedudukan sebagai mubtada, dan seorang pegawai adalah khobarnya.

Nah, salah satu cara untuk menentukan mubtada dan khobar adalah dengan mengetahui ciri atau syarat-syaratnya.

Baca juga: 5 contoh kalimat mubtada dan khobar.

Syarat Mubtada

Syarat mubtada yang ada di sini adalah syarat secara umum, karena nanti tentu saja tetap ada pengecualian dari syarat-syarat yang ada.

Dalam kondisi tertentu, ada yang menyimpang dari kondisi syarat pada ketentuan bakunya.

Di antara syarat-syarat mubtada adalah sebagai berikut:

1. Syarat Pertama: Mubtada harus isim ma’rifat

Seperti sering diulang-ulang di tulisan blog ini, bahwa mubtada adalah isim ma’rifah yang dibaca rofa’ serta jatuh di awal jumlah (kalimat).

Contohnya:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ

Lafadz السَّلَامُ adalah isim ma’rifat dengan al (alif lam).

السَّلَامُ berkedudukan sebagai mubtada dari kalimat ini, sedangkan عَلَيْكُمْ adalah khobarnya.

Meskipun demikian, seperti telah saya sebutkan di atas, tetap ada pengecualian dari kondisi normal, dimana dalam kondisi tertentu, mubtada bisa berupa isim nakirah.

Baca lengkapnya di sini: syarat mubtada nakirah.

Mubtada bisa berupa isim dhomir maupun isim dhohir.

2. Mubtada harus ber-i’rab rofa’

Apa itu i’rob, bisa baca di sini: pengertian i’rob.

Mubtada itu harus rofa’.

Mengingatkan kembali, tanda i’rob rofa’ ada 4:

  • dhommah.
  • wawu.
  • alif.
  • nun.

Contoh dalam kalimat السَّلَامُ عَلَيْكُمْ, kata السَّلَامُ beri’rob rofa’ dengan tandanya berupa dhommah.

Baca juga: Hukum Mubtada.

3. Mubtada tidak boleh dimasuki amil lafdzi

Amil yang ada pada mubtada adalah ‘amil maknawi bukan ‘amil lafdzi.

Amil maknawi adalah amil yang tidak dapat diucapkan atau dilihat akan tetapi hanya dapat dirasakan dengan hati.

Sedangkan amil lafdzi adalah amil yang dapat diucapkan dan dilihat.

Contohnya:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ, itu menggunakan amil maknawi.

Namun jika ditambahkan amil lafdzi inna, akan berubah sebagai berikut:

اِنَّ السَّلَامَ عَلَيْكُمْ

اِنَّ adalah amil lafdzi, dan السَّلَامَ  yang dimasuki amil lafdzi inna bukan mubtada lagi sekarang, tapi isimnya inna.

Baca juga: Pembagian Mubtada.

4. Mubtada harus berada di awal kalimat (jumlah)

Mubtada harus berada di permulaan kalimat, tidak diakhirkan.

Ini adalah kondisi normalnya.

Nanti ada pengecualian, di mana justru mubtada diletakkan di belakang, dan khobarnya di depan.

Contohnya jawaban doa salam di atas:

وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ

السَّلَامُ sebagai mubtada justru diletakkan di akhir, yang disebut dengan mubtada muakhor.

Sedangkan khobar ditaruh di depan, disebut dengan khobar muqoddam.

Syarat khabar muqaddam dan mubtada muakhor silakan baca di sini: mubtada muakhor.

Baca juga: mubtada dan khabar beserta contohnya.

Kesimpulan

Mubtada adalah isim marfu’ yang terbebas dari amil lafdzi, terbuat dari isim ma’rifat dan berada di awal kalimat.

Dari definisi ini kita bisa tahu apa saja syarat-syarat jadi mubtada dalam ilmu nahwu Bahasa Arab. Baca materi utama: belajar nahwu shorof lengkap.