Beranda » Agama » Bahasa Arab » Nahwu » 10 Macam-macam Tanwin Dalam Ilmu Nahwu Bahasa Arab Dan Contohnya

10 Macam-macam Tanwin Dalam Ilmu Nahwu Bahasa Arab Dan Contohnya

jenis pembagian tanwin di dalam ilmu nahwu bahasa arab
<

jumanto.com – Jenis Tanwin. Tanwin adalah tanda baca di dalam tulisan arab yang biasa dituliskan dengan dua fathah, dua kasrah, dan dua dhammah. Makanya dikenal 3 jenis tanwin dalam tulisan arab: fathatain (dua fathah: ً  ), kasratain (dua kasrah: ٍ  ), dhammatain (dua dhammah: ٌ  ).

Atau ada juga yang menyebut pembagian tanwin dalam tulisan arab itu menjadi:

  1. fathah tanwin,
  2. kasrah tanwin, dan
  3. dhammah tanwin.

Itu adalah pembagian tanwin berdasarkan tulisannya di dalam tulisan arab.

Dan bedakan antara tanwin dengan tasydid, karena bagi pemula yang baru belajar ngaji, biasanya sulit membedakannya juga.

Di dalam Ilmu Nahwu, kita akan mengenal pembagian macam-macam tanwin yang lebih banyak lagi.

Setidaknya ada 10 macam tanwin di dalam ilmu nahwu bahasa arab yang perlu kita tahu, dan tanwin tersebut bisa masuk ke kalimah isim, fi’il dan huruf.

Jika kita belajar Jurumiyah, kita hanya tahu kalau tanwin itu hanya masuk ke dalam kalimah isim.

Namun, di pembahasan kali ini, ternyata terkadang tanwin juga masuk ke kalimah fi’il dan huruf.

Berikut ini penjelasan lengkapnya.

Pengertian Tanwin

Pengertian tanwin secara bahasa dan istilah sebagai berikut:

Tanwin menurut bahasa

Kata tanwin merupakan bentuk mashdar dari kalimat fi’il nawwana, yunawwinu.

نوّن – ينوّن – تنوين

Secara bahasa, arti tanwin adalah memberikan nun (pada suaranya, bukan tulisannya).

Tanwin menurut istilah

Arti tanwin menurut istilah kurang lebih: nun zaidah (tambahan) dan mati yang berada di akhir kalimah dari segi ucapannya, tapi tidak terlihat dari segi tulisannya.

Jadi tanwin selalu berada di akhir kalimah (kata), tidak mungkin di tengah atau awal kalimah.

10 Jenis Tanwin Dalam Ilmu Nahwu Bahasa Arab Dan Contohnya

Salah satu ciri-ciri kalimah isim adalah adanya tanwin.

Namun, dalam pelajaran bahasa arab lanjutan, ternyata bukan hanya kalimah isim saja yang bisa menerima tanwin.

Berikut ini pembagian tanwin dalam ilmu nahwu selengkapnya:

10 jenis tanwin dalam ilmu nahwu bahasa arab
10 jenis tanwin dalam ilmu nahwu bahasa arab

#1.Tanwin Tamkin

Tanwin tamkin adalah tanwin yang ada pada kalimah isim mu’rab yang munsharif (dapat menerima tanwin), selain jamak muannats salim dan isim yang sejenis dengan lafadz جوار dan غواش.

Contohnya adalah kalimah: شَهْرٌ، زَيْدٌ، جَاهِلٌ.

Kalimah isim sendiri ada yang

  • mu’rab (dapat berubah akhir katanya, bisa dii’rab), dan
  • ada yang mabni (tetap).

Contoh isim mabni:

  • isim dhamir: هو، هما، هم dst.
  • isim maushul, contohnya: الذي.
  • isim isyarah, contohnya: هٰذَا

Tanwin yang masuk kepada isim mu’rab, bukan isim mabni, dinamakan tanwin tamkin.

Baca juga: contoh isim mutsanna.

#2. Tanwin Tankir

Tanwin tankir adalah tanwin yang pantas disematkan ke isim-isim mabni dengan tujuan untuk membedakan antara ma’rifah dan nakirah dari kalimah tersebut.

  • Yang ma’rifah = yang tidak bertanwin.
  • Yang nakirah = yang bertanwin.

Contohnya: Untuk membedakan antara Imam Sibawaih Ahli Nawhu dengan Sibawaih lain.

مَرَرْتُ بِسِبَوَيْهِ وَبِسِبَوَيْهٍ آخَرَ

Aku telah berjumpa dengan Sibawaeh (Ahli Nahwu) dan Sibawaeh yang lain (bukan Sang Ahli Nawhu).

#3. Tanwin Muqabalah

Tanwin muqabalah berati tanwin hadapan, yaitu hadapan dari Jamak Mudzakkar Salim, karena tanwin ini masuk ke dalam Jamak Muannats Salim.

Contohnya ada di dalam Al Quran Surat 66 Ayat 5:

عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُۥٓ أَزْوَٰجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَٰتٍ مُّؤْمِنَٰتٍ قَٰنِتَٰتٍ تَٰٓئِبَٰتٍ عَٰبِدَٰتٍ سَٰٓئِحَٰتٍ ثَيِّبَٰتٍ وَأَبْكَارًا

Yang merupakan hadapan dari jamak mudzakkar salim: مسلمون، مؤمنون، قانتون، تا ئبون، عابدون، سا ئحون، ثيّبون.

Baca juga: Pengertian Isim Mufrod.

#4. Tanwin Iwadh

Tanwin i’wadh adalah tanwin pengganti, yang terdiri dari 3 jenis:

a. ‘Iwadh ‘anil jumlah

Tanwin iwadh sebagai pengganti jumlah yaitu tanwin yang pantas disematkan ke lafadz إذ sebagai pengganti dari Jumlah setelahnya.

Contohnya di Al Quran:

Surat At-takatsur ayat 8:

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

yang artinya: “kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)”.

Yaumaidzin = pada hari itu, itu apa? Nah inilah jumlah yang dibuang, diganti dengan tanwin di lafadz idz.

Yaitu hari saat kamu melihat neraka Jahim dengan mata kepala sendiri.

b. ‘Iwadh ‘anil ismi

Tanwin pengganti kalimat isim yaitu tanwin yang pantas disematkan ke kalimah كُلُّ, sebagai pengganti dari kalimah dengan kedudukan mudhaf ilaih.

Lafadz كُلُّ sendiri pasti membutuhkan mudhaf ilaih, dan jika mudhaf ilaihnya tidak ada, maka harus ditanwin.

Tanwin ini yang dinamakan tanwin iwadh sebagai pengganti kalimah isim.

Contohnya di dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 16:

كُلٌّ لَّهُۥ قَٰنِتُونَ

Semuanya tunduk kepadaNya”.

Maksudnya semua yang ada di langit dan di bumi.

Susunan kalimat (كُلُّ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) diganti dengan كُلٌّ.

Contoh lainnya:

  • Surat Al Baqarah ayat 285: كُلٌّ ءَامَنَ بِالـلَّـهِ.
  • Surat Ali Imran ayat 7: كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا.
  • Surat 6 ayat 85: وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ .

c. ‘Iwadh ‘anil harfi

Yaitu tanwin pengganti huruf yang pantas disematkan kepada lafadz جوار dan غواش dan lain-lain sejenisnya (isim mu’tal akhir yang ghairu munshorif ), pada keadaan I’rab Rafa’ dan Jarrnya.

Jadi hanya berlaku dalam keadaan rafa’ dan jer saja.

Contohnya, di Al Quran pada Surat Al A’raf Ayat 41:

لَهُم مِّن جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِن فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلظَّٰلِمِينَ.

Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim“.

Lafadz غَوَاشٍ pada ayat tersebut aslinya adalah غَوَاشِي.

Tanwin ‘iwadh menggantikam huruf ya’ yang ada di akhir lafadz/kalimah ghawasyiy.

Contoh lainnya:

  • Surat Thaha ayat 72: فَٱقْضِ مَآ أَنتَ قَاضٍ.

Asal dari kata قَاضٍ adalah قَاضِي dalam kondisi nakirah dan majrur. Lalu huruf ya diganti dengan tanwin.

Baca juga: contoh isim mufrod.

#5. Tanwin Tarannum

Yaitu tanwin yang bertemu qafiyah muthlaqoh (akhir bait yang hidup), karena bertemu huruf ilat.
Contoh:

ﺃَﻗِﻠِّﻲ ﺍﻟﻠَّﻮْﻡَ ﻋَﺎﺫِﻝَ ﻭَﺍﻟْﻌِﺘَﺎﺑَﻦْ # ﻭَﻗُﻮْﻟِﻲ ﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺒْﺖُ ﻟَﻘَﺪْ ﺃَﺻَﺎﺑَﻦْ

“Sedikitkan wahai perempuan mencela dan menyalahkan kepada Adzil dan katakanlah jika aku benar berarti ia juga benar.”

Kalimah العِتَابَنْ dan أَصَابَنْ berasal dari kalmah العِتَابَا dan أصَابَا kemudian huruf alif diganti dengan tanwin untuk meninggalkan taronnum (membaguskan dan meliuk-liuknya suara).

Tanwin taronnum ini letaknya ada di akhir bait.

#6. Tanwin Ghali

Tanwin gholi adalah tanwin yang bertemu Qofiyah Al-Muqoyyad (akhir bait yang hurufnya berupa huruf shohih yang mati).

Contoh ungkapan penyair sebagai berikut:

وَ قَاىِٔمِ الأَعْمَقِ خَاوِي المُحتَرقَنْ * مُشْتَبِهِ الأَعْلاَمِ لَمَّاعِ الخَفْقَنْ

“Banyak sekali tempat yang tak seorang pun bisa menempuhnya karena banyak keserupaan dan tidak jelasnya. Namun untaku mampu menempuh dan menemukannya.” (Ru’bah bij Ujaj).

Kalimah المُحتَرقَنْ berasal dari kalimah المحتَرقْ dan kemudian di akhir kalimah diberikan tambahan nun liwazni, yaitu nun untuk menyesuaikan wazan, menjadi المُحتَرقْنْ.

Kemudian, agar tidak ada dua huruf mati berhadapan (المُحتَرقْنْ), huruf qaf diberikan harakat fathah, sehingga dibaca المُحتَرقَنْ .

#7. Tanwin Ziyadah

Tanwin ziyadah adalah tanwin yang bertemu dengan isim ghairu munsharif (isim yang tidak menerima tanwin) dengan tujuan untuk penyerasian.

Disebut juga dengan tanwin munasabah.

Contohnya: Dalam suatu Qiraat, yaitu qiraat Imam Nafi’, lafadz سَلَاسِلَا وَاَغْلًالًا dibaca dengan سَلَاسِلًا وَاَغْلًالًا.

سَلَاسِلًا dibaca dengan tanwin untuk menyesuaikan dengan lafadz وَاَغْلًالًا yang ditanwin.

#8. Tanwin Hikayat

Tanwin hikayah adalah tanwin yang dihikayahkan sesuai dengan adanya lafadz.

Contohnya Kalimat قَلَتْ عَاقِلَةٌ.

Baca juga: isim jamak.

#9. Tanwin Dharurat

Tanwin dharurah yaitu tanwin yang bertemu munada mabni, baik rafa’ atau nashab. Munada adalah isim yang dipanggil.

Contoh:

  • Mabni rafa’: سَلاَمُ اللّٰهِ يَا مَطَرٌ عَلَيْهَا * وَ لَيْسَ عَلَيْكَ يَا مَطَرُ السَّلَامُ
  • Mabni nashab: يَاعَدَيًّا لَقَدْ وَقَتْكَ الَّاوَاقِي

#10. Tanwin Syadz

Tanwin syadz dinamakan juga ia dengan Tanwinut taksir atau Tanwinul hamzi.

Tanwin syadz yaitu tanwin yang bertemu dengan sebagian isim mabni berfaidah yang menunjukan makna banyak.

Contohnya ungkapan orang arab, هَؤُلاَءٍ قَوْمُكَ .

Ini semua adalah kaum kamu.

Lafadz ‘haula’i dibaca tanwin hamzahnya yang ada di akhir sebagai bacaan syadz (cacat).

Kesimpulan

Di dalam pembahasan ilmu nahwu, 4 tanwin yang menjadi tanda dari kalimah isim adalah:

  1. tanwin tamkin.
  2. tanwin tankir.
  3. tanwin muqobalah.
  4. tanwin iwadh.

Selain 4 jenis tanwin di atas, tidak menjadi ciri khas dari kalimah isim.

Kembali ke materi utama: Nahwu Sharaf.

Demikian 10 Jenis Pembagian Tanwin di Dalam Ilmu Nahwu Bahasa Arab beserta Contohnya. Jika ada kesalahan, mohon dikoreksi. Baca juga: 5 Hukum Nun Mati Dan Tanwin.