Beranda » Agama » Bahasa Arab » Nahwu » Pengertian Fi’il Majhul Dan Fi’il Ma’lum, Rumus, Dan Contohnya

Pengertian Fi’il Majhul Dan Fi’il Ma’lum, Rumus, Dan Contohnya

gambar pembagian fiil majhul dan fiil ma'lum
<

jumanto.com – Fi’il Majhul Dan Fi’il Ma’lum. Mengapa kita perlu tahu apakah suatu fiil itu termasuk al-majhul atau al-ma’lum? Karena kita perlu tahu, isim yang jatuh setelahnya apakah berstatus sebagai Fa’il atau Naibul Fa’il. Di dalam analisis teks berbahasa arab, saat menemukan suatu kalimat adalah kalimat fi’il, maka salah satu pertanyaan yang harus muncul adalah apakah kalimat fiil tersebut merupakan kalimat aktif atau pasif (ma’lum atau majhul).

Setiap kita bertemu dengan kalimat fiil, pertanyaan seperti ini pasti akan muncul, apakah ia masuk dalam kaidah majhul atau tidak, dan jika tidak masuk, maka dia termasuk fiil ma’lum.

Majhul dan ma’lum sendiri sebenarnya bisa dipahami dengan mudah dengan mentranslate arti kalimat tersebut ke dalam bahasa Indonesia.

Contohnya:

  • membaca bahasa arabnya قَرَأَ, karena artinya aktif (me-), maka ini adalah fiil ma’lum.
  • dibaca bahasa arabnya adalah قُرِأَ, karena artinya pasif (di-), maka ini adalah fiil majhul.

Definisi sederhananya adalah seperti itu.

Pengertian Fiil Majhul dan Fiil Ma’lum Dalam Ilmu Nahwu

Perbedaan antara fiil majhul dan ma’lum sebagai berikut:

[sc_fs_faq html=”true” headline=”h3″ img=”” question=”Apa Itu Fi’il Majhul?” img_alt=”” css_class=””] Fiil Majhul adalah fi’il yang menunjukkan arti pasif serta mengikuti kaidah majhul yang akan diterangkan di bawah nanti [/sc_fs_faq] [sc_fs_faq html=”true” headline=”h3″ img=”” question=”Apa Itu Fi’il Ma’lum?” img_alt=”” css_class=””] Fiil ma’lum adalah fiil yang menunjukkan arti aktif dan tidak diikutkan dengan kaidah majhul. [/sc_fs_faq]

Gimana, cukup mudah dipahami bukan?

Kaidah Fi’il Majhul

Kaidah Majhul hanya berlaku bagi fiil madhi dan fiil mudhari.

Sedangkan fiil amr tidak bisa mengikuti kaidah ini.

1. Majhul untuk Fi’il Madhi

Kaidah majhul untuk fi’il madhi juga dibedakan lagi, untuk fiil yang mujarrad dan fiil yang mazid fiih.

a. Fiil mujarrad

Fiil mujarrad adalah fi’il yang bentuk madhinya masih berupa huruf asli belum mendapatkan huruf tambahan.

Cara membuat fiil majhul dari fiil madhi mujarrad adalah dengan kaidah:

ضُمَّ اَوَّلُهُ وَكُسِرَ مَا قَبْلَ الْاَخِرِ

Harakat huruf awalnya didhommah, dan harakat huruf sebelum akhir di kasrah.

Contohnya:

  • fiil tsulatsiy: bentuk aktifnya adalah قَرَأَ, lalu huruf awalnya kita jadikan dhommah, menjadi قُرَأَ, selanjutnya huruf sebelum akhir yaitu ra’ kita harakati kasrah, menjadi قُرِأَ.
  • fi’il ruba’i mujarrad: bentuk aktifnya adalah دَحْرَجَ, lalu kita jadikan majhul dengan mengganti harakat menjadi dhommah pada huruf awalnya, menjadi دُحْرَجَ, dan huruf sebelum akhir yaitu huruf ra’ diganti menjadi kasrah sehingga menjadi دُحْرِجَ.

Contoh di Al Quran yang paling sering kita dengar adalah di Surat Al Baqarah, dalil tentang Puasa Ramadhan, di situ ada kata: كُتِبَ yang merupakan bentuk majhul dari كَتَبَ.

b. Fiil mazid

Fiil mazid adalah fiil yang bentk madhinya telah menerima tambahan, seperti عَلِمَ menjadi تَعَلَّمَ.

Kaidah majhul yang berlaku bagi fiil madhi mazid adalah:

ضُمَّ كُلُّ مُتَحَرِّكٍ وَكُسِرَ مَا قَبْلَ الْاَخِرِ

Semua huruf yang herharakat (kecuali huruf terakhir) diharakati dhammah, dan huruf sebelum akhir diharakati kasrah.

Contohnya:

  • Bentuk aktifnya adalah تَعَلَّمَ, lalu dijadikan majhul dengan menjadikan semua huruf berharakat menjadi harakat dhommah, menjadi تُعُلَّمَ, selanjutnya huruf sebelum akhir yaitu huruf lam diharakati kasrah sehingga menjadi تُعُلِّمَ.

Catatan: Fiil majhul hanya bisa dibentuk dari fiil yang membutuhkan objek.

2. Majhul untuk Fiil Mudhari’

Kaidah majhul untuk fiil mudhori’ berbeda dengan fiil madhi.

Cara membentuk fiil majhul dari fiil mudhari’ ma’lum adalah:

ضُمَّ اَوَّلُهُ وَفُتِحَ مَا قَبْلَ الْاَخِرِ

Huruf awalnya diharakati dhammah dan huruf sebelum akhir diharakati fathah.

Baik mujarrad maupun mazid, kaidahnya sama saja.

Contohnya:

  • mujarrad: bentuk ma’lumnya adalah يَقْرَأُ, lalu kita ubah harakat huruf awal menjadi dhammah, menjadi يُقْرَأُ, dan hurf sebelum akhir berharakat fathah, sehingga tetap يُقْرَأُ.
  • mujarrad: يَضْرِبُ, harakat huruf awal ubah jadi dhommah, menjadi يُضْرِبُ, lalu harakat huruf sebelum akhir yaitu ra ubah menjadi fathah, menjadi يُضْرَبُ.
  • mazid, contohnya: يَسْتَغْفِرُ, menjadi يُسْتَغْفَرُ.

Silakan berlatih lagi agar makin mahir saat harus mengubah dari ma’lum menjadi majhul.

Fi’il Ma’lum

Setiap kalimat fiil yang tidak memenuhi kaidah majhul dinamakan dengan fiil ma’lum.

Fii’il ma’lum bisa juga didefinisikan sebagai fiil yang disebutkan fa’ilnya di dalam kalam.

Berbeda dengan fiil majhul yang tidak disebutkan fa’ilnya, hanya disebutkan maf’ul bihnya yang kemudian diposisikan sebagai pengganti fa’il (naibul fa’il).

Contoh fiil ma’lum adalah seperti tabel tashrif yang pernah saya bagikan, atau bisa kalian lihat di bawah ini.

Tashrifan fiil ma’lum bentuk madhi

tashrif fi'il madhi lengkap
tashrif fi’il madhi lengkap

Tashrifan fiil ma’lum bentuk mudhari

tabel tashrif fi'il mudhari' lengkap dengan artinya
tabel tashrif fi’il mudhari’ lengkap dengan artinya

Jika ingin mengubah ke bentuk majhul dari tashrifan lughawi di atas, silakan gunakan kaidah yang telah saya sebutkan di atas baik untuk madhi maupun mudhari’.

Isim Yang Jatuh Setelah Fiil Ma’lum: Fa’il

Isim yang jatuh setelah fiil ma’lum dinamakan dengan Fa’il dan hukum i’rabnya dibaca rofa’

Contohnya di dalam Al Quran:

Surat Al Baqarah ayat 7

خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ

(Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka).

Lafadz اللّٰهُ di situ menjadi Fa’il karena jatuh setelah fiil ma’lum dan hukum i’rabnya rofa’ dengan tandanya berupa dhommah karena berupa isim mufrad.

Juz 30 Surat Al Lahab

Surat pendek di Juz 30, surat Al Lahab ayat 1:

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ.

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia! 

Lafadz يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ yang merupakan susunan idhafah (mudhaf dan mudhaf ilaih) menjadi fa’il dari fiil ma’lum تَبَّتْ .

Di lafadz تَبَّ, kalimat terakhir dari ayat ini, di situ juga terdapat fa’il berupa dhamir هُوَ yang tersimpan.

Sehingga jika diterjemahkan, lafadz تَبَّ adalah celaka (dia). Dianya kembali ke Abu Lahab, makanya tidak menggunakan ta ta’nis sakinah, karena isim mudzakkar.

Berbeda dengan يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ yang dianggap muannats oleh orang Arab sehingga lafadz تَبَّ ditambahkan ta ta’nis sakinah menjadi تَبَّتْ .

Baca juga: perbedaan isim fiil dan huruf.

Isim Yang Jatuh Setelah Fiil Majhul: Naibul Fa’il

Fiil majhul tidak pernah menyebutkan failnya, yang disebutkan adalah maf’ul bihnya, yang kemudian diposisikan sebagai pengganti fa’il (naibul fail) dan dibaca rofa‘.

Berbeda dengan bahasa Indonesia, perubahan kalimat aktif ke pasif tidak membuang subjek/pelaku/fa’ilnya.

Contoh.

Zaid membaca buku, jika di pasifkan menjadi Buku dibaca Zaid.

Tapi dalam bahasa arab:

قَرَأَ زَيئدٌ الْكِتَابَ jika diubah menjadi bentuk pasif akan menjadi قُرِأَ الْكِتَابُ. Lafadz زَيئدٌ tidak ditampilkan lagi.

Inilah keunikan bahasa arab.

Kenapa fail atau pelakunya tidak ditampilkan?

Alasannya bisa karena untuk meringkas, menyandarkan kepada cerdasnya pendengar, sudah diketahui pelakunya, tidak diketahui pelakunya, khawatir kepadanya, takut kepadanya, dan alasan lainnya.

Oleh karena itu fail dibuang dan diganti dengan objek (maf’ul bih) yang diposisikan menjadi naibul fail.

Contohnya di dalam Al Quran.

خُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيْفًا

Manusia telah diciptakan dalam keadaan lemah.

Di sini Failnya dibuang karena sudah diketahui pelakunya, yaitu Allah.

خُلِقَ adalah fiil majhul karena memenuhi kaidah majhul dan الْإِنْسَانُ  adalah isim yang dibaca rofa’ yang jatuh setelah fiil majhul dan itu dinamakan dengan NAIBUL FA’IL.

Baca juga: Contoh kalimat isim mutsanna.

Kesimpulan

  • Fiil majhul = kata kerja pasif
  • Fiil ma’lum = kata kerja aktif
  • Fiil majhul hanya bisa dibentuk dari fiil ma’lum yang membutuhkan objek (muta’addi).
  • Jika fiil tidak memenuhi kaidah majhul, maka dia disebut fiil ma’lum.

Kembali ke halaman utama: panduan nahwu shorof.

Demikian penjelasan lengkap mengenai pengertian, tanda-tanda, kaidah, pembagian dan contoh fi’il majhul dan fiil ma’lum. Baca juga: Apa yang dimaksud dengan isim?