Beranda » Agama » Bahasa Arab » Nahwu » Penjelasan Lengkap Fiil Amr Dalam Ilmu Nahwu (Rumus, Pengertian, I’rab)

Penjelasan Lengkap Fiil Amr Dalam Ilmu Nahwu (Rumus, Pengertian, I’rab)

pengertian, tasrif, i'rab dan rumus fiil amr

jumanto.com – Pengertian Fiil Amr, Rumus Cara Membuat Fiil Amr, Contoh, Dan I’robnya. Fi’il amr adalah salah satu pembagian jenis kalimat fi’il berdasarkan waktunya. Ada 3 macam fi’il berdasarkan keterkaitan dengan waktu yaitu fiil madhi, mudhari’, dan amar.

Di materi kali ini, kita akan belajar pengertian fi’il amr, rumus cara membuat fi’il amr dari fi’il mudhari’, contohnya di dalam Al Quran atau kamus, dhomirnya, dan ciri-cirinya.

Baca juga: Contoh Fi’il Amr Di Juz 30.

Pengertian Fiil Amr

Di dalam kitab ja’miud durus al ‘arabiyah karya Syekh Mushthofa Al Ghulayaini, di sebutkan bahwa fi’il amr adalah kata yang menunjukkan kepada permintaan berlangsungnya pekerjaan dari Subjek Orang Kedua (mukhotob) tanpa menggunakan Lam Amr.

‘Ibarah mengenai pengertian fi’il amr di dalam kitab tersebut sebagai berikut:

والأمر ما دلَّ على طلب وقوعِ الفعل من الفاعل المخاطب بغير لام الأمر، مثل “جِيءْ واجتهدْ وتعلَمْ”

Dari sini kita tahu bahwa fi’il amr di tujukan kepada orang ke 2 yaitu kamu, kamu berdua, dan kalian baik laki-laki maupun perempuan.

Fiil amar sendiri diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai kata kerja perintah.

Perintah sendiri memang diberikan kepada orang kedua atau orang yang diajak berbicara.

Dan perintah itu diberikan untuk pekerjaan yang dikerjakan di waktu mendatang (istiqbal).

Baca juga: tanda-tanda fi’il.

Rumus Cara Membat Fiil Amr Dari Fi’il Mudhori’

Rumus fi’il amr sendiri pernah saya singgung secara singkat di artikel: fiil madhi, mudhari’, dan amr.

Nah, di kesempatan kali ini, akan kita perdalam lagi bagaimana cara membuat fi’il amr dari bentuk mudhari’nya.

Ada 3 rumus yang perlu kita kuasai agar bisa membuat fi’lul amri dari fi’il mudhari’:

1. Rumus fiil amr untuk yang shahih akhir walam yattashil biakhirihi syaiun

Fi’il الصحيح الاخر ولم يتّصل بأخره شٌ adalah fi’il yang huruf akhirnya tidak berupa huruf illat (واي) dan tidak bersambung dengan sesuatu lainnya, yaitu:

  • alif tatsniyah.
  • wawu jama’.
  • ya muannats mukhotobah.
  • nun taukid.
  • nun niswah.

Contohnya: lihat tabel tashrif kataba – yaktubu yang pernah saya buat ini:

tabel tashrif fi'il mudhari' lengkap dengan artinya
tabel tashrif fi’il mudhari’ lengkap dengan artinya
  • يَكْتُبُ
  • تَكْتُبُ
  • اَكْتُبُ
  • نَكْتُبُ

Adalah fi’il shahih akhir yang tidak bersambung dengan sesuatu.

Rumus Cara membentuk fi’il Amr dari fi’il shahih jenis ini adalah:

  1. buang huruf mudhara’ahnya, contoh: يَكْتُبُ kita buang ya’ mudhara’ahnya menjadi كْتُبُ.
  2. huruf akhirnya kita sukun: كْتُبُ menjadi كْتُبْ.
  3. jika masih belum bisa dibaca, kasih hamzah washal atau hamzah qotho’, contohnya: كْتُبْ kita tambah hamzah menjadi اكْتُبْ (dibaca uktub).

Latihan

Coba kalian bentuk sendiri fi’il amr dari kata berikut:

  • dzahaba – yadzhabu: يَذْهَبُ.
  • qoroa – yaqrou: يَقْرَأُ.

Jawaban:

fi’il amr dzahaba: اذْهَبْ (baca idzhab) yang artinya pergilah!

fi’il amr membaca: اقْرَأْ (baca Iqra’) yang artinya bacalah!

Baca juga: tashrif jalasa.

2. Rumus Fiil Amr untuk mu’tal akhir walam yattashil biakhirihi syaiun

Fi’il المعتلّ الاخر ولم يتّصل بأخره شٌ adalah fi’il yang huruf akhirnya berupa huruf illat (واي) dan tidak bersambung dengan sesuatu lainnya (yaitu seperti telah disebutkan di bagian A di atas).

Contohnya adalah: يَرْمِى.

Rumus fi’il amr untuk fi’il mu’tal akhir sebagai berikut:

  1. buang huruf mudhara’ahnya menjadi: رْمِى.
  2. buang huruf akhirnya, menjadi: رْمِ.
  3. beri hamzah washal atau hamzah qotho’ jika belum bisa dibaca, contoh: ارْمِ (baca: irmi).

Baca juga: beda jalasa dan qo’ada yang artinya duduk.

3. Rumus fiil amr untuk Af’alul Khomsah

Af’alul khomsah adalah fi’il mudhari’ yang bertemu dengan:

  • alif tatsniyah.
  • wawu jama’.
  • ya muannats mukhotobah.

Sebagai contoh, coba lihat kembali tabel tashrif mudhari’ kataba di atas:

  • alif tatsniyah: يَكْتُبَانِ, تَكْتُبَانِ,
  • wawu jama’: يَكْتُبُوْنَ, تَكْتُبُوْنَ.
  • ya muannats mukhotobah: تَكْتُبِيِنَ.

Kali ini kita akan mencoba membuat fi’il amr dari kata belajar (تَعَلَّمَ – يَتَعَلَّمُوْنَ)

Rumus pembentukan fi’il amar dari af’alul khomsah sebagai berikut:

  1. huruf mudhoro’ahnya dibuang, contoh: يَتَعَلَّمُوْنَ menjadi تَعَلَّمُوْنَ.
  2. buang huruf nun yang ada di akhirnya menjadi: تَعَلَّمُوْ.
  3. jika belum bisa dibaca, kasih hamzah washal atau hamzah qotho’, tapi kalau sudah bisa dibaca, tidak perlu. contoh di sini sudah bisa dibaca, sehingga fi’lul amri dari kata belajar adalah ta’allamuu (تَعَلَّمُوْ) yang artinya belajarlah (kamu semua laki-laki)!

Hamzah Washal dan Hamzah Qotho’ Pada Fiil Amr

Hamzah washol

Pengertian hamzah washol adalah hamzah yang hanya terbaca saat di awal kalimah dan tidak terbaca apabila sebelumnya disambung dengan kalimah lain.

Letaknya ada di:

  • fi’il tsulatsi, khumasi, dan sudasi, contohnya: اِضْرِبْ، اِخْتَلَفَ، اِسْتَغْفَرَ.
  • isim-isim yang didahului al, contohnya: الحَمْدَ، الْفَاتِحَةُ.
  • isim-isim lain misalnya: ابْنٌ، امْرِئٌ.

Hamzah qatha’

Hamzah qotho’ adalah hamzah yang tetap terbaca baik di awal kalimah maupun disambung dengan kalimah lainnya.

Hamzah qatha’ ada pada fi’il ruba’i pada shighat af’ala, contohnya:

  • madhi: أَحْسَنَ.
  • mashdar: إِحْسَانٌ.
  • amr: أَحْسِنْ.

Tashrif Berdasarkan Dhamirnya: Anta, Antuma, Antum, Anti, Antuma, Antunna

Dengan melihat rumus di atas, sebenarnya kita bisa membuat sendiri tashrif lughawi fi’il amr berdasarkan dhamirnya.

Contoh dari kata ‘allama – yu’allimu – ‘allim (عَلَّمَ – يُعَلِّمُ – عَلِّمْ)

  • fiil amr anta: عَلِّمْ. ajarkanlah ! (kamu laki-laki satu).
  • fiil amr antuma: عَلِّمَا. ajarkanlah ! (kamu laki-laki/perempuan dua).
  • fiil amr antum:عَلِّمُوْا  ajarkanlah ! (kamu laki-laki banyak).
  • fiil amr anti: عَلِّمِى. ajarkanlah ! (kamu perempuan satu).
  • fi’il amr antunna: عَلِّمْتُنَّ. ajarkanlah ! (kamu perempuan banyak).

Baca juga: contoh fiil amr dalam Al Quran.

I’rob Fi’il Amr

Berdasarkan i’robnya, Fi’il dibedakan menjadi fiil mabni dan mu’rab.

Fi’il amr ini masuk ke dalam kategori fiil mabni yang artinya harakat akhir dari fi’il amr bersifat tetap, tidak berubah, meskipun ada ‘amil yang masuk kepadanya.

Ciri-ciri Fi’il Amr

Fi’il amr selalu dalam keadaan sukun jika tidak kejatuhan dhamir alif tatsniyah, wawu jamak, dan ya mukhotobah.

Contohnya:

  • fi’il amr dzahaba: اِذْهَبْ yang artinya pergilah kamu laki-laki.
  • fi’il amr membaca اِقْرَأْ yang artinya bacalah kamu laki-laki
  • fi’il amar dari kataba اُكْتُبْ yang artinya tulislah.
  • fi’il amar fa’ala اِفْعَلْ yang artinya kerjakanlah
  • fi’il amr akala adalah كُلْ yang artinya makanlah
  • fi’il amr duduk اِجْلِسْ yang artinya duduklah
  • fiil amr dari fataha فتح yaitu اِفْتَحْ yang artinya bukalah

Beda halnya jika kejatuhan dhomir alif tatsniyah, wawu jamak, dan ya mukhotobah, contohnya:

  • wawu jamak: اِفْتَحُوْا
  • alif tatsniyah: اِفْتَحَا
  • ya mukhotobah: اِفْتَحِي

Kesimpulan

  • Fi’il amar adalah fi’il yang menunjukkan perintah atau permintaan.
  • Fi’il amr adalah perubahan dari fi’il mudhari’ menggunakan 3 rumus di atas (pilih mana yang sesuai, dan sebenarnya masih ada rumus lainnya untuk fiil mu’tal, insya Allah kita tulis di artikel lain).
  • hamzah pada fiil amr merupakan hamzah washal atau hamzah qatha’.
  • tasrif lughawi fi’il amr berlaku untuk dhamir anta, antuma, antum, anti, antuma dan antunna.

Demikian materi Fiil Amr: Pengertian, Rumus Cara Membentuk, I’rab, dan Tashrif. Kembali ke materi utama: nahwu shorof dasar.