Tuesday, May 1, 2018

author photo
jumanto.com - Lidah tak bertulang, sudah sering denger kan? Jika lidah ini bertulang, mungkin bakalan susah kali ya mau ngomong, kaku rasanya. Karena lidah gak bertulang inilah, makanya orang bisa ngomong ceplas-ceplos tanpa dipikir terlebih dahulu efek ke belakangnya.

Sudah berapa kali kita saksikan seseorang hancur dan menjadi hina karena lidah tak bertulang?

Contoh paling nyata adalah kasus seorang Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama. Seseorang yang elektabilitasnya paling tinggi dan paling digadang-gadang jadi calon terkuat untuk menjadi Gubernur DKI saat itu.

Sudah wataknya beliau yang ceplas-ceplos dengan omongan yang memang mungkin cenderung membuat bawahannya tidak suka, beliau akhirnya gagal total dan malah masuk ke penjara.

Hanya satu kalimat, dan semua bisa merubah situasi.

Tidak hanya gagal jadi Gubernur, tapi juga didemo jutaan orang yang sebagian ada kepentingan politik di dalamnya dan memanfaatkan situasi ini, dan berakhir dengan jeruji besi.

Pun halnya dengan kasus Soekmawati, dengan puisinya yang mengguncang umat muslim di tanah air.

Dari lidah, sesama manusia bisa saling bermusuhan. Dari lidah, sesama manusia bisa saling membenci. Dari lidah, sesama manusia bisa saling berperang. Dari lidah, kita bisa menimbulkan luka pada diri seseorang yang tidak akan bisa diobati sampai dia meninggal dunia.

Maka ada perkataan baik yang perlu kita jadikan pelajaran:
Luka karena pedang, mudah diobati. Begitu kering, sembuh. Tapi, luka karena lisan, dia bisa bertahan selama-lamanya dan tidak bisa disembuhkan.

Menjadi Pimpinan Semestinya Bisa Menjaga Lidah yang Tak Bertulang


Berapa banyak pejabat di negeri ini yang tidak arogan? Berapa banyak pejabat di negeri ini yang tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi? Berapa banyak pejabat di negeri ini yang seperti Sayyidina 'Umar RA?

Berapa banyak pejabat di negeri ini yang bekerja untuk rakyat?

Apakah pejabat bekerja untuk kepentingan rakyat, atau dia malah bekerja hanya untuk kepentingan organisasi? Atau malah bekerja untuk kepentingan pribadi, prestise pribadi, ambisi pribadi?

Tapi saya tidak mau membahas urusan itu, kita sudah sama-sama tahu kelakuan pejabat di negeri ini.

Saya cuma mau cerita pengalaman betapa luka karena lisan itu lebih membekas dibandingkan luka karena pedang.

Kejadian ini berlangsung kemarin, saat seorang Kasubag menelepon saya.

"Pak Jum, foto-foto hari kartini kemarin masih ada gak?"

"Masih ada Pak saya simpan di komputer saya".

"Ok Pak Jum, ke ruangan Ibu ya, ini dipanggil Ibu suruh ke ruangan".

Saya pun segera naik ke atas, masuk ke ruangan Ibu pimpinan tertinggi kantor.

Begitu saya masuk, seorang Kasubag ngasih tahu saya harus duduk di mana.

"Duduk di situ Pak Jumanto", katanya sambil menunjuk arah kursi.

Baru mau jalan ke tempat duduk, Ibu Pimpinan langsung bertanya dengan nada meninggi.

"Pak Jumanto bawa kamera gak? Saya gak butuh Pak Jumanto, saya butuhnya kamera".

Jleb!!!

Nusuk ke hati paling dalam.

Saya tahu nada ini.

lidah tak bertulang, sakitnya gak nahan

Dari kata-kata yang keluar, bener-bener langsung robek hati ini. Sama seperti sebelumnya saat saya dipanggil ke ruangan ini, kejadian ini berulang kembali.

Saya sih berusaha maklum saja, memang sudah seperti ini biasanya kata-kata yang keluar dari beliau, apalagi kalau lagi marah, kata-katanya menusuk.

Makanya enggan kalau ada pertemuan, kalau kena marah langsung menusuk tajam ke ulu hati.

Kawan-kawan di kantor pun banyak yang sudah merasakan tajamnya lidah tak bertulang dari seorang pimpinan.

Meskipun sudah berusaha memaklumi, rasa sakit hati tetap gak bisa hilang. Bener memang, sakitnya luka karena lidah memang gak bisa sembuh sepenuhnya.

Ya Allah, mudah-mudahan dalam bertutur kata, Engkau senantiasa menjaga lidahku agar tak menyakiti orang, karena lidah tak bertulang.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post