Saturday, September 3, 2016

Pantai Embe Sore Hari

Pantai Embe Kalianda sore hari - Kegiatan apa yang paling enak dilakukan di sore hari? Datang ke pantai, membawa anak istri, menikmati pasir putih yang halus, ditemani cahaya keemasan yang mendekati tenggelam, lalu berenang-renang di bawa ombak ke pinggiran, dan duduk-duduk menikmati mentari yang mulai kehilangan sinarnya.

Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

pantai embe kalianda
Mama dan Alya berlari di pasir putih yang halus menikmati pantai embe sore hari

Tidak dapat dipungkiri, sore itu begitu indah. Selepas sholat Ashar di Pantai Bagoes, kami langsung menyusuri kembali jalanan di Merak Belantung, berjalan pelan-pelan, sambil terus menengok ke kanan dan ke kiri menikmati pemandangan alam yang baru pertama kali kami nikmati.

Beberapa kali terlihat plang nama-nama pantai kami lewati, tapi berhubung pantai yang kami tuju belum ketemu, maka kami cuma sekedar lewat, sambil terus mencari.

Baru jalan sekitar beberapa menit, dengan pemandangan di sebelah kanan seperti aliran sungai berwarna hijau yang diam, beberapa orang sedang memancing ikan, kami lihat di depan kami ada Spanduk bertuliskan "Selamat Datang di Embe Beach".

Satu kalimat langsung terucap, "Ini dia Pantai Embe".

Kami langsung mengarahkan motor menuju lokasi, sempat berhenti sebentar di portal tiket masuk, untuk membeli tiket masuk. Melihat tidak ada siapa-siapa, kami pun langsung menuju tempat parkir kendaraan.

Harga Tiket Masuk Pantai Embe


Sebenarnya agak curiga juga, masa masuk ke pantai ini tidak ada yang jaga, dan tidak dipungut biaya. Padahal sebelumnya saya baca tiket masuk Pantai Embe sebesar 20 ribu rupiah.

Dan tidak lama berselang, benar, ada seorang satpam datang menuju ke arah kami. Saya pun segera menyambut satpam tersebut, dan langsung saja bertanya, "berapa harga tiket masuknya pak?".

"40 ribu rupiah mas".

"Ada tiket masuknya pak?", kembali saya tanya apakah kami dikasih dua lembar tiket atau tidak.

Jawabannya justru malah menyimpang, "Kalau gitu 30 ribu rupiah saja mas. Nanti kalau ada yang nanya, bilang saja sudah sama B**i.".

Wah, gelagat nih. Satpam ini mau main curang. Uang tiket masuk Pantai Embe mau masuk kantong pribadi, sehingga tidak mau memberikan dua lembar tiket masuk kepada kami.

Saya sendiri selalu meminta bukti pembayaran tiap ada tarikan dana, karena bukti itu menjadi alat kontrol bagi pihak penarik dana. Di terminal, jika ada retribusi, meskipun cuma seribu rupiah, saya tetap minta kertas retribusi, supaya uangnya tidak masuk kantong pribadi.

Namun, sore itu, males panjang lebar, saya kasih saja uang 30 ribu rupiah, dan kami pun segera menikmati pantai Embe yang cukup ramai.

Menemani Alya Mandi di Pantai Embe


Karena sudah kami janjikan, begitu sampai di Pantai Embe, saya dan Alya langsung mandi di Pantai berpasir putih ini. Banyak juga pengunjung yang sedang main air di tengah pantai.

Sebagian pengunjung terlihat juga memakai ban dan mengapung di tengah-tengah pantai yang dibatasi tali memanjang supaya pengunjung tidak melewati tali tersebut.

Lewat dari tali pembatas, kedalaman laut memang terus bertambah dan berbahaya bagi pengunjung kalau berenang melewatinya. Selain itu, tali ini juga berguna apabila pengunjung terseret ombak ke tengah.

Alya yang melihat orang-orang pada mandi, langsung kegirangan dan berlari lari di sepanjang pantai. Ombak di Pantai Embe ini mirip-mirip dengan ombak di Pantai Terbaya Kota Agung, tidak terlalu besar, tapi tidak tenang juga seperti pantai di Teluk Lampung.

bermain ombak pantai embe
Menggendong Alya menuju tengah pantai

Karena belum bisa renang, saya pun menggendong Alya menikmati ombak di pantai ini. Saya bawa Alya ke tengah, lalu merasakan gulungan ombak menghantam badan kami. Senang sekali rasanya bermain-main ombak bersama anak.

Sesekali, kami duduk-duduk di atas pasir di pinggiran pantai, lalu saat ombak datang, kami teriak-teriak kegirangan dan kemudian merasakan gulungan ombak menggeret badan kami ke pinggiran pantai. Alya benar-benar gembira bermain air di pantai ini.

Sesekali juga saya meledek Alya, saya tinggal Alya sendirian di pinggiran pantai, lalu saya berenang ke tengah pantai sendirian. Alya langsung teriak-teriak dan nangis sambil tangannya melambai-lambai dan kakinya meloncat-loncat, minta ikut di bawa ke tengah juga.

Alya ini memang sudah cinta sekali dengan laut dan kolam renang, meskipun di awal perkenalannya dengan ombak teriak-teriak ketakutan.

Seiring berjalannya waktu, dan seringnya kami ajak main di pantai, keberaniannya sudah tumbuh, meskipun masih belum bisa renang juga.

Sekitar 1 jam kami bermain-main di Pantai Embe ini, kami pun bergegas ke ruang bilas. Memandikan Alya terlebih dahulu di ruang bilas pria, lalu giliran saya membersihkan tubuh saya dari pasir-pasir yang menempel di badan.

Di dekat ruang bilas ada mushola dan tempat wudhu, bagi pengunjung yang ingin melaksanakan sholat lima waktu.

Sayangnya, saat kami kehausan, warung di Pantai Embe ini tidak ada yang buka, mungkin karena pengunjungnya tidak terlalu ramai.

Sebenarnya, sore itu, cukup ramai juga sih pengunjungnya, mobil juga cukup banyak, tapi ya jelas tidak seramai Pantai Mutun atau Sari Ringgung.

Banyak juga sih fasilitas di Pantai Embe ini yang kurang terawat dan tidak beroperasi saat kami berkunjung, seperti banana boat, kedai, dan pujasera.

Kalau berkunjung ramai-ramai bareng teman, asyik juga bisa main sepakbola atau voli di Pantai Embe ini karena ada lapangan bola dan voli di sebelah Kedai.

Menikmati Sore Pantai Embe


foto pantai embe
Foto Pantai Embe di sore hari

Setelah membilas badan dan ganti baju, kami tidak langsung pulang. Rasanya terlalu sayang kalau belum berkeliling pantai ini. Tapi terlalu lebar juga kalau dikelilingi semuanya.

Kami jalan menuju arena bermain anak, dan di sini ada beberapa alat bermain tradisional anak. Kalau kami di Purbalingga menyebutnya "smanda manda", kurang tahu kalau di Lampung menyebutnya apa.

Mama asyik duduk dan tiduran di kursi yang ada di kedai yang kosong tidak ada penjual dan pembelinya. Sedangkan Alya sesuai dengan kebiasannya, lari-lari kemudian duduk melihat pantai di bawah stand.

Saya asyik foto-foto mengambil keindahan pantai Embe Kalianda ini. Rasanya pengin bertahan sebentar lagi di sini, namun mengingat hari kian sore, mendekati maghrib, dan juga ini dareah baru bagi kami, kami pun memutuskan untuk segera bergegas munuju Hotel Kalianda, takut kemalaman.

Betapa berkesannya menghabiskan sore di Pantai Embe Kalianda.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.


EmoticonEmoticon