Monday, September 5, 2016

Ke Pulau Pahawang, Pulang Digoyang Gelombang

Pulau Pahawang Lampung, sebuah pulau yang cukup eksotis di Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Lampung, akhirnya dapat kami kunjungi di bulan Maret 2016 lalu, tepatnya pada tanggal 20 Maret 2016. Perjalanan ke Pulau Pahawang benar-benar perjalanan yang sangat berkesan, bukan cuma karena eksotismenya, tapi juga perjalanan pulang kami menuju daratan.

pulau pahawang lampung
Mama sedang main pasir di Pulau Pahawang Kecil

Saat berkunjung ke Pulau Pahawang ini, saya berangkat ramai-rami bersama teman kantor saya. Total ada sekitar 20 orang, termasuk saya, mama, dan Alya.

Beberapa orang membawa mobil pribadi, tapi saya lebih memilih menggunakan kendaraan roda dua, daripada harus menumpang mobil. Kalau numpang, rasanya kurang bebas. Kalau naik motor sendiri kan bisa berhenti semaunya, dan bisa jalan ke manapun semaunya.

Sempat muter-muter nyasar di Teluk Betung karena salah belok, akhirnya saya, mama, dan Alya bisa sampai juga di Dermaga Ketapang.

Kawan-kawan sudah sampai duluan di Dermaga, tidak lama sebelum saya sampai.

Saya langsung memarkir motor saya di tempat titipan motor, dan membayar biaya penitipan sebesar Rp10.000,- satu hari penuh.

Sewa Alat Snorkling dan Jaket Pelampung


Semua persiapan untuk menuju Pulau Pahawang ternyata sudah dihandle sama Kasubag Keuangan saya, Pak Purwanto. Beliau ini yang memesan kapal, mengatur keberangkatan, dan mendata penyewaan alat snorkling dan jaket pelampung.

Saya sendiri cuma memesan satu buah alat snorkling lengkap, dan dua buah jaket pelampung untuk Alya dan Mama. Sayangnya, jaket pelampung untuk Alya, meskipun ukurannya yang paling kecil, ternyata masih terlalu besar di badan Alya.

alya pakai jaket pelampung
Alya memakai jaket pelampung yang kebesaran

Yah, daripada tidak pakai sama sekali, lebih baik kebesaran.

Setelah semua lengkap, kami pun menuju dermaga di mana perahu-perahu penyeberangan sudah berjejer-jejer, bersiap mengantarkan penyewa ke Pulau Pahawang.

Karena rombongan kami jumlahnya sekitar 20 orang, maka rombongan kami bagi menjadi dua dengan menggunakan dua perahu penyeberangan.

naik ke perahu pawahang
Gantian turun naik ke perahu

Di perahu kami, ada Kasubag Keuangan saya beserta istri dan anaknya, saya, mama, Alya, Bendahara, Dewi, Hani dan Suaminya serta anaknya yang masih bayi. Masih bayi loh sudah dibawa ke Pahawang ^_^.

Tidak menunggu lama, perahu pun segera berangkat. Perahu kami berjejeran dengan perahu rombongan kami yang satunya.

Ombak cukup tenang, membuat perjalanan kami terasa nyaman. Buih-buih air laut yang terhantam badan perahu berhamburan ke atas, berwarna putih cantik. Pulau-pulau di sekitar Pulau Pahawang pun mulai terlihat jelas.

pertengahan perjalanan
Perjalanan menuju Pulau Pahawang

Perjalanan 40 menit, akhirnya kami sampai di Pulau Pahawang Besar, dekat denga Villa Kudus. Perahu yang kami naiki memberhentikan kami di tengah lautan, tidak jauh dari pantai sebenarnya.

Oh Nikmatnya ....


Begitu melihat air laut yang begitu jernih, dan ikan-ikan yang berenang-renang di bawah laut, saya tak tahan untuk tidak terjun ke laut. Saat perahu sudah benar-benar berhenti, saya pun langsung terjun ke air tanpa menggunakan pelampung.

Masa kecil saya, saya habiskan di Sungai Serayu, di Purbalingga sana. Karena tiap hari mandi di sungai, renang bukanlah sesuatu yang sulit bagi saya. Berenang di lautan tanpa menggunakan pelampung pun bukan masalah bagi saya, karena sudah terbiasa renang dari kecil.

Air laut yang kelihatannya dangkal, begitu saya nyemplung, ternyata dalam juga. Kedalamannya sekitar 3 meter.

Alya yang melihat saya berenang, tak tahan juga ingin berenang. Mama yang tidak bisa renang pun pengin mencoba terjun ke air juga.

Akhirnya mama dan Alya berenang berpegangan pada bambu penyeimbang perahu, menggunakan pelampung. Awalnya agak takut-takut, lama- kelamaan berani renang sendiri melihat keindahan ikan yang berenang-renang berwarna warni.

Karena Alya minta berenang ke tengah, saya pun kemudian memakai pelampung, karena harus menggendong Alya. Saya bawa Alya berenang jauh menikmati keindahan Pulau Pahawang Besar.

renang bareng Alya
Alya minta digendong berenang ke tengah

Tidak ada rasa takut sama sekali di wajah Alya, meskipun air lautnya cukup dalam. Yang ada malah tertawa-tawa terus menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan.

Kawan-kawan saya yang tidak bisa renang pun terlihat begitu menikmati berenang menggunakan pelampung. Ombak yang kecil membuat kawan-kawan merasa betah berlama-lama di lautan.

Sekitar 1 jam berenang, kami kemudian bersandar ke Pulau Pahawang besar, makan siang bersama di dekat Villa Kudus.

Di Pulau ini tidak ada yang jual nasi, sehingga kalau kami tidak bawa nasi sendiri tentunya bakal kelaparan di lautan. Tapi setidaknya ada yang jualan popmie, lumayanlah bisa mengganjal perut juga.

Pulau Pahawang Kecil


Berkunjung ke Pulau Pahawang kurang asyik kalau tidak membawa kacamata renang atau alat snorkling. Dengan memakai kaca mata renang atau alat snorkling, kita bisa melihat dengan jelas pemandangan terumbu karang dan ikan-ikan bawah laut Pulau Pahawang.

Tak terkecuali di Pulau Pahawang Kecil, bermain-main di sini pun akan lebih menarik kalau menggunakan kacamata renang atau alat snorkling.

Tidak berbeda dengan Pahawang Besar, Pahawang kecil juga menyimpan pesona bawah laut yang cantik, selain pasir putihnya yang menawan juga, apalagi gumuk pasirnya yang memanjang dan berkelok-kelok cantik.

gumuk pasir cantik
Gumuk pasir memanjang dan berkelok kelok di Pahawang Kecil

Setelah makan siang di Pahawang Besar, kami melanjutkan kunjungan kami ke Pulau Pahawang Kecil. Pulau ini lebih bersahabat bagi anak kecil dan bagi pengunjung yang belum bisa renang. Tempat ini juga cukup eksotis dijadikan tempat foto-foto.

Saya dan Alya lebih memilih berenang-renang melihat alam bawah laut yang cantik. Ikan-ikan terlihat mendekat, tanpa rasa takut kepada manusia. Cantik betul dilihatnya.

Lalu saya pun menemani Alya berenang dan bermain pasir, jalan-jalan kesana kemari sambil tertawa bersama.

Pulang Digoyang Gelombang


Sedang asyik-asyik bermain di Pahawang Kecil, dan rasanya belum puas juga, sekitar pukul 14.00, mendung mulai menggelayut di langit. Cuaca terasa benar mulai gelap. Langit pun mulai menghitam.

Melihat cuaca yang kurang bersahabat, kami pun memutuskan untuk pulang, dengan masih menyisakan kerinduan pada Pulau Pahawang Kecil yang indah nian.

Rombongan kami jalan duluan di depan, meninggalkan serombongan kawan kami yang lainnya.

Baru jalan sekitar sepuluh menit, angin mulai bertiup kencang, dan rintik-rintik hujan pun mulai turun. Tak mau mengambil risiko, sang pengemudi perahu berhenti sebentar di tengah lautan, lalu menggulung atap perahu.

Jadilah kami berlayar dengan beratapkan langit, dengan tiupan angin kencang, disertai hujan rintik-rintik yang kian deras, dan gelombang ombak yang mengoncang-goncang perahu kami.

Tinggi ombak lebih dari setengah meter, sehingga terasa benar perahu kecil kami tergoncang-goncang.

Menurut pengemudi perahu, atap terpaksa dicopot karena khawatir perahu terbalik kalau tidak dicopot. Lebih baik basah terkena hujan, daripada perahu terbalik, begitu katanya.

Kami pun cuma menurut, sambil berharap-harap cemas, melewati waktu yang terasa lama sekali. Daratan masih terlihat jauh, sedangkan rasanya kami lamban sekali bergerak menuju daratan.

Rombongan kawan kami yang satunya malah sudah menyalip kami, mereka jalan tanpa menggulung atap perahu. Kami tertinggal jauh dari mereka.

Ombak di sore itu benar-benar tinggi, mengombang-ambingkan kami di atas perahu. Air ombak yang menabrak perahu pun selalu memuncrat ke tubuh kami yang mulai kedinginan, dicampur air hujan.

Untungnya, di bagian belakang masih ada atap, dan anak bayi dari kawan saya bisa tidur di belakang sambil didekap bapaknya.

Alya, mungkin saking capeknya, terlelap tidur, dengan kondisi baju basah kuyup, tidur dalam dekapan mama. Saya berusaha menghalangi air yang mengarah ke Alya.

Sekeras apapun saya berusaha menghalangi agar air tidak mengenai Alya, tetap saja air laut jatuh ke badannya, saking kencang ombak yang menghantam perahu dan airnya bercipratan ke mana-mana.

Kasihan sekali rasanya melihat hampir satu jam Alya tertidur dalam kondisi basah kuyup, kaki sudah memucat, dan wajahnya juga sudah membiru.

Untungnya, di antara kami tidak ada yang panik. Semua menjalaninya dengan tenang, meskipun ombak datang tinggi bergulung-gulung.

Di 3/4 perjalanan, salah satu mesin motor perahu yang kami naiki mati. Sang pengemudi berusaha keras berkali-kali menghidupkan mesin, namun berkali-kali juga gagal, sampai kemudian menyerah.

Laju perahu kami pun makin melambat. Waktu pun berjalan semakin lambat pula. Kami hanya bisa menunggu dan menunggu, menunggu pertolongan Tuhan.

Daratan sudah mulai dekat, namun ombak tak kunjung surut. Sementara sudah kami saksikan rombongan kawan kami sudah sampai di daratan.

Cuaca dan ombak sebenarnya sangat menakutkan, yang paling saya khawatirkan adalah kalau kami sampai tenggelam.

Mengantisipasi kapal terbalik dan tenggelam, baju pelampung semuanya dipakai, hanya saya dan dua orang lainnya yang tidak memakai baju pelampung.

Kalaupun tenggelam, setidaknya saya masih bisa berenang, meskipun tidak tahu juga berapa lama saya bisa berenang tanpa alat. Saya lebih khawatir lagi kepada Alya.

Waktu terus berlalu, kami tetap menjaga agar kami tidak panik. Dan menit demi menit berlalu, setelah menembus tingginya gelombang, alhamdulillah, perlahan tapi pasti, perahu pun mendarat di Dermaga Ketapang dengan selamat.

Turun dari perahu, Alya bangun, badannya langsung menggigil seperti orang sakit. Tubuhnya membiru, kaki tangannya keriput kedinginan.

Kami pun langsung membawa Alya ke kamar mandi. Mama langsung memandikan Alya, sementara saya mencari kamar mandi juga, membilas badan dan membersihkan air hujan dan air laut.

Kawan-kawan kami dalam rombongan lainnya ternyata teriak-teriak ketakutan sepanjang perjalanan pulang. Mereka menangis melihat ombak yang tinggi, seolah-olah kematian sudah di depan mata.

Mendapat pengalaman seperti itu, mereka pun langsung bilang kapok, dan tidak mau lagi datang ke Pulau Pahawang. Ketakutan setengah mati.

Untungnya, satu rombongan perahu kami, tidak ada satu pun yang panik dan semuanya tenang.

Pengalaman ini bisa jadi nasehat untuk anda yang ingin datang ke Pulau Pahawang, datanglah saat musim kemarau. Jangan lupa juga untuk menyewa baju pelampung, untuk keselamatan anda. Pulau Pahawang sebenarnya tidak menakutkan, hanya saja kami datang di musim yang kurang tepat.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.


EmoticonEmoticon