Friday, September 23, 2016

Desa Pelumutan Yang Dirindukan

Pernah dengar Desa Pelumutan? Yah, memang apalah arti desa ini bagi anda, tapi desa ini adalah desa yang salalu saya rindukan. Desa ini adalah tempat yang selalu saya impikan, untuk bisa kembali lagi hidup di sana, memiliki rumah di sana, dan bekerja di sana.

Desa Pelumutan, kalau anda tahu, dan saya yakin anda pernah mendengarnya, merupakan desa tempat tinggalnya Sumanto, si pemakan mayat. Pernah dengar kan si Kanibal Sumanto?

Iya, Sumanto si pemakan mayat, yang namanya cuma beda S dan J sama saya, adalah warga asli Pelumutan, lahir di Pelumutan, dan tinggal di Pelumutan setelah sempat merantau di Lampung.

Pun halnya dengan saya, saya menghabiskan masa kecil saya di Desa yang ada di Kecamatan Kemangkon ini, Kabupaten Purbalingga.

Antara rumah saya dan Sumanto cuma berselisih jarak sekitar 500 meter saja. Hanya berbeda RT, saya RT 4 dan dia RT 5.

desa pelumutan
Alya di depan rumah Mbah, hijau benar desa Pelumutan

Meskipun aslinya saya lahir di Lampung, tapi umur 3 tahun saya dan orang tua pindah lagi ke Pelumutan, tempat nenek saya tinggal, dan tempat lahir kedua orang tua saya juga.

Desa Pelumutan, telah meninggalkan banyak sekali kenangan, dari sahabat masa kecil yang kini sudah jarang sekali saya jumpai, sampai suasana masyarakatnya yang benar-benar bikin nyaman dan betah.

Profil Desa Pelumutan




Desa Pelumutan merupakan sebuah desa yang ada di Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah.

Desa Pelumutan sering juga dituliskan orang sebagai "Desa Plumutan", padahal penulisan tersebut salah.

Batas Desa


Desa Pelumutan berbatasan dengan:
  • Sebelah Utara: Desa Senon.
  • Sebelah Timur: Desa Majatengah.
  • Sebelah Selatan: Desa Karang Salam.
  • Sebelah Barat: Desa Bokol.

Desa Pelumutan merupakan salah satu desa yang terletak di paling selatan dari Kabupaten Purbalingga, karena sebelah selatan dari Desa ini sudah masuk ke Kabupaten Banjar Negara.

Antara Desa Pelumutan dengan Desa Karang Salam (Kab. Banjar Negara) dipisahkan oleh sebuah sungai, yaitu Sungai Serayu.

Sungai Serayu ini merupakan sungai tempat kami bermain dulu saat masih kecil. Sewaktu kecil, kami terbiasa mandi di sungai sepulang sekolah sampai sore hari, lalu main-main ke nusa, yaitu "pulau kecil" yang ada di tengah-tengah sungai.

Di Sungai Serayu ini kami juga biasa membuat rakit dari pohon pisang yang dijejer-jejer lalu ditusuk dengan menggunakan bambu di bagian tengahnya.

Masa kecil kami, saya dan teman-teman, sungguh membahagiakan, bisa bermain-main di sungai, sehingga renang pun sudah mendarah daging dalam diri kami.

Sungai Serayu sudah biasa dimanfaatkan oleh warga masyarakat Pelumutan untuk tempat menambang pasir. Selain menambang, sungai ini juga dimanfaatkan warga untuk diambil ikannya dan tempat mandi, mencuci pakaian, perkakas rumah tangga, sekaligus tempat buang air besar.

Jaman saya kecil, sudah terbiasa melihat orang mandi telanjang, apa lagi laki-laki, kalau perempuan terkadang cuma ditutup area vitalnya saja, atau ada juga yang pakai baju "telesan".

Di musim kemarau, sumur-sumur di Desa Pelumutan ini dulunya banyak yang mengalami kekeringan, oleh karena itu Sungai Serayu pun menjadi sumber utama tempat MCK.

Selain itu, waktu itu, masih sangat jarang juga orang yang punya toilet sendiri sehingga lebih dari 90% masyarakat Desa Pelumutan membuang air besar di sungai atau "wangan", yaitu sungai kecil yang airnya sedikit, lalu ujungnya bermuara ke Sungai Serayu.

Sungai Serayu, memang selalu bikin rindu.

Sentral Penghasil Gula Jawa


Mayoritas pekerjaan warga Pelumutan adalah petani dan "tukang menek", yaitu orang yang pekerjaannya naik ke pohon kelapa untuk menyadap dan mengambil air nira.

Air nira ini kemudian diolah oleh ibu-ibu di rumah untuk dijadikan gula jawa. Termasuk Mama saya pun sampai saat ini masih membuat gula jawa di rumah, tapi yang "menek" kelapa bukan Bapak saya.

Jika anda membutuhkan gula jawa yang masih benar-benar asli tanpa pengawet dan tanpa campuran, datanglah ke Desa Pelumutan dan anda pun akan mendapatkan gula jawa yang enak dan betul-betul alami. Harganya pun jauh lebih murah.

Bahkan, tetangga Desa, yang berjarak sekitar 4 km dari Desa Pelumutan, terkaget-kaget dengan harga gula jawa yang murah di Pelumutan, karena di desanya harganya mahal. Wajar sih di desa itu tidak ada penghasil gula jawa.

Pohon kelapa di tempat orang tua saya tinggal, terbilang cukup banyak, baik di kanan, kiri, depan, dan belakang rumah. Pohon kelapa ini membuat rumah menjadi rindang.

Meskipun banyak pohon kelapa, mendapatkan dugan di Desa Pelumutan agak susah, pasalnya hampir semua pohon kelapa diambil niranya untuk dijadikan gula jawa.

Desa Pelumutan pun, telah menjadi sentral penghasil gula jawa di Purbalingga, dan telah mengirimkan gula jawa ke daerah-daerah lain di luar Purbalingga.

Silakan datang ke Pelumutan jika ingin melihat pembuatan gula jawa secara langsung.

Sekolah


Desa Pelumutan memiliki tiga buah sekolah tingkat dasar, dua buah SD Negeri dan satu buah MI Swasta. Ketiga sekolah tersebut terletak di 3 Dusun yang berbeda, dan lokasinya pun sangat tepat sehingga seluruh warga Desa Pelumutan dapat bersekolah dengan jarak yang tidak terlalu jauh.

Saya sendiri saat kecil sekolah di SD Negeri Pelumutan 2. SD ini berada di Dusun I. Di SD ini saya mendapatkan pendidikan formal untuk pertama kalinya.

Kita biasa berangkat ke sekolahan dengan jalan kaki, beramai-ramai, tertawa-tawa, kadang mampir ke rumah orang yang punya tv sepulang sekolah untuk nonton tv ramai-ramai.

Duh, kebersamaan itu, tawa itu, bermain bersama kawan-kawan SD, terasa begitu mengangenkan. Ingin rasanya kembali lagi ke masa-masa itu, masa yang begitu indah penuh dengan tawa.

Suasana sekolah di Desa Pelumutan, akan selalu di dalam ingatan. Sampai kapan pun.

Grumbul


Selain dibagi ke dalam 3 Dusun, Desa Pelumutan juga mengenal istilah Grumbul. Beberapa grumbul yang ada di Desa Pelumutan yaitu:
  • Kedung Ketur (Dusun I)
  • Kedung Lumbu (Dusun I)
  • Cungis (Dusun I)
  • Ndukuh (Dusun II)
  • Muntang (Dusun II)
  • Catutan (Dusun III)
  • Madas Malang (Dusun III)
Pusat pemerintahan Desa Pelumutan Sendiri ada di Dusun II, Grumbul Ndukuh, di mana balai desa dan lapangan desa ada di Dusun tersebut.

Kepala Desa


Nama-nama yang pernah menjabat Kepala Desa Pelumutan di antaranya:
  1. Eyang penatus.
  2. Eyang penatus 2.
  3. Bapak Sumaryo (1984 - 1992).
  4. Bapak Harianto BA (1992 - 1999).
  5. Bapak Cipto Yuwono (1999 -2014).
  6. Bapak Kismono ( 2014 - sekarang).

Saya cuma menjumpai tiga lurah sepanjang hidup saya di Pelumutan, yaitu Bapak Harianto, Bapak Cipto Yuwono, dan Bapak Kismono.

Semoga Bapak Kepala Desa yang masih aktif bisa membawa Pelumutan makin maju, makin sejahtera, makin terdidik masyarakatnya, dan terbebas dari korupsi.

Pasar Grumung


Desa Pelumutan juga mempunyai sebuah pasar legendaris sebagai salah satu roda penggerak ekonomi masyarakat.

Di Pasar Grumung ini kita bisa menjumpai berbagai jenis makanan tradisional, ada condol, getuk, ciwel, onde-onde, dan berbagai makanan tradisional lainnya.

Berbagi jenis sayuran dan bahan kebutuhan pokok juga dijual di pasar yang ada di Grumbul Catutan ini. Di dekat pasar juga berdiri toko-toko yang menjual berbagai aneka kebutuhan masyarakat.

Pasar Grumung letaknya ada di samping MII Pelumutan. Saat pulang kampung, mama dan Alya suka belanja di pasar ini juga bersama adik saya.

Pengunjung Pasar Grumung bukan hanya masyarakat Desa Pelumutan saja. Desa-desa tetangga pun banyak yang belanja di pasar ini, daripada harus belanja ke Pasar Panican yang lebih jauh.

Jika anda sedang berkunjung ke Desa Pelumutan, jangan lupa mampir ke Pasar Grumung ya.

Yah, sebenarnya masih banyak sekali yang bisa ditulis mengenai Desa Pelumutan, lain kali di sambung lagi ya. Mohon dikoreksi jika ada yang salah.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.


EmoticonEmoticon