Wednesday, September 14, 2016

Antara Kurban, Sate, dan Tongseng

Gema takbir berkumandang di pagi hari, di pelataran depan ruang kerja saya. Jarum jam menunjukkan pukul 8 pagi lewat, saat matahari telah memasuki waktu dhuha. Beberapa sapi dan kambing tertambat, diikat di pohon-pohon yang sebagian sudah kehilangan daunnya.

Terlihat panitia sibuk dengan job desknya masing-masing. Sedangkan saya? Saya adalah pegawai paling tidak aktif di kantor. Jadilah pagi itu saya cuma menyaksikan dari dalam ruangan, lalu keluar saat ada doa bersama dan sambutan dari ibu Kepala Perwakilan, Ibu Sally Salamah.

Idul Adha memang baru lewat satu hari. Kalender masih menunjukkan tanggal 11 Dzulhijjah. Penyembelihan hewan kurban masih disunnahkan di hari itu, sampai dengan tanggal 13 dzulhijjah.

Kantor saya memutuskan untuk memotong hewan kurban dari para pegawai yang berkurban, di hari Selasa kemarin, 11 Dzulhijjah.

Dua ekor sapi, serta 10 ekor kambing, dari 24 pegawai, telah terkumpul dan siap menuju surga Alloh Subhanahu Wata'ala.

Fobia


Jika ditanya, siapa lelaki paling lemah di dunia ini, mungkin jawabannya adalah saya. Ya, saya adalah lelaki paling penakut, paling lembek, dan mungkin paling cengeng.

Jangankan melihat kambing atau sapi disembelih, melihat ayam dipotongpun saya tidak sanggup. Rasanya kasihan sekali. Tidak tega. Tidak tahan melihat darah mengalir dari leher-leher yang tergores pisau pisau tajam.

Ternyata, seiring bertambah umur, keberanian saya tetap tidak tumbuh. Saya masih fobia dengan penyembeliahan. Saya tidak tega melihat darah keluar.

Tak heran, sampai seumur saya sekarang ini, belum pernah sekalipun saya memotong ayam. Dan selama saya menikah, belum sekalipun juga istri saya memasak ayam hasil potongan sendiri.

Seumur kami menikah, mungkin baru satu atau dua kali istri saya memasak ayam, dan itupun saya tidak pernah memakan ayam masakannya.

Karena fobia itu, pagi itu, saya sama sekali tidak keluar melihat hewan-hewan kurban disembelih. Saya hanya bisa mendengarkan suara-suara hewan kurban yang tergorok lehernya, dan mendengarnya saja dari dalam ruangan saya sudah merinding.

Alhamdulillah, akhirnya penyembelihan selesai juga, ditandai dari selesainya suara-suara hewan yang menjemput ajal. Mudah-mudahan para pengkurban mendapatkan pahala yang besar dari Alloh Subhanahu Wata'ala, dan hewan tersebut bisa menjadi tungganganya menuju surga Alloh Yang Maha Kuasa.

Pesta


Seusai sholat dzuhur, Ibu Kepala Perwakilan, Ibu Sally Salamah menggelar makan bersama di rumah beliau. Pagi hari, beberapa pegawai dan juga THL sibuk di rumah Kaper memasak nasi dan lauk untuk santap siang bersama.

Setelah sapi dan kambing selesai disembelih, daging-daging sebagian dipotong-potong, lalu dimasukkan ke tusuk sate, dan jadilah lauk santap siang kami para pegawai Perwakilan BPKP Provinsi Lampung.

Saat saya datang ke rumah Kaper, beberapa orang terlihat sedang makan, dan antrian terlihat bejubel mengambil nasi dan lauk.

makan siang di rumah kaper
Kabag TU, Pak Althof (melambaikan tangan) sudah makan duluan

















Melihat antrian yang bejubel, saya memilih mengambil air minum saja, lalu sembari menunggu antrian mulai longgar.

Setelah minum habis satu gelas, kok antrian malah nambah lagi. Akhirnya saya pun ikut antri saja, dan apesnya, sate langsung ludes tak bersisa. Sisanya, masih belum matang, sedang dipanggang sama ibu-ibu di belakang.

Sudah kadung ngambil nasi, ya sudahlah makan saja apa adanya. Tempe dan tahu pun tak mengapa, dengan disiram kecap sisa bumbu sate, sekalian acar mentimun dan nanas, sembari menunggu sate berikutnya terhidang di meja.

makan siang seadanya
makan dengan lauk seadanya

Sebenarnya di meja juga ada sup daging, lalu datang tongseng juga, cuma saya memang bukan pencinta masakan tersebut. Makanan saya masih belum bisa jauh-jauh dari tempe.

Menunggu dan menunggu, sate tidak kunjung datang ke meja, sampai nasi habis di piring saya. Ternyata orang-orang yang baru datang langsung pada mengambil sate di belakang, langsung dari sumbernya. Jadi sate sudah habis duluan, tidak keburu dibawa ke meja.

Ya sudahlah, setelah nasi habis, barulah saya ikut ke belakang, mengambil 4 tusuk sate sapi, dan ternyata menghabiskan 4 tusuk sate saja membutuhkan waktu 15 menitan. Sudah kekenyangan duluan hahaha.

Ibu Kaper kita memang senang sekali menggelar acara kumpul-kumpul, lalu makan-makan. Rumah beliau biasa dijadikan basecamp untuk kumpul-kumpul.

Setelah pesta kurban bersama, makan siang yang ramai dan kebersamaan yang luar biasa, kami kembali ke ruangan masing-masing melanjutkan bekerja.

Antara Kurban, Sate, dan Tongseng, telah menemani makan siang kita. Selamat Idul Adha, mudah-mudahan tahun depan masih diberi kesempatan umur panjang hingga bisa berpartisipasi dalam ibadah kepada Alloh Ta'ala.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.

2 komentar

dimana-mana daging ya mas...sampai-sampai penjual ayam di pasar rela libur.. :)

kayaknya hobi ke pasar ya mba hehehe. Tulisan Mba Andrie kece-kece.


EmoticonEmoticon