Tuesday, September 13, 2016

Air Terjun Way Lalaan, Sahabat Wisata Keluarga

Air Terjun Way Lalaan - Jika melihat lokasinya yang sangat dekat dengan rumah kakak ipar, seharusnya sudah berkali-kali kami mengunjungi salah satu tempat wisata di Tanggamus yang sudah cukup terkenal ini. Namun, dengan berbagai alasan, akhirnya baru di liburan Idul Adha kali ini, saya bisa mengunjungi Air Terjun Way Lalaan untuk kedua kalinya.

air terjun way lalaan
Keseruan bermain di Air Terjun Way Lalaan

Terakhir kali berkunjung ke Air Terjun Way Lalaan sekitar 5 tahun yang lalu, saat belum lama bekerja di Lampung. Tak terasa, sudah cukup lama juga ya.

Air Terjun Way Lalaan merupakan air terjun yang paling mudah dijangkau, karena lokasinya yang berada tidak jauh dari jalan raya.

Tinggal jalan kaki sekitar 200 meter dari jalan lintas barat Sumatera, kita sudah sampai ke air terjun ini. Aksesnya pun sangat mudah, dari Bandar Lampung bisa menggunakan Bus Jurusan Rajabasa - Kota Agung dan berhenti tepat di pintu masuknya.

Pintu Masuk Air Terjun Way Lalaan sendiri persis ada di sebelah kiri jalan sebelum Pintu Masuk Kompleks Pemda Tanggamus.

Embun Pagi Indah Nian


Sebenarnya, kami berangkat dari Gisting tidak pagi-pagi amat, pukul 9 pagi kurang. Selepas sholat id, lalu sarapan, siap-siap, dan kemudian berangkat.

Namun, pagi itu terasa dingin benar. Malamnya habis hujan, terlihat sisa-sisa air menggenang di pinggir jalan. Mentari juga kelihatannya masih enggan menampakkan diri, tertutup awan-awan putih kehitaman.

Semakin naik, ke Gisting Atas, semakin dingin menusuk kulit. Kami jalan pelan-pelan saja.

Dari Gapura Masuk Selamat Datang Kota Agung, kabut-kabut embun terlihat menutupi bebukitan, lalu jalan terbawa angin. Kami pun bisa menyaksikan embun-embun yang berjalan tersebut, dan betapa indahnya, sesuatu yang sudah tidak bisa kita saksikan lagi di perkotaan.

kabut embun di kota agung
Kabut Embun yang menutupi Pemandangan Teluk Semaka

Kami berhenti sebentar, melihat indahnya kabut embun yang begitu tebal. Pemandangan laut Teluk Semaka yang biasanya bisa kami lihat dari posisi ini, kali ini terhalang oleh embun-embun perbukitan.

Kami melanjutkan perjalanan, menuju rumah kakak ipar di Pekon Tanjung Jati, Kota Agung Timur. Rencananya, kami memang mau mengajak Faris, sepupu Alya yang sebelumnya kami ajak ke Bendungan Batutegi.

Tiket Masuk Gratis


Perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya kami sampai di rumah kakak. Ozil, adik Faris, sudah besar. Melihat Ozil tak kuasa saya untuk tak menggendongnya.

Mas Bambang, Kakak Ipar saya, baru pulang dari kebun mencari telur semut "kroto" untuk pakan burung murai. Kakak ipar saya ini memang hobi burung, dan punya usaha ternak burung murai juga. Kalau anda ingin membeli burung murai, bisa pesan sama kakak ipar saya ini hehehe.

Faris, yang kami tunggu-tunggu, sedang asyik melihat sapi dipotong. Tidak lama kemudian, pulanglah ke rumah karena Alya datang.

Tapi, tidak lama kemudian, kembali kabur, melihat sapi potong. Lama tidak pulang-pulang.

Pukul setengah sebelas siang, Faris akhirnya dijemput untuk pulang, kemudian kami pun berangkat ke Air Terjun Way Lalaan.

Kami sebenarnya ditawari tiket masuk gratis ke Air Terjun Way Lalaan. Istri kakak ipar punya saudara di dekat Air Terjun Way Lalaan.

Kalau mau, tinggal masuk saja, lalu motor di titip di rumahnya, dan masuk ke air terjun pun gratis.

Namun, kami tetap memilih lewat jalur pintu masuk saja, dan membayar tiket masuk sebesar Rp5.000,- per orang. Lalu parkir motor Rp5.000,-.

Turun Tangga dan Sampailah


Sekitar 1 km dari rumah kakak ipar, di situlah Air Terjun Way Lalaan berada. Jadi cuma perjalanan paling 5 menit, kami pun sudah sampai.

Setelah memarkir motor, kami kemudian harus menuruni tangga, yang konon jumlahnya ada 130. Saya sendiri tidak menghitungnya, kurang kerjaan kali ya.

tangga air terjun way lalaan
Tangga menuju air terjun yang sudah bagus

Kalau untuk turun sih cepat sekali, sama sekali tidak capek. Tapi pas naiknya baru kerasa benar.

Kami datang berenam: saya, mama, Alya, Faris, Mamanya Tika, dan Tika. Mamanya Tika itu adiknya Mba Sumi, dan Mba Sumi adalah istri kakak ipar saya.

Pemandangan dari atas cukup indah, terlihat pemandangan sawah yang membentang dan sebuah kolam ikan. Memandang jauh lagi, pemandangan perbukitan terlihat panjang berwarna hijau.

Tidak berlama-lama memandang sekitar, begitu melihat air terjun, saya, Alya dan Faris pun langsung beraksi. Kami langsung jalan menuju keramaian orang yang sedang mandi di air terjun Way Lalaan.

Alya langsung lari ke air terjun
Mandi di Air Terjun Way Lalaan

Begitu kaki pertama kali menginjak ke air, terasa langsung nyes. Naik tambah ke atas tambah nyes. Padahal matahari sedang terik-teriknya, tapi air terjun ini tidak terpengaruh dengan panas matahari.

Kuncinya justru harus nyemplung seluruh badan. Setelah badan semuanya masuk ke air, termasuk kepala, justru tidak terasa dingin lagi. Yang ada malah rasa segar.

mandi di air terjun way lalaan
Keceriaan mandi di air terjun way lalaan bersama Alya dan Faris

Oiya, mandi di Air Terjun Way Lalaan ini harus hati-hati, sebisa mungkin untuk tidak melewati tali yang telah dipasang oleh pengelola.

Untuk pengunjung yang tidak bisa renang juga dilarang mandi di air terjun ini.

Air Terjun Way Lalaan juga cukup dalam, apalagi setelah lewat dari tali pembatas, bagian di bawah air terjun di mana air tepat jatuh di situ. Di bagian itu, ada pusaran yang menyeret ke dalam, dan telah menelan beberapa korban.

Oleh karena itu dihimbau agar tidak renang di daerah itu karena cukup berbahaya dan airnya dalam. Mandilah di sepanjang tali yang dipasang oleh pengelola, yang merupakan batas aman.

Setelah mandi di sekitaran air terjun, kami pun bermain air di sungai yang mengalir di bawahnya. Batu-batuannya indah untuk dilihat, dan juga enak untuk tempat mandi bersama anak-anak.

kali way lalaan
Kali tempat bermain anak

Tempat ini juga banyak dijadikan tempat foto-foto bagi anak-anak muda, baik foto prewedding, foto selfie, maupun foto bareng pasangannya.

Setelah kedinginan, Alya dan Faris pun mentas, sedangkan saya kembali bermain air di lokasi yang lebih dalam. Pengunjung makin siang makin banyak dan makin banyak pula yang mandi di sekitar air terjun.

alya dan faris setelah ganti baju
Habis mandi, foto dulu dong berdua

Lama bermain air dingin, ternyata lapar juga. Saya pun menyusul rombongan yang sedang makan popmie, lalu saya ikut memesan juga. Rasanya enak sekali, dingin-dingin makan popmie anget, hmmm. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?.

Di Way Lalaan ini ada pondokan yang bisa dinikmati secara gratis, bahkan saya lihat ada yang tertidur juga di pondokan ini.

Way Lalaan memang cocok dijadikan tempat wisata keluarga, tempatnya yang lapang, dekat dengan jalan raya, tanjakan dan turunannya tidak curam, jalannya sudah bagus, tidak licin, dan mudah dijangkau. Anak kecil sampai orang dewasa dapat berkunjung ke sini.

Setelah kenyang, saya kemudian nyebur lagi ke air terjun sekitar 5 menit. Merasa sudah cukup kedinginan, akhirnya saya ganti baju di kamar mandi, sambil membilas badan, dan kemudian kami pun memutuskan pulang.

pohon cinta way lalaan
Pohon cinta dengan akarnya yang unik

Sebelum pulang, mama, Alya, dan Faris minta foto dulu di Pohon Cinta. Saya juga kurang tahu mengapa dinamakan pohon cinta, padahal tidak ada simbol cintanya sih. Yang ada malah akar pohonnya yang unik benar.

Setelah puas foto-foto, saya ambil motor dan membayar parkir, kemudian kami pun pulang ke rumah. Selamat Jalan Air Terjun Way Lalaan, mudah-mudahan ke depannya makin banyak fasilitasnya, bisa dilengkapi dengan area permainan anak.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.


EmoticonEmoticon