Thursday, August 11, 2016

Trip 2 Hari Pesawaran - Lampung Selatan Yang Super Mengesankan

Hari Sabtu dan Minggu, hari yang selalu saya tunggu, karena hari itu saya bebas berkelana setelah 5 hari berkutat di kantor yang kadang-kadang jenuh juga. Dan akhir pekan kali ini kami memutuskan untuk touring 2 hari dari rumah kami di Pesawaran menuju Kalianda, Lampung Selatan. Trip kali ini hanya butuh persiapan 2 hari.

Trip ke Kalianda Lampung Selatan
Tulisan Kalianda di Jalan Menuju Kalianda dari Bandar Lampung

Entah kenapa tiba-tiba di hari Kamis, saya langsung kepikiran untuk menghabiskan akhir pekan di Kalianda. Mungkin karena daerah itu belum pernah saya jamah, sehingga rasanya penasaran juga menikmati destinasi wisata menarik yang ada di Kabupaten Lampung Selatan.

Akhirnya, saya pun mencoba surfing menjelajahi dunia maya, mencari referensi tempat wisata mana saja yang cukup bagus untuk kami kunjungi.

Tidak lupa juga, saya cari referensi hotel mana yang murah dan dekat dengan tempat-tempat wisata yang ada di Kalianda.

Dari hasil surfing, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan Hotel Kalianda sebagai tempat menginap. Hotel ini seingat saya pernah saya singgahi tahun 2012 lalu saat saya ada penugasan Audit Dana BOK di Dinas Kesehatan Lampung Selatan.

Ternyata, saat saya sampai di lokasi, saya salah. Hotel yang pernah saya tempati bersama Ketua Tim saya adalah Hotel Way Urang. Yah, maklum, sudah 4 tahun, lupa juga nama hotelnya.

Pesan Hotel


Sabtu pagi, sekitar pukul 9, saya membeli paket nelpon rumah dulu pakai kartu as saya, lalu searching nomor telepon Hotel Kalianda. Ketemulah nomor teleponnya: (0727) 322392.

Saya copy nomor tersebut, lalu saya hubungi. Tuuut. Tuuut. Telepon langsung nyambung. Namun belum diangkat sama pihak hotelnya.

Menunggu beberapa kali bunyi tuut, belum diangkat. Setelah menunggu agak lama, akhirnya terdengar suara perempuan di seberang sana.

"Halo, selamat siang".

Saya kaget juga, ini masih pagi, atau sudah siang. Setahu saya jam 9 sih masih pagi, padahal saya mau menyapa dengan selamat pagi tadinya.

Akhirnya saya jawab juga, "Selamat siang mba. Bener ini Hotel Kalianda ya?".

"Iya benar mas"

"Masih ada kamar gak mba"

"Emmm", kedengarannya perempuan tadi sedang ngecek daftar tamu, kemudian ia bicara lagi, "masih ada mas, tapi tinggal yang Superior 160ribu per malam". Tidak berapa lama kemudian, perempuan tadi kembali bicara, "Masih ada juga yang Deluxe mas, 145 ribu per malam".

Tanpa pikir panjang, langsung saya jawab, "Pesan yang deluxe 1 kamar mba".

"Atas nama siapa mas"

"Jumanto mba"

"Kira-kira mau ke sini jam berapa ya?"

"Sekitar magrib mba".

"Ok mas, saya catat ya".

"Iya mba. Terima kasih".

Dan telepon pun ditutup.

Masalah hotel sudah selesai.

Berangkat


Awalnya, kami rencanakan berangkat dari rumah sepulang Alya dari sekolah, pukul 09.30. Ternyata, karena harus beres-beres rumah dulu dan mempersiapkan apa saja yang harus kami bawa, waktu berangkat pun molor juga.

Pukul 11.40 siang kami baru berangkat dari rumah, menggunakan motor bertiga: saya, mama, dan Alya.

Sampai di Kemiling, kami mampir dulu di Toko Surya, membeli handuk dan juga mukena buat mama. Ternyata mukenanya tidak ada yang pas, akhirnya kami cuma beli 2 buah handuk kecil untuk dipakai nanti saat mandi di pantai.

Baru mau jalan dari Toko Surya, terdengar adzan dzuhur berkumandang. Kami pun mampir dulu di Masjid di dekat Pondok Pesantren Kalimosodo, Kemiling.

Di masjid ini, kebiasaan Alya kembali muncul. Sesampai di masjid, Alya minta ee. Sering sekali Alya ini minta ee di sembarang tempat. Gak di masjid, gak di mall, gak di rumah orang.

Selesai sholat, kami pun melanjutkan perjalanan, melewati Jalan Imba Kesuma, kemudian tembus ke Jalan Emir M Noer, masuk ke Jalan Basuki Rahmat, Jalan Wolter Monginsidi, Jalan Rasuna Said, Jalan Dr Susilo, tembus ke Jalan Gatot Subroto melewati Hotel Novotel kemudian belok ke kiri menuju Panjang.

Lalu kami pun sampai di Jalan By Pass dan mengikuti keramaian jalan lintas Sumatera.

Karena belum sempat sarapan, baru makan gorengan dan somay, perut kami pun sudah mulai kelaperan. Kami pun mampir di Warung Makan Padang Simpang Tiga di daerah Panjang.

warung makan simpang tigo
Berhenti sebentar makan di warung padang Simpang Tigo Panjang

Saya pesan nasi telor dadar dan mama pesan nasi ikan bakar. Berhubung sudah kelaperan, tidak butuh lama untuk menghabiskan makanan yang kami pesan.

Selesai makan, perjalanan kami lanjutkan mengikuti keramaian jalan menuju Kalianda Lampung Selatan.

Hari Pertama di Kalianda


Tujuan pertama kami adalah pantai-pantai yang ada di daerah Merak Belantung, satu arah dengan Grand Elty Krakatoa. Oleh karena itu, begitu melihat ada spanduk besar bertuliskan arah menuju Grand Elty Krakatoa, kami langsung belok kanan di Simpang Merak Belantung.

Sebenarnya kami belum tahu pantai mana saja di daerah ini yang mau kami tuju. Kami juga belum pernah lewat jalan ini sebelumnya. Cuma asal nekat jalan saja.

Begitu kami belok kanan, masuk ke Jalan menuju Grand Elty Krakatoa, kesan pertama kami adalah jalannya yang bagus. Di kiri dan kanan terasa benar hijaunya rerumputan, mungkin karena musim kemarau baru mau datang.

Jalan aspalnya juga masih halus, bisa jadi karena jalan ini menuju usaha milik Bakrie sehingga jalannya terawat dengan baik.

Pantai Bagus


Tidak jauh dari Simpang Merak Belantung, langsung saja kami jumpai plank yang cukup besar bertuliskan "Pantai Bagus".

Pernah baca sekilas kemarin mengenai Pantai Bagoes ini. Di pantai ini tertulis dua macam nama, Pantai Bagus dan Pantai Bagoes, jadi saya kurang tahu mana tulisan yang benar, meskipun pengucapannya sama.

Kami pun langsung masuk saja ke dalam pantai ini, lalu berhenti di portal penjualan tiket. Sempat ngobrol-ngobrol sebentar, lalu kami segera menuju pantainya.

Secara keseluruhan, Pantai Bagoes memang cukup bagus, dengan kerindangan pepohonannya, baik pohon waru maupun pohon beringin.

Pasirnya pun halus, cocok untuk mandi karena ombaknya memang tidak terlalu besar juga, ciri khas pantai teluk.
pantai bagus kalianda
Main di Pantai Bagus Kalianda

Kami bermain-main sekitar 1 jam di Pantai ini, menemani Alya main ayunan, berfoto-foto, main-main naik pohon, dan menikmati angin yang begitu sejuk.

Sebenarnya Alya minta mandi juga, tapi saya tahan, karena kami rencanakan untuk mandi di Pantai yang kedua saja setelah pantai ini.

Pukul 15.30, kami menuju mushola yang ada di Pantai Bagus ini, sholat ashar di sini.

Selepas sholat ashar, kami melanjutkan perjalanan kembali mencari pantai lainnya di Merak Belantung.

Pantai Embe


Pantai Embe atau Pantai Merak Belantung, merupakan destinasi kami selanjutnya. Sebenarnya, sebelum mencapai pantai Embe ini, kami juga melewati beberapa pantai lainnya, tapi tujuan kami selanjutnya memang Pantai Embe, sehingga kami langsung mencari pantai ini.

Tidak jauh dari Pantai Bagus, cuma perjalanan sekitar 5 menit, kami sampai di pantai ini. Langsung terlihat spanduk besar di pintu masuk Pantai Embe. Di sebelah kanannya, ada sebuah aliran seperti sungai tak mengalir, yang menambah kecantikan pemandangan di sepanjang jalan.

Sungai tak mengalir ini juga terlihat banyak ikannya sehingga di beberapa titik terlihat ada orang yang sedang asyik memancing.

Kami pun masuk ke Pantai ini, lalu memarkir kendaraan. Setelah itu langsung mencari spot yang bagus menuju tempat untuk berenang.

Sesuai dengan janji saya, saya pun langsung mengajak Alya berenang di Pantai Embe. Kalau tidak berenang, pasti Alya bakal ngomel ngomel sepanjang jalan.

pantai embe kalianda
Berenang di Pantai Embe Kalianda

Secara umum, pantai Embe lebih lengkap fasilitasnya dibandingkan dengan Pantai Bagus. Tapi kalau untuk berenang, menurut saya Pantai Bagus lebih keren dan lebih nyaman.

Di Pantai Embe ini, kami cukup lama bermain-main, karena pengunjungnya memang lebih ramai dibandingkan dengan Pantai Bagus.

Sekitar pukul 17.30, kami pun berkemas, mandi dan ganti pakaian, dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju penginapan di Kota Kalianda

Hotel Kalianda


Adzan magrib persis, kami sampai di Hotel Kalianda, sesuai dengan janji saya pada perempuan resepsionis Kalianda Hotel yang saya telpon pagi harinya.

Sesampai di hotel, setelah memarkir sepeda motor, kami langsung menuju resepsionis, dan mengambil kunci kamar yang sudah saya pesan.

"Mba, yang pesan kamar tadi pagi".

"Oh iya mas, atas nama siapa ya".

"Jumanto mba".

"Sebentar yah mas". Mbanya langsung mencari daftar nama, kemudian menyebutkan harga yang harus saya bayar, "145 ribu mas".

Saya ambil duit, kemudian saya bayar 150ribu. Dikasih kembalian 5ribu. Kunci diberikan kepada lelaki di samping mba tadi, lalu lelaki ini mengantar kami menuju kamar kami.

Keadaan kamar seperti yang sudah saya duga. Dengan harga 145ribu, yah beginilah keadaan kamarnya. Saya pun tidak kaget, sesuai dengan harga yang saya bayar.

Tempat tidurnya ada dua, jadi kami geser agar jadi satu. Seprai warna putih terlihat sudah banyak bintik-bintik hitam, dan toilet duduknya sudah agak kecoklatan, tidak putih lagi.

kamar hotel kalianda
Tempat tidur hotel kalianda
AC kami pikir sudah dinyalakan, dan kami pikir ACnya sudah tidak terlalu dingin. Saat kami coba remot ACnya, tidak nyala-nyala. Akhirnya kami biarkan saja, dan gak minta tolong sama penjaga hotel.

Tengah malam, kami kepanasan, terutama Alya. Jam 2 pagi, saya bangun, coba otak-atik remot, akhirnya remotnya nyala, dan ternyata ACnya memang belum hidup, jadi pantas saja panas rasanya.

Selepas meletakkan barang, kami pun langsung keluar lagi, naik motor kemudian menuju masjid terdekat. Selepas magrib, kami mampir di sebuah nasi goreng di dekat hotel Beringin.

Pipis di Masjid


Tidak selang berapa lama setelah kami makan nasi goreng, adzan berkumandang di masjid di samping kami membeli nasi goreng. Kami membawa motor kami ke depan masjid dan memarkirnya di sana.

Melihat tangga, Alya langsung naik ke tangga, dan saya minta supaya tetap di sana, jangan ke mana-mana. Saya pergi ke tempat wudlu laki-laki sementara mama ke tempat wudlu wanita.

Selesai wudlu, kami geger, karena tidak menjumpai Alya di dalam masjid, tidak juga di tangga. Kami khawatir benar, baru sebentar saja Alya sudah ngilang.

Dan saat melihat ke bawah sebelah kiri, terlihat dengan asyiknya Alya main perosotan di depan TK (RA) yang ada di samping masjid. Langsung kami panggil Alya dan kami bilangin agar kalau mau pergi-pergi ngomong dulu sama mama dan papanya.

Kami pun masuk ke dalam masjid, lalu sholat Isya berjamaah.

Selesai sholat, emosi kami kembali tersulut. Saya turun ke bawah, mendengar mama dan Alya sedang di kamar mandi.

Saya hampiri motor, ada celana Alya diletakkan di motor. Saya ambil celana itu, untuk nanti saya pakaikan sama Alya.

Begitu saya pegang, ternyata celananya basah, saya cium tangan saya, ternyata bau ee dan bau pesing. Wah, alamat kencing dan ee di celana nih Alya.

Selang waktu tak berapa lama, Alya keluar tanpa mengenakan celana. Dan ngeselinnya, serasa menjadi anak tak berdosa. Dengan enaknya lari kesana kemari, padahal sudah kami peringatkan agar jangan kemana-mana, malu gak pakai celana.

Lalu mama cerita, kalau Alya tadi ngompol di tangga masjid, dan ada ee nya sedikit. Duh, kesel bener sama ini anak. Sudah gede masih saja ngompol sembarangan. Padahal sudah ditawarin tadi sebelum masuk masjid untuk pipis dulu.

Jadilah akhirnya saya membersihkan sisa-sisa air kencing yang ada di tangga masjid. Lalu saya sucikan lantainya supaya orang yang sholat di masjid ini bisa sah sholatnya.

Dan akhirnya kami pun membeli pampers di Alfamart samping masjid, lalu membeli 2 buah celana untuk Alya di seberang masjid.

Dermaga Bom


Begitu Alya selesai memakai pampers dan celana, kami segera menuju Dermaga Bom yang katanya merupakan pusat kuliner di Kalianda.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana karena memang jaraknya cukup dekat. Tempatnya juga sangat mudah ditemukan karena ada papan penunjuk arah yang sangat jelas.

Dermaga Bom di malam minggu ternyata cukup ramai, terlihat kapal-kapal nelayan sedang disandarkan di dermaga, dan di tempat ini juga sedang ada hiburan musik.

Malam itu, kami cuma sekedar lewat saja, melihat-lihat sebentar, kemudian kembali lagi ke Kalianda Hotel, dan istirahat untuk menyiapkan fisik di hari berikutnya.

Hari Kedua di Kalianda


Jika di hari pertama, kami cuma punya waktu sedikit di Kalianda, sehingga cuma bisa jalan-jalan yang dekat-dekat saja, di hari kedua ini kami berencana untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Lampung Selatan.

Rencana kami, awalnya ingin olah raga pagi-pagi di kompleks Stadion. Sayangnya, Alya belum mau bangun pagi, sehingga kami pun menunggu Alya bangun dulu.

Sekitar jam 7 pagi, kami baru keluar hotel, lalu langsung saja mencari sarapan. Pagi itu, kami sarapan nasi uduk, tidak jauh dari hotel.

Taman Kain Inuh


Setelah sarapan, kami kembali naik motor menuju jalur dua kompleks Pemda, lalu ke Jalan Lintas Sumatera dan mampir di Taman Kain Inuh yang berada persis di pinggir jalinsum.

Taman Kain Inuh Kalianda
Taman Kain Inuh di Pagi Hari

Begitu melihat ayunan dan perosotan, Alya langsung lari menuju ke sana. Saya mengikuti di belakangnya sambil foto-foto.

Terlihat beberapa anak sedang main sepeda di kompleks taman. Taman Kain Inuh ini memang berada persis di depan kompleks perumahan, sehingga saya yakin anak-anak ini adalah warga perumahan itu.

Taman Kain Inuh saya lihat masih kurang pohon, sangat kontras dengan taman di sampingnya yang begitu rindang.

Rumput-rumputnya juga banyak yang tinggi-tinggi tidak dirapikan. Seperti kurang terawat.

Karena kami datang masih pagi, sudah menjelang siang, terasa benar panasnya berada di taman ini. Memang lebih cocok kalau berkunjung ke Taman Kain Inuh ini di sore hari.

Tidak lama di kain inuh, setelah sempat berkeliling taman ini, kami memutuskan untuk mengunjungi tempat lainnya.

Taman Hijau Kalianda


Tujuan kami kedua sebenarnya adalah ingin melihat Stadion di Kalianda. Awalnya kami pikir Stadion ini akan seperti PKOR Way Halim yang rame dengan warga yang olah raga di pagi harinya.

Setelah kami sampai di lokasi, ternyata berbeda jauh dengan bayangan saya. Kami sendiri ternyata tidak menemukan adanya stadion ini. Kami tidak menemukan lokasi stadion di mana. Keadaan sepanjang jalan pun ternyata sepi, hanya beberapa orang yang melintas.

Apakah stadionnya belum jadi atau gimana, kami tidak tahu.

Lalu, tidak sengaja, di sebelah kiri jalan, kami temukan ada tulisan "Taman Hijau Kalianda". Dari depan, kelihatannya taman tersebut bagus.

taman hijau kalianda
Taman Hijau yang kurang terurus

Kami pun segera mendekat, karena penasaran saja. Ada sebuah taman, tapi kok sepi sekali. Dan setelah kami lihat lebih dekat, ternyata taman ini sangat tidak terawat dan tidak rapi.

Pikir kami mungkin tamannya memang belum jadi. Kalau sudah di tata rapi, taman ini tentunya bisa menjadi destinasi wisata yang cukup menarik juga.

Kami pun mau masuk ke taman mini agak takut-takut juga, karena kami merupakan satu-satunya yang ada di sini, tidak ada orang lain.

Akhirnya kami cuma melihat dari luar, lalu melanjutkan perjalanan untuk mencari stadion, dan sampai jauh ternyata belum ketemu juga.

Kami pun memutar balik, lalu kembali menembus keramaian jalan lintas Sumatera.

Pantai Ketang


Setelah kecewa karena ternyata tidak bisa jalan-jalan pagi dan olah raga di kompleks Stadion, kami memutuskan untuk mengunjungi Pantai Laguna Helau.

Sempat muter-muter di kompleks perumahan, karena kami ingin mencoba jalan yang baru, ternyata keluar-keluar malah di Taman Kain Inuh, bukan di jalan menuju Pantai Laguna.

Kami pun kembali masuk ke Jalinsum, lalu masuk ke jalur dua pemda, dan mengikuti papan arah menuju Pantai Laguna.

Awalnya jalannya masih berupa jalan aspal halus. Lalu, setelah jalan sekitar beberapa ratus meter, jalan berubah menjadi jalan aspal yang rusak.

Kami pun jalan pelan-pelan saja, menyusuri jalan aspal yang ternyata sepanjang jalan sudah rusak semua.

Untungnya, di sepanjang jalan, kami dimanjakan dengan pemandangan pantai yang indah, air lautnya yang biru, dan suara ombak yang khas. Selain itu, pohon-pohon jagung ada di kiri dan kanan jalan, serasa berada di jalanan di Amerika.

Terlihat beberapa orang sedang memancing, dan beberapa kali kami berpapasan dengan orang yang lewat. Jalanan cukup sepi, jarang orang yang lewat jalan itu.

Namun, berdasarkan peta di Google Maps, jalan yang kami lalui ini tidak salah sehingga kami nyaman-nyaman saja tanpa rasa takut.

Sampai akhirnya, dari ketidak sengajaan, kami menjumpai pantai dengan karang yang bagus di sebelah kiri jalan.

Kami pun memutuskan untuk berhenti di sini, menikmati keindahan lautnya, dan berfoto-foto ria. Kami benar-benar terpesona dengan keberadaan pantai ini.

Setelah bertanya kepada salah seorang penjaga warung, katanya pantai ini bernama Pantai Ketang atau Pantai Batu Rame.

pantai ketang kalianda
Selfie di Pantai Ketang Kalianda

Duh, bagusnya pantai ini, sudah gratis, cantik pula. Gak nyesel lewat jalan ini. Kapan-kapan jika ada kesempatan, ingin berkunjung kembali ke pantai yang cantik ini.

Alau-alau Boutique Resort


Alau-alau Boutique Resort, dulunya bernama Laguna Helau Resort. Setelah bermain-main di Pantai Ketang, kami kembali memacu motor menuju Alau-alau Boutique Resort.

Ternyata masih lumayan juga jaraknya dari Pantai Ketang ini, mungkin karena jalannya yang jelek sehingga terasa jauh. Padahal kalau lihat di Google Maps mah dekat.

Masih melewati jalan aspal yang rusak, dan kemudian kami menemui sebuah perkampungan. Tak selang lama, kami temukan juga gerbang masuk menuju Alau-alau Boutique Resort, ada tulisanmnya di depan gerbang.

Kami berhenti sebentar, lalu terlihat penjaga melongok dari pos. Kami tanya, berapa tiket masuknya, dijawab sama penjaga itu tanya aja ke dalam.

Kami pun langsung saja masuk, tapi tidak terlihat ada orang di dalam.

Karena tak ada orang, kami langsung jalan menuju pantai, terlihat ada beberapa orang yang habis menginapan di penginapan kayu yang ada di resort ini.

alau alau boutique resort
Penginapan kayu di Alau-alau Boutique Resort

Terlihat juga penginapan yang lebih bagus di dekat "danau" di kompleks Alau-alau Boutique Resort.

Kami cuma berhenti sebentar saja di Resort ini, lalu kembali jalan dan kemudian keluar Resort untuk kembali ke Hotel Kalianda.

Sekitar pukul 11.00 siang kami sampai di hotel. Perut saya sudah mulas sejak di Pantai Batu Rame. Sesampai di hotel, saya pun langsung ke belakang dan lega sekali rasanya setelah BAB. Padahal pagi sudah BAB, tapi BAB lagi.

Dermaga Bom Lagi


Kami istirahat sebentar di hotel, sampi pukul 11.40. Setelah tidur sebentar, kami kemudian mengemasi barang-barang kami, kemudian check out dari hotel.

Tujuan kami selanjutnya adalah Dermaga Bom atau Kuliner Kalianda. Karena semalam cuma main sebentar dan rasanya kurang seru kalau tidak melihat dermaga di siang hari, maka kami pun memutuskan untuk kembali mengunjungi Pusat Pelelangan Ikan terbesar di Kalianda ini.

Karena hari sedang siang-siangnya, terasa benar perjalanan kali ini. Di Dermaga Bom pun matahari sedang terik-teriknya, untungnya angin pantai membuat udara lebih dingin.

Tidak lama setelah kami sampai di Dermaga, adzan dzuhur berkumandang. Kami pun memutuskan untuk sholat dzuhur di Dermaga Bom ini.

Di Dermaga Bom ini kami juga membeli batagor, yang rasanya cukup enak, dan murah juga. Cuma 5 ribu rupiah per porsinya. Kami juga memesan 2 buah es dugan campur susu, 1 buahnya 9 ribu rupiah.

Dermaga Bom ini mempunyai ciri khas payungnya yang seperti payung di madinah, katanya sih begitu.

dermaga bom kalianda
payung khas Dermaga Bom Kalianda

Tempat ini juga menjadi spot favorit anak muda untuk foto-foto selfie.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di Dermaga ini, selain sholat dan makan batagor, kami sempatkan juga untuk berkeliling dermaga ini dan berfoto-foto ria.

Krakatau Kahai Beach


Pukul setengah 2 siang, kami berangkat kembali dari Dermaga Bom menuju kawasan pantai yang ada di Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Kami tinggal mengikuti saja papan penunjuk arah yang ada di pinggir jalan.

Sepanjang perjalanan, kami benar-benar terpukau dengan keindahan pantai di pinggir jalan yang dapat kami nikmati secara gratis.

Ada satu pantai yang sangat bagus yang ada di pinggir jalan, dan kami sempatkan sebentar untuk berhenti di sini.

pantai pinggir jalan rajabasa
Pantai cantik di pinggir jalan kalianda-rajabasa
Kami pun kembali melanjutkan perjalanan, melewati banyak sekali pantai seperti Pantai Guci Kapal Batu, Pantai Canti, Dermaga Canti, Pantai Merpati, Pantai Wartawan, dan beberapa pantai lainnya.

Tujuan kami adalah Pantai Kahai, dan sesuai dengan perkiraan saya setelah membaca beberapa blog, Pantai Kahai ini adalah yang letaknya paling jauh.

Setelah menempuh perjalanan cukup lama, sampai juga kami di pantai Kahai ini.

pantai kahai rajabasa
Menikmati semilir angin di Pantai Kahai

Alya yang sempat tidur cukup lama sepanjang perjalanan, akhirnya bangun saat sampai di pantai ini. Di pantai Kahai kami cuma bisa jalan-jalan menikmati pemandangan yang ada. Untuk tempat mandi dan berenang, pantai Kahai ini kurang cocok.

Di pantai ini lebih banyak arena bermain anak-anak dan sangat cocok untuk liburan keluarga bersama si kecil.

Pantai Canti Indah


Mendekati waktu ashar, kami kembali melanjutkan perjalanan, kembali ke arah Kalianda, menuju pantai yang telah kami lewati sebelumnya. Tujuan kami satu, berenang, untuk memenuhi permintaan Alya yang dari tadi minta berenang.

Karena di Kahai Beach ini kurang bagus untuk berenang, maka kami memutuskan untuk berkunjung ke satu pantai lagi yang pasirnya bagus dan lembut.

Saya sempat bingung memilih antara Pantai Canti dan Pantai Guci Kapal Batu, namun pilihan akhirnya jatuh ke Pantai Canti.

Sebelum sampai Panti Canti, di pertengahan jalan, kami berhenti di sebuah mushola untuk menunaikan sholat ashar.

Mushola tersebut kelihatan kotor, tidak terurus, dan kebersihannya kurang terjaga. Sepertinya masyarakat sekitar kurang peduli dengan tempat ibadah.

Selepas ashar, sekitar pukul 4 sore, kami kembali berkendara menuju Pantai Canti, dan kali ini perjalanan terasa lebih cepat.

Di Pantai Canti ini saya dan Alya puas benar berenang dan main-main pasir. Enak sekali pasir di pantai Canti Indah, lembut dan nyaman.

pasir putih pantai canti
Bahagianya bermain bareng Alya di Pantai Canti Indah

Alya pun betah sekali dan ketawa terus setiap ada ombak yang datang dan menyeret kami. Betul betul liburan yang mengesankan.

Setengah 6 sore, kami memutuskan untuk pulang setelah membilas badan dan mandi serta ganti baju.

Sampai di pertigaan pemda Kalianda, persis mau magrib, jadi kami memutuskan untuk berhenti dulu, sholat maghrib di Masjid Kubah Intan.

Selepas maghrib, kami makan Simba Bakar di dekat Lapangan Korpri, dan rasanya nikmat benar, sampai kekenyangan. Alya pun lahap benar makannya.

Lalu kami pun pulang ke rumah, berhenti sebentar di Pom Bensin untuk sholat Isya, dan sampai di rumah pukul 10 malam. Kami langsung tidur begitu sampai di rumah.

Trip wisata yang benar-benar berkesan, dan liburan yang benar-benar membuat pikiran kembali fresh. Oh betapa asyiknya liburan dan piknik di Kalianda. Sangat recommended deh pokoknya traveling ke Lampung Selatan ini. Selamat mencoba ya.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.

4 komentar

tempat wisata pantainya banyak juga... jadi penasaran :)

Wuih! Seraaanikut jalan-jalan 😃😃

masih banyak yang belum kita kunjungi, kapan-kapan mesti ke sana lagi ^_^

Mba Neny juga suka jalan jalan tuh


EmoticonEmoticon