Monday, August 29, 2016

Siapa Bilang Kuliah Di STAN Susah?

Kuliah di STAN Susah? Hmmm, itu mungkin hanya anggapan bagi yang belum pernah kuliah di STAN kali yah. Atau mungkin yang dialami oleh sebagian mahasiswa atau alumni STAN yang terlalu takut kena DO tiap semesternya.

Kawan kuliah STAN
Teman Sekelas di STAN, Kelas 1B dan 2B

Yap, STAN memang terkenal dengan sistem DOnya, alias Drop Out. Setiap mahasiswa STAN diharuskan untuk mencapai IPK tertentu, jika IPK tidak tercapai otomatis ia dikeluarkan dari Kampus Ali Wardhana ini.

Hmmm, serem ya? Antara serem dan gak serem sih hehehe. Asal mau belajar saja, insyaalloh bisa mengikuti sistem perkuliahan yang ada di STAN.

Sebenarnya, yang susah itu bukan kuliah di STANnya, tapi masuk STANnya itu lho. Jika sobat sudah membaca tulisan saya tentang awal kisah saya dengan STAN, perjuangan saya dulu saat mau mendaftar saja harus antri super panjang dan menguji kesabaran.

Setelah itu, kita harus bersaing dengan peserta lainnya yang jumlahnya hampir 120.000 orang. Waktu itu, sekitar 119.600 pendaftar STAN di seluruh Indonesia, dan yang diterima cuma 2.300 orang, atau jika dipersentasekan kurang lebih 1,92%.

Dan alhamdulillah, lewat perjuangan yang melelahkan (lebay deh), akhirnya saya termasuk dari 2.300 orang yang diijinkan untuk mengecap pendidikan di Kampus Plat Merah milik Kementerian Keuangan ini.

Dinamika, Apaan Tuh?


Setiap mahasiswa STAN, yang akan mengikuti perkuliahan di Kampus Ali Wardhana, akan mengikuti kegiatan yang dinamakan Dinamika, singkatan dari Studi Perdana Memasuki Kampus. Kalau di kampus lain menggunakan istilah Ospek.

Dinamika ini sebenarnya gak wajib sih. Beberapa kawan seangkatan saya dulu ada yang tidak ikut Dinamika, dan mereka tetap lancar-lancar saja kuliah di STAN.

Hanya saja, Mahasiswa STAN yang tidak mengikuti kegiatan Dinamika tidak diizinkan mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi kampus.

Ada Perpeloncoan?


Dinamika di Kampus STAN jangan pernah dianggap sama dengan kegiatan di Kampus macam IPDN atau STTD yang penuh dengan senioritas dan kekerasan.

Pengalaman saya selama Dinamika dan kuliah di STAN, tidak ada istilah senior dan junior. Tidak ada pula aksi kekerasan kakak kelas kepada adik kelas. Semua adalah sahabat senasib dan seperjuangan. Ceileee.

Kegiatan Dinamika di Kampus STAN diisi dengan acara seminar, pengenalan kampus, dan berbagai acara positif lainnya. Jika ada kesalahan, peserta Dinamika dihukum dengan cara membuat paper, jadi benar-benar mendidik.

Sistem Kelas


Mahasiswa STAN akan dibagi ke dalam kelas-kelas, yang dimulai dari A, B, C dan seterusnya. Persis pembagian kelas seperti waktu jaman sekolah. Ada kelas 1A, 1B, 1C, 2A, 2B, 3A, 3B, dan seterusnya. Namun setelah STAN berubah nama menjadi PKN STAN, saya kurang tahu apa masih menggunakan sistem seperti ini atau tidak.

Kelas 1, berarti untuk mahasiswa tingkat 1 (Semester 1 dan 2), Kelas 2 berarti untuk mahasiswa tingkat 2 (Semester 3 dan 4), dan Kelas 3 berarti mahasiswa tingkat 3 (Semester 5 dan 6). Persis benar dengan kelas anak SMA dan SMP.

Kelas yang paling banyak adalah spesialisasi Akuntansi, bisa sampai M, N, atau malah lebih dari itu. Sedangkan spesialisasi yang saya ambil, cuma ada 4 kelas, A, B, C, dan D.

kelas 3c Kebendaharaan Negara 2009
Sebagian teman sekelas 3C Kebendaharaan Negara 2009

Saya sendiri kebagian kelas 1B, 2B, dan 3C. 1B dan 2B dengan teman sekelas yang sama, sedangkan kelas 3C diacak lagi, sehingga kami harus berpisah dengan kawan-kawan sekelas yang sudah 2 tahun memupuk keakraban.

Meskipun sistemnya sistem kelas, tapi untuk ruangan kuliah tetap menggunakan sistem moving class. Biasanya sudah ditentukan dari jadwal, untuk kuliah ini di ruangan ini, meskipun pada praktiknya sering ngacau juga ruangannya.

Kuliahnya Dirapel


Mahasiswa STAN sudah terbiasa dengan sistem kuliah yang dirapel. Maksudnya? Yah, dirapel. Jadi kuliah dalam setengah semester dikumpulkan dalam satu atau dua hari, karena waktu dosen untuk datang ke kampus yang tidak ada.

Dosen STAN rata-rata adalah Pegawai Kemenkeu, BPK, atau BPKP yang mengabdi untuk kampus tercinta. Mereka bukanlah berasal dari jabatan fungsional dosen, sehingga sering karena kesibukan pekerjaan mereka tidak dapat datang mengajar ke kampus.

Efeknya, sering mahasiswa kuliah seharian di hari Sabtu atau Minggu, merapel kuliah selama setengah semester yang belum pernah sekalipun ada pertemuan.

Rapel kuliah seringnya dilaksanakan mendekati ujian tengah semester (UTS) atau ujian akhir semester (UAS). Hebat banget kan, selama setengah semester, satu mata kuliah cuma pertemuan 1 atau 2 hari, lalu setelah itu UTS. Mantap.

Namun, dengan berubahnya STAN menjadi PKN STAN, bisa jadi sistem perkuliahan sudah tidak begini lagi. Dosen PKN STAN setahu saya sudah dikhususkan dari Pejabat Fungsional Dosen.

Jadwal Kuliah Tidak Berlaku


Setelah ujian tengah semester atau ujian akhir semester, STAN selalu mengeluarkan jadwal kuliah untuk mahasiswanya. Di situ tercantum hari apa saja harus masuk kuliah, jam berapa, mata kuliah apa, dan siapa dosennya.

Hanya saja, dalam praktiknya, seperti saya sebutkan di atas, karena kesibukkan dosen di kantornya, sehingga akhirnya jadwal kuliah yang ditetapkan sama sekali tidak berlaku. Waktu perkuliahan disesuaikan dengan jadwal sebisanya si dosen.

Oleh karena itu, sering kita sudah datang ke kampus, lalu dosennya sms atau telepon ke ketua kelas, bahwa ia tidak bisa datang ke kampus.

Atau terkadang kita sedang asyik tidur di kos, tiba-tiba ada sms kalau pada saat itu juga harus datang ke kampus untuk kuliah.

Jarkom


jarkom
Jarkom Kelas

Jarkom, atau Jaringan Komunikasi, berperan penting menggantikan jadwal kuliah kita. Jarkom adalah sms secara berurutan, dari Ketua Kelas, kepada grup-grup sms yang masing-masing grup terdiri dari 4-5 orang. Tiap mahasiswa akan mengirim sms kepada mahasiswa dalam 1 grup itu.

Jadi, pertama-tama ketua kelas akan mengirim sms kepada tiap-tiap mahasiswa yang paling atas di daftar nama grup. Lalu mahasiswa yang menerima sms dari ketua kelas, mengirimkan kepada nama di bawahnya, dan nama di bawah tadi mengirim ke nama di bawahnya lagi. Begitu seterusnya.

Nama paling bawah, harus mengirimkan sms kembali kepada ketua kelas untuk mengontrol bahwa dalam 1 grup semua nama telah menerima sms. Jika ketua kelas belum menerima sms dari salah satu grup, berarti ada yang belum menerima sms, dan biasanya ketua kelas mengirim sms dibalik, dari nama yang paling bawah di grup tadi.

Kalau dari gambar di atas, Ketua Kelas mengirim SMS ke Amin dan Chandra. Kemudian Amin SMS ke Budi, dan Chandra SMS ke Dodi. Terakhir, Budi dan Dodi mengirim SMS ke ketua kelas.

Dari Jarkom ini lah kuliah kami diatur, sehingga jadwal kuliah memang tidak berlaku. Keaktifan ketua kelas memegang peranan vital, selain koordinasi dengan dosen, juga koordinasi dengan kelas lain mengenai penggunaan kelas dan jadwal kuliah.

Kuliah Santai


Awal-awal masuk kuliah, biasanya kuliah sering libur karena dosen tidak bisa datang mengajar ke kampus. Maka kami mahasiswa sering bersantai-santai ria di awal-awal kuliah. Mendekati UTS dan UAS barulah, dosen merapel kuliah.

Dosen-dosen STAN juga baik-baik, beberapa ada yang galak juga sih. Tapi, overall, mereka baik-baik, karena mereka juga rata-rata pernah jadi mahasiswa STAN juga.

Saya sendiri selama kuliah, merasa santai sekali. Saya bersama kawan-kawan, biasa belajar SKS, sistem kebut semalam. Begitu ujian, barulah kita belajar serius. Tapi kadang gak serius juga. Saya punya kawan, cuma belajar 1-2 jam sebelum ujian, tapi lulus juga, gak kena DO. Hebat juga ya. hehehe.

Dengan sistem kuliah yang suka dirapel, cara belajar kita juga sering dirapel, dengan sistem SKS. Meskipun sebenarnya tidak semua dosen kuliahnya dirapel, ada juga yang rapelnya dua minggu sekali, bahkan ada juga dosen yang tiap minggu datang.

Begadang sampai pagi


Seperti kebiasaan mahasiswa pada umumnya, saya dan kawan-kawan juga biasa begadang di salah satu kos salah seorang di antara kami. Biasanya kami main PS dan poker. Karena PS cuma satu, jadi ganti-gantian. Saat dua orang main PS, yang lainnya main poker.

Selepas sholat subuh baru kita pulang ke kos masing-masing, lalu tidur sampai siang. Hahaha. Mahasiswa banget kan.

Kuliah di STAN itu memang santai banget sih. Kuliah di STAN memang tiada duanya lah. Siapa bilang kuliah di STAN susah?

Dapat Uang Saku


Mahasiswa STAN dapat uang saku saat duduk di tingkat III (Semester 5 dan 6). Itu pun sebenarnya gak banyak, 40ribu per bulan, lumayan lah buat beli pulsa.

Beda banget sama STIS, STMKG, atau kampus ikatan dinas yang lain. Mereka dapat uang saku cukup besar per bulannya.

Kalau dulu-dulunya, dari tingkat 1 sudah dapat uang saku juga, malahan tingkat 2 sudah diangkat jadi CPNS dan dapat gaji. Kebetulan pas jaman saya, sudah tidak berlaku lagi. Tidak tahu kalau sekarang, masih ada uang saku atau tidak.

Yah, itulah catatan singkat saya mengenai pengalaman kuliah di STAN yang susah, susah dilupakan maksudnya. Enak sekali kuliah di STAN itu, dengan teman-teman yang super kece. Jangan lagi berpikir kuliah di STAN itu susah ya.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.


EmoticonEmoticon