Saturday, August 13, 2016

Ke Lembah Hijau Lagi, Untuk Ke Sekian Kali

Ke Lembah Hijau Lagi untuk Ke Sekian Kali - Tanggal 11 Juli 2016, orang tua saya datang dari Purbalingga, untuk berkunjung ke rumah saya. Kedatangan orang tua adalah sesuatu yang paling membahagiakan, dan kalau bisa orang tua justru bisa tinggal sama kita.

Sebenarnya, rencana awal saya ingin membelikan tiket kereta api sekitar tanggal 24 Juli, karena sebelum tanggal itu tiket kereta api sudah habis, masih ramai dengan arus balik lebaran.

Namun, orang tua saya memutuskan untuk berangkat naik bis saja hari Seninnya, dan terkena macet di Cirebon sampai 6 jam lebih. Lewat Cirebon, arus kendaraan sudah mulai lancar. Bersama mereka, ikut juga keponakan saya, Fiqih.

Fiqih ini yang sudah saya janjikan kalau di Bulan Juli ini akan ke Lampung ke rumah kami naik kereta. Pada mudik kami ke Purbalingga sebelumnya di bulan Februari, Fiqih ini nangisnya susah berhenti, saat menyaksikan Alya dan kami pulang ke Lampung naik kereta di Stasiun Purwokerto.

Kami pun merasa kasihan benar, karena Fiqih dan Alya ini sedang akrab-akrabnya main bareng, lalu tiba-tiba harus dipisahkan karena kami harus pulang ke Lampung.

Hari Selasa, 12 Juli 2016 akhirnya mama dan bapak sampai di rumah saya, dengan menggunakan travel dari Bakauheni ke Pringsewu, lalu turun di rumah saya di Pesawaran.

Waktu itu saya baru saja pulang kerja. Persis sebelum maghrib, alhamdulillah mereka sudah sampai di rumah. Padahal, karena macet, perkiraan saya mereka baru akan sampai sekitar pukul 9 malam.

Sesampainya Fiqih di rumah, Alya pun langsung gembira dan langsung ngobrol banyak, saling menceritakan kegiatannya.

manja sama mbah
Fiqih dan Alya langsung akrab dan bermain sama mbah

Kelihatan benar kedua anak kecil ini langsung akrab dan bermain-main sama mbahnya, minta dimanjain.


Jalan-jalan Hari Sabtu


Hari Sabtu, saya baru punya waktu untuk mengajak mereka jalan-jalan, karena Senin sampai Jumat saya harus masuk kantor.

Sudah lama saya menjanjikan kepada Fiqih untuk jalan-jalan ke pantai kalau mereka datang ke Lampung. Maka, libur hari Sabtu kali ini saya putuskan untuk mengajak mereka jalan-jalan ke Pantai.

Pantai tujuan kami, yang paling dekat dengan rumah kami, yaitu Pantai di daerah Teluk Lampung. Dan berdasarkan pengalaman kami, pantai yang paling bagus menurut kami adalah Pantai Sari Ringgung.

Jadilah pagi-pagi kami sudah siap-siap mempersiapkan apa yang akan kami bawa ke pantai.

Karena hari masih terlalu pagi, maka saya putuskan untuk jalan-jalan dulu ke Lembah Hijau Lampung, mumpung lokasinya satu arah dengan Pantai Sari Ringgung, dan lokasinya juga persis ada di pinggir jalan. Kebetulan juga kami belum pernah masuk ke Taman Satwa Lembah Hijau, sehingga kami ingin mengajak mereka berkunjung ke Taman Satwanya.

Duh, Cuma Punya Motor 1


Kami tidak cuma kedatangan orang tua saya dari Jawa, ibu mertua saya dari Gisting juga main ke rumah, beserta adik istri saya. Jadi di rumah kami benar-benar ramai, ada saya dan mama, Alya, Fiqih, mama dan bapak saya, ibu mertua saya, dan adik istri saya.

Masalahnya, saya cuma punya 1 motor, tidak mungkin bisa mengajak mereka semua. Dan masalah lainnya, yang bisa naik motor cuma saya dan Bapak saya. Kalau ada 1 lagi yang bisa naik motor mungkin tidak terlalu masalah.

Sempat kepikiran juga mau menyewa mobil, tapi lagi-lagi di antara kami tidak ada yang bisa menyetir mobil, sehingga harus menyewa sopirnya juga kalau ingin menyewa mobil. Nambah biaya lagi pastinya.

Yah, mudah-mudahan nanti bisa beli mobil ya, aamiin.

Lalu kami putuskan saja, untuk meminjam satu motor tetangga, yang kebetulan dengan baik hati mau meminjamkan motornya kepada kami. Dan mau tidak mau, kami pun harus berdesak-desakan dalam satu motor.

Adik istri saya, tidak kami ajak, dan kebetulan dia juga ada acara ketemu sama teman kuliahnya.

Jadilah satu motor diisi saya, mama, dan ibu mertua saya. Sedangkan motor satunya diisi Mama dan Bapak saya, serta Fiqih dan Alya.

Karena biasanya jarang ada razia makanya kami pun nekad naik motor ramai-ramai begini, meskipun kalau dilihat kayaknya ribet juga ya hehehe.

Sekitar pukul 9 pagi lewat, kami pun berangkat menuju Kemiling, namun kami mampir dulu sebentar ke warung untuk membeli sarapan nasi uduk.

Setelah membungkus beberapa nasi uduk, perjalanan kami lanjutkan, melewati Negeri Sakti, Kurungan Nyawa, Kemiling, kemudian masuk ke Palang Besi dan sampailah kami di Lembah Hijau.

Girangnya Fiqih dan Alya Melihat Aneka Binatang


Di gerbang masuk Lembah Hijau, kami harus membayar tiket masuk sebesar Rp10.000,- per orang, harga tiket masuk masih belum naik dibandingkan dengan kunjungan kami sebelumnya.

Anak kecil 1 tahun ke atas juga sudah dikenakan tiket masuk sehingga Alya dan Fiqih juga dikenakan tiket masuk Rp10.000,-.

Sedangkan tiap motor dikenakan parkir sebesar Rp2.000,-.

Kami pun langsung masuk setelah membeli tiket, dan tujuan kami langsung ke Taman Satwa Lembah Hijau. Motor kami parkir di depan gerbang Taman Satwa, bersama-sama dengan kendaraan lainnya.

Untuk masuk ke Taman Satwa, kami harus membayar tiket masuk lagi, masing-masing sebesar Rp25.000,- per orang, termasuk anak 1 tahun ke atas juga dikenakan tiket masuk.

Dan pemandangan yang pertama kali kami lihat adalah  burung pelikan yang cantik yang sedang main-main di sebuah kolam yang hijau nan asri.

foto burung pelikan taman satwa lembah hijau
Burung pelikan yang cantik di Taman Satwa Lembah Hijau

Spot ini biasanya menjadi spot favorit untuk berfoto saat pengunjung baru masuk karena bisa menjadi background foto yang betul-betul indah.

kolam burung pelikan
Berfoto di depan kolam burung pelikan

Setelah itu, kami terus berkeliling melihat-lihat koleksi satwa yang ada di Taman Satwa Lembah Hijau, ada Siamang, Owa Sumatera, Rusa dengan berbagai jenis, kasuari gelambir ganda, kambing gunung afrika, dan kami pun berhenti di depan kandang beruang madu.

Pada saat kami sampai di kandangnya, beruang madu tidak kelihatan karena sedang dimandikan oleh si pawang. Kami pun menggelar tikar, lalu sarapan nasi uduk yang kami beli tadi, sambil menunggu beruang madu selesai mandi.

Lagi-lagi kali ini Alya keluar kebiasaannya, minta ee. Gak kenal tempat, gak di masjid, gak di rumah orang, lagi-lagi alya minta ee kalau diajak jalan-jalan. Mama pun mencari toilet dan membawa Alya ke sana.

Setelah itu, datang mobil box yang membawa pisang dan pepaya untuk makan beruang madu. Dan beruang madu pun keluar setelah mandi, lalu mereka menikmati pisang dan pepaya yang baru saja datang.

Selesai sarapan dan melihat beruang madu makan dengan lahapnya, kami melanjutkan perjalan melihat koleksi binatang lainnya, ada buaya irian, binturong, dan rusa lagi yang jumlahnya sangat banyak. Fiqih dan Alya pun memberi makan rusa-rusa ini, sayangnya Alya malah takut-takut.

memberi makan rusa di taman satwa lembah hijau
Fiqih memberi makan seekor rusa

Dan kami pun melanjutkan berkeliling lagi, kali ini Alya minta gendong, kecapekan. Cuaca juga sudah semakin siang, dan terasa benar terik mataharinya.

Foto Bersama Burung di Taman Burung


Setelah memberi makan rusa, Fiqih dan Alya kegirangan melihat adanya kandang gajah. Sayangnya, gajah-gajahnya tidak ada di kandangnya, sehingga kami pun pergi ke taman burung terlebih dahulu.

Melihat lapangnya taman burung, Alya kemudian turun dari gendongan dan langsung lari-lari bareng Fiqih. Mereka masuk duluan ke taman burung.

Kami pun menyusul mereka, lalu melihat pawang burung sedang main-main bersama burung yang cantik. Mama mencoba untuk berfoto bersama burung, dan Fiqih pun berani juga mencobanya. Alya malah ketakutan tidak berani, cuma melihat saja.

foto bareng burung di taman burung
Mama dan Fiqih berfoto bersama burung, Alya cuma ngelihatin

Kemudian kami berkeliling Taman Burung yang cukup lebar ini. Koleksi burung di Taman Burung ini memang banyak sekali, mungkin ratusan. Ada juga kandang burung raksasa dengan jaring yang besar yang ukurannya lebih tinggi dari pepohonan di dalamnya sehingga burung-burung yang ada di dalam jaring itu seperti hidup di alam bebas.

Suara burung-burung yang kami lewati pun cukup ramai, membuat kunjungan kami terasa menyenangkan. Pepohonan yang rimbun, membuat suasana cukup teduh. Mayoritas pohon yang ditanam di Lembah Hijau Lampung ini adalah tanaman buah seperti durian, rambutan, melinjo, dan buah lainnya sehingga dapat dimanfaatkan untuk makan satwa.

Sayangnya, kami tidak dapat masuk ke kandang burung raksasa dan lewat jembatan di atasnya, sehingga kunjungan kami terasa kurang lengkap.

Naik Gajah


Capek juga rasanya keliling Taman Burung Lembah Hijau, untungnya di dalamnya ada beberapa tempat duduk sehingga beberapa kali kami istirahat dan meminum air yang kami bawa dari rumah.

Setelah keluar dari Taman Burung, kami duduk-duduk sebentar di dekat tempat naik gajah. Tidak lama kemudian, 4 ekor gajah yang kami nantikan pun datang, lewat di depan kami. Keempat ekor gajah tersebut benar-benar besar dan tinggi, yang konon didatangkan langsung dari Way Kambas.

Duduk di atas 4 ekor gajah tersebut, masing-masing seorang pawang yang sedang memberikan instruksi agar gajah-gajah jalan menuju kandang untuk dimandikan.

Saya, Fiqih, dan Alya kemudian mengikuti gajah-gajah tadi menuju kandang mereka, lalu menyaksikan mereka dimandikan oleh si pawang.

Kami memang tidak dapat langsung naik ke gajah tersebut, harus menunggu gajah-gajahnya selesai mandi, biar bersih dan segar.

Selesai dimandikan, kami harus menunggu lagi si penjual tiketnya datang, dan agak lama juga, barulah ia datang, setelah ditelepon oleh pawang gajahnya.

Kali ini yang naik gajah cuma mama dan Fiqih. Bapak saya suruh naik gajah gak berani, Alya pun ketakutan juga. Sudah sampai di atas, tapi gak berani naik. Jadilah cuma mama dan Fiqih yang naik gajah, setelah membayar tiket sebesar Rp40.000,- per orangnya.

Pertama-tama, pawang meletakkan kursi penunggang dulu di punggung gajah, lalu mengikatkan tali ke kanan, kiri, depan, dan belakang agar kursi penunggang kuat dan tidak goyah. Setelah kokoh, barulah pengunjung dipersilahkan naik dan duduk di kursi yang telah dipasang tadi.

naik ke atas mau naik gajah
Mama, Alya, dan Fiqih mau naik ke tempat naik gajah

Mama dan Fiqih pun kemudian diajak berkeliling lapangan oleh si pawang bersama gajah tunggangan, dan si gajah kemudian meniup harmoni mengikuti instruksi si pawang.

naik gajah lembah hijau
Mama dan Fiqih naik gajah Lembah Hijau

Sayangnya, naik gajahnya tidak lama, sekitar 5 menit saja, dan cuma keliling lapangan. Rasanya kurang puas. Cukup mahal juga sih bayar 40ribu satu orang, tapi yah biaya pemeliharaan gajah memang mahal kali ya. Gapapa lah.

Setelah naik gajah, kami mencoba berkunjung ke pentas satwa, sayangnya pengunjung masih sepi sehingga pentas satwanya belum digelar.

Kami pun memutuskan untuk keluar, lalu mengantar Alya dan Fiqih untuk perosotan di arena outbond dekat gerbang masuk.

Sementara itu, kami sholat dzuhur dulu di masjid. Setelah selesai, kami pun keluar Lembah Hijau dan melanjutkan liburan kami ke Pantai Sari Ringgung.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.


EmoticonEmoticon