Friday, July 1, 2016

Traveling Jogja Hari Kedua: Keliling Malioboro, Candi Prambanan, dan Candi Sewu

Senin, 14 September 2015, hari kedua kami di Jogja, kami mulai dari jalan-jalan dulu ke Malioboro untuk mencari sarapan, setelah itu perjalanan kami lanjutkan menuju Candi Prambanan dan Candi Sewu. Berhubung kami tidak hafal jalan di Jogja, dan tidak ada GPS, maka kami pun membolang asal jalan.

Sampai sekarang saya masih bingung jalanan di Jogja ini. Kalau saya perhatikan, jalan di Jogja ini terlalu banyak persimpangan jalan dan terlalu banyak lampu merah, sehingga baru jalan sebentar, lagi-lagi ketemu lampu merah.

Seperti jalan-jalan di Purwokerto yang banyak juga persimpangan dan lampu merah.

Sewa Motor di Jogja


Awalnya, kami berencana untuk naik bus TransJogja saja untuk jalan-jalan keliling kota Yogyakarta. TransJogja sendiri sebenarnya sudah menjangkau berbagai tempat di Jogja, ditunjang dengan angkutan lain.

Namun, setelah kami pertimbangkan, rasanya kurang puas kalau tidak membawa kendaraan sendiri, tidak bisa keliling semau kami. Kurang fleksibel.

Akhirnya, kami pun memutuskan untuk sewa motor saja. Setelah bertanya kepada mba yang jaga penginapan Pondok 71, ternyata Pondok 71 menyediakan juga sewa motor harian. Lalu kami ambil satu motor untuk kami sewa selama hari itu dengan biaya sewa 70 rupiah per harinya (24 jam).

Untuk jaminan, kami diminta menyerahkan 4 dokumen identitas asli, seperti KTP, NPWP, atau kartu lainnya. Perlu diketahui juga, untuk sewa motor ini, segala kerusakan dan kehilangan motor menjadi tanggung jawab penyewa. Jadi mesti hati-hati dan jaga benar kendaraan yang kita sewa.

Motor yang kami sewa dilengkapi dengan 2 buah helm, 1 buah mantel, STNK, dan juga 1 buah peta wisata Jogja, yang setelah kami lihat, ternyata peta tersebut merupakan produk dari yogyes.com.

Untuk jenis motornya, kebetulan waktu itu cuma tersisa dua buah motor, dan dua-duanya motor matic. Satunya Honda Spacy dan satunya lagi Honda Vario. Kami ambil yang Vario saja. Kondisi bensin motor yang kami sewa sudah hampir habis hehehe.

Pengusaha memang tidak mau rugi ya ^_^.

Sarapan di Malioboro


Setelah membayar sewa motor, sekitar pukul 8 pagi, saya keliling dulu untuk mencari minimarket, membeli beberapa keperluan dan bekal. Tidak jauh dari Pojok Benteng barat, jalan sekitar 100 meter ke arah barat, akhirnya saya temukan sebuah indomaret.

Pukul 9 kurang, kami berangkat dari penginapan. Melihat peta sebentar, mengira-ngira lokasi Malioboro, dan motor kami pun menembus keramaian pagi hari di Kota Jogja.

Apa yang ada di peta ternyata tidak sesederhana dengan dunia nyata. Banyak arah jalan, gang, dan belokan-belokan membuat saya agak bingung mau ambil jalan yang mana.

Belum lagi kami belum tahu mana jalan yang satu arah dan mana jalan yang dua arah. Alhasil, kami pun sempat melenceng sedikit dari jalur, namun akhirnya bisa sampai juga ke Jalan Malioboro.

Melihat tenda-tenda sudah berjejer di sepanjang Jalan Malioboro, kami pun memutuskan untuk berhenti di salah satu tenda yang menjual nasi gudeg juga.

Sebelumnya, saya belum pernah makan di tenda pinggir jalan Malioboro, sehingga pengin coba saja sarapan di sini.

Setelah masuk ke tenda dan duduk, kami lihat daftar menu dan harga makanan, ternyata mahal-mahal juga. Hmm, saya pikir makanan di Jogja ini murah-murah, tapi ternyata di sini mahal-mahal.

sarapan di malioboro
Kami sarapan di sebuah tenda di pinggiran jalan Malioboro Jogja
Sudah kepalang masuk, kami pun memesan makanan. Mama pesan burung dara goreng, dan saya pesan Gudeg telor. Total kami harus membayar 72 ribu rupiah.

Saran saya, bagi anda yang ingin jalan-jalan ke Jogja, jangan sarapan di tenda pinggiran jalan Malioboro ini, selain rasanya yang kurang, ternyata harganya mahal-mahal juga.

Yah, setidaknya buat pengalaman saja makan di Malioboro ini, dan tidak lagi mampir di tenda-tenda ini, kapok sudah hehehe.

Melanjutkan Perjalanan ke Candi Prambanan


Setelah sarapan, rencana kami sebenarnya mau ke Taman Pintar yang lokasinya tidak jauh dari Benteng Vredeburg dan juga Jalan Malioboro. Kami pun memacu motor menuju pintu gerbang Taman Pintar Jogja ini.

Sesampai di depan pintu masuk, kami lihat gerbang masih ditutup, dan kebetulan ada satpam yang sedang bertugas.

"Pak, Taman Pintarnya belum buka ya?".

"Oh, hari Senin Taman Pintar tidak buka mas, tutup, datang besok saja mas".

Hmm, sedikit kecewa juga sih, dan sempat bingung juga, mau ke mana, mengingat dari awal rencananya memang mau ke Taman Pintar ini.

Akhirnya kami sepakat untuk ke Candi Prambanan saja, mumpung hari masih pagi. Setahu saya, Candi Prambanan lokasinya jauh dari Malioboro.

Karena masih buta lokasinya ada di mana, sepanjang jalan kami mengandalkan bertanya pada orang yang kami jumpai. Ada yang menjawab tidak tahu, karena bukan orang Jogja, dan ada juga yang memberikan petunjuk jalan kepada kami.

Setelah beberapa kali bertanya kepada orang, dan mengisi bahan bakar sebentar, akhirnya ketemu juga Candi Prambanan, dan sebetulnya sama sekali tidak sulit untuk ditemukan, karena lokasinya ada di pinggir jalan raya dan tinggal lurus saja mengikuti papan penunjuk jalan.

Capek Juga ya Mengelilingi Candi Prambanan dan Candi Sewu


Begitu melihat bangunan candi dari pinggir jalan, kami pun langsung masuk menuju kawasan candi. Petugas parkir langsung memberikan tiket parkir motor begitu kami masuk, lalu mengarahkan kami harus parkir di mana.

Kami sampai di kompleks Candi Prambanan ini pukul 11 siang lewat. Jadi hari sedang panas-panasnya, dan musim memang sedang musim kemarau. Matahari pun benar-benar terik.

Sebelum ke loket penjualan tiket masuk, kami istirahat sebentar, berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang, menikmati minuman dan makanan ringan yang kami bawa. Naik motor di siang hari dari Malioboro sampai Candi Prambanan membuat tenggorokan kami kering.

Sambil berteduh, saya perhatikan, ternyata lahan parkir di kompleks Candi Prambanan ini sangat luas. Bisa menampung bus-bus dan juga mobil-mobil yang cukup banyak.

Setelah istirahat beberapa menit, kami bergerak menuju loket penjualan tiket. Di loket kami ditawari mau masuk ke Candi Prambanan saja atau mau tiket untuk paket ke Candi lainnya, Candi Boko kalau tidak salah.

Harga Tiket Masuk Candi Prambanan


Harga tiket masuk Candi Prambanan dibedakan antara anak-anak dan orang dewasa. Tiket masuk juga dibedakan antara wisatawan dalam negeri dengan wisatawan asing.

Pada saat saya berkunjung, harga tiket masuk untuk wisatawan dalam negeri, tiket masuk anak-anak/pelajar seharga 12.500 rupiah dan tiket masuk dewasa 30.000 rupiah. Jika ingin membeli tiket terusan, cukup 20.000 rupiah bagi anak-anak/pelajar dan 50.000 untuk dewasa, sudah bisa berkunjung ke Candi Prambanan dan Istana Ratu Boko.

Karena kami berkunjung sudah cukup siang, maka kami cuma pesan tiket ke Candi Prambanan saja, takut waktunya tidak cukup jika berkunjung ke Istana Ratu Boko juga.

Candi Prambanan


Perjalanan kami mulai dengan berkunjung ke Candi Prambanan. Candi Prambanan ini menurut saya begitu mengagumkan, disusun dari batu-batu besar, dan berdiri kokoh menjulang tinggi setinggi 47 meter menjadikan candi ini sebagai candi hindu tercantik di dunia.
candi prambanan
Keanggunan Candi Prambanan yang menjulang tinggi

Candi Prambanan ini lebih tinggi daripada Candi Borobudur di Magelang, dan merupakan candi tertinggi di Indonesia.

Saat memasuki Candi Prambanan, kami jumpai ada 3 buah candi besar yang menghadap ke timur, dan setelah kami baca, ketiga candi tersebut ternyata merupakan candi utamanya. Di sebelah utara, ada Candi Wisnu, kemudian Candi Syiwa di bagian tengah, dan Candi Brahma di bagian selatan.

Berseberangan dengan ketiga candi itu, berjejer juga 3 candi lainnya menghadap ke barat, yang merupakan candi wahana/candi kendaraan. Di seberang Candi Wisnu ada Candi Garuda, di seberang Candi Syiwa ada Candi Nandi, dan di seberang Candi Brahma ada Candi Angsa.

Selain 3 candi utama dan 3 candi pasangannya, masih ada juga 2 buah candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut.

Di sekeliling candi-candi tersebut kami jumpai juga tumpukkan batu-batu yang sangat banyak tak terhitung jumlahnya, yang konon kumpulan batu tersebut merupakan candi-candi kecil dulunya, namun sudah runtuh.
reruntuhan candi kecil
Candi candi kecil yang sudah berbentuk reruntuhan batu batu

Tidak puas hanya melihat dari bawah, kami pun naik ke atas dan melihat-lihat isi candi. Seperti candi-candi pada umumnya, di candi prambanan ini juga dijumpai patung-patung dan relief-relief pada dinding candinya. Naik ke candi dan berjalan mengelilinginya membuat perasaan makin takjub kepada arsitektur jaman dulu.
naik candi prambanan
Di atas Candi Prambanan
Pengunjung dilarang duduk-duduk di atas dinding dan juga menginjakan kaki di bagian-bagian tertentu, namun dasar watak orang Indonesia, makin dilarang makin ditentang. Banyak saya jumpai pengunjung yang nekad padahal berbahaya buat keselamatan.

Meskipun cuaca panas di siang hari, ternyata pengunjung Candi Pramabanan ini cukup ramai. Bukan hanya pengunjung lokal, turis asing banyak sekali yang berkunjung, baik turis barat maupun turis timur.

Dan uniknya, ada seorang turis asal Inggris, yang melihat saya pakai kaos Liverpool, lalu ngobrol sedikit tentang Liverpool. Dia bilang dia punya saudara juga, seorang Fans Liverpool, dan mengoleksi pernak-pernak Liverpool seperti saya juga.

Bermain di Taman


Setelah puas berkeliling melihat-lihat keajaiban Candi Prambanan, kami menuju taman yang ada di kompleks Candi. Enaknya datang ke Candi Prambanan ini adalah taman yang luas dengan berbagai arena permainan anak.

Wisata ke Candi Prambanan ini sangat cocok untuk wisata keluarga sekaligus mengajarkan sejarah kepada anak. Selain jadi mengenal warisan peninggalan nenek moyang, kita juga bisa mengajak anak-anak bermain di taman.

Di taman ini, begitu lihat kereta-keretaan, Alya langsung minta naik. Dengan sewa yang murah, cuma 3 ribu rupiah saja, Alya sudah bisa naik kereta-keretaan berkeliling beberapa kali putaran.

Lalu kami pun naik ayunan, kemudian Alya main perosotan, dan terakhir mencari mushola dan toilet di dekat taman ini.
ayunan di taman candi prambanan
Bermain ayunan di taman candi prambanan

Setelah sholat, kami bergerak menuju kolam ikan cantik di taman dan kemudian kembali jalan-jalan keliling melihat candi-candi yang lain.

Candi Sewu


Selepas dari taman, kami kembali jalan-jalan keliling kompleks Candi Prambanan, dan ternya baru kami tahu kalau ternyata masih banyak candi-candi lain selain Candi Prambanan. Sepanjang perjalanan, kami jumpai beberapa candi tersebar di beberapa lokasi.

Candi yang ada di sini pun ternyata bukan hanya candi hindu. Dan dari sekian banyak candi yang ada, setelah kami berjalan jauh mendekati ujung kompleks Candi Prambanan, ternyata kami temukan candi Budha yang besar, dan setelah kami lihat papan namana, candi tersebut adalah Candi Sewu.
Candi Sewu Jogja
Kompleks Candi Sewu, 800 meter dari Candi Prambanan

Kami menemukan Candi Sewu ini secara tidak sengaja, dan sebelumnya kami memang belum tahu kalau masih ada candi besar juga di kompleks Candi Prambanan.

Setahu saya, cuma ada Candi Prambanan saja, dan ternyata setelah kami masuk ke dalam Candi Sewu ini, menurut saya Candi ini lebih cantik dibandingkan dengan Candi Prambanan. Jumlah candinya pun mungkin lebih banyak.

Candi Sewu ini umurnya lebih tua dibandingkan dengan Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Meskipun namanya Candi Sewu, jumlah candi di sini ternyata tidak sampai 1000. Konon jumlah candi Sewu total ada 249 candi.

Sayangnya, karena lokasinya yang jauh dari Candi Prambanan, banyak pengunjung yang tidak tahu kalau ada Candi Sewu di kompleks Candi Prambanan ini. Kami sendiri kalau tidak jalan berkeliling tidak akan tahu keberadaan candi ini.

Bagi anda yang berkunjung ke Prambanan, jangan lewatkan untuk datang ke Candi Sewu ini, karena betul-betul cantik dan mengagumkan.

Jika kita jalan kaki memang sangat capek rasanya, seperti kami ini. Berkeliling kompleks Candi Prambanan sampai dengan Candi Sewu ini ternyata sangat menguras tenaga. Kami pikir kompleks candi tidak begitu luas, tapi ternyata sangat luas.

Harus benar-benar menyiapkan tenaga ekstra, atau bisa juga sewa sepeda kalau tidak ingin jalan kaki.

Pulang ke Penginapan Selepas Ashar


Setelah pegal-pegal badan jalan-jalan seharian, sehabis Ashar kami pun pulang ke penginapan. Dan sayangnya, kami lupa jalan yang kami lalui tadi saat berangkat, dan kami pun berputar-putar jauh, yah sekalian jalan-jalan mengenal Jogja maskudnya.

Di pertengahan jalan, kami mampir ke warung bakso, dan setelah makan baru kembali jalan menuju penginapan.

Selanjutnya, Traveling lagi di Jogja di Hari Ketiga. Happy Traveling deh pokoknya.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.


EmoticonEmoticon