Tuesday, July 26, 2016

Menelusuri Bendungan Batu Tegi di Air Naningan, Tanggamus, Lampung

Jika di hari pertama setelah lebaran kami traveling ke Air Terjun Talang Ogan di Pekon Talang Beringin Kecamatan Pulau Panggung, Tanggamus, hari kedua setelah lebaran kami masih traveling di Kabupaten Tanggamus, tepatnya ke tetangga dari Kecamatan Pulau Panggung, yaitu Bendungan Batu Tegi di Kecamatan Air Naningan.

Berhubung waktunya bertepatan dengan hari Jumat, maka kami memutuskan berangkat ke sana setelah Jumatan, sekalian pulangnya mampir tempat Yunda, kawan kuliah dan satu kos Mama dulu saat masih di Unila.

Pagi harinya, untuk mengisi waktu, dan juga untuk bersilaturrahim, kami pergi ke Kota Agung Timur, Pekon Tanjung Jati, ke rumah kakak ipar saya.

Sekitar pukul 11.30 siang, kami pulang ke rumah orang tua di Gisting, lalu saya pergi sholat Jumat di masjid dekat rumah.

Selesai Jumatan, sekitar pukul 13.30, saat kami mau berangkat ke Bendungan Batutegi, ternyata kakak ipar saya yang saya kunjungi pagi hari tadi, datang ke rumah, dan membawa Faris, anak laki-laki pertamanya.

Akhirnya kami ajak Faris, untuk ikut jalan-jalan ke Bendungan Batutegi ini, dan jadilah kami pun berangkat ke Bendungan ber-empat: saya, mama, Alya, dan Faris.

Faris ini umurnya lebih tua dari Alya 5 bulan, sehingga kalau dilihat tidak terlalu jauh beda, seperti seumuran. Tingginya pun sama dengan Alya. Saat kami ajak jalan-jalan bareng, Faris ini sering dikira anak saya lho hehehe.

Rute ke Bendungan Batu Tegi

Kami pergi ke Bendungan Batutegi menggunakan sepeda motor yang selama ini telah setia menemani kami jalan-jalan. Kilometer motor saya pun sudah cukup jauh, meskipun umurnya baru 6 tahun kurang.

Karena rumah mertua saya di Gisting, maka kami pun mengambil rute menuju pasar Talang Padang terlebih dahulu, lalu belok kiri dan lurus saja mengikuti jalan menuju Ulubelu dan Air Naningan.

Sebelum sampai di Pasar Talang Padang, kami mampir dulu di Indomaret karena krucil dua (Alya dan Faris) minta es krim di sepanjang jalan. Jadilah terpaksa kami berhenti dulu sekalian membeli minum dan jajanan untuk bekal ke Batutegi.

Sayangnya, Es krim di Indomaret sudah habis, sehingga kami cuma beli minuman dan snack ringan, dan saya janjikan untuk membeli es krim nanti lagi di jalan.

Selepas dari Talang Padang, krucil dua sudah mulai ngantuk. Duh, sempat khawatir juga gimana cara membawa mereka berdua kalau tidur semua.

Faris duduk di depan, karena motor saya motor bebek, bagian cekungan di depan saya kasih boneka yang diikat, untuk tempat duduk Faris agar nyaman.

Lalu Alya duduk di tengah, diapit saya dan Mama. Karena duduk di tengah, tentunya tidak sulit untuk menjaga Alya kalau tidur.

Yang saya khawatirkan adalah Faris, karena duduk di depan, takut jatuh.

Untungnya, dari rumah sudah kami perkirakan kalau mereka bakal tidur di jalan, sehingga kami pun membawa selendang.

Saat sudah melewati simpang Ulubelu-Batu Tegi/Air Naningan, persis di turunan jalan, Faris dan Alya sudah tidur pulas. Kami pun berhenti sebentar, dan Faris saya ikat dengan selendang, sambil saya pegangi kepalanya agar tidak jatuh. Lalu kami pun jalan kembali.

Jalan ke Bendungan Batutegi ini ternyata sangat mudah ditemukan karena di sepanjang jalan sudah ada penunjuk arah menuju Bendungan. Sangat berbeda dengan Air Terjun Talang Ogan.

Tidak perlu saya terangkan detail rutenya, saat anda berkunjung ke Bendungan ini pun saya yakin dapat dengan mudah menemukannya.

Akhirnya, kami sampai di portal masuk menuju Bendungan, dan kami harus membayar tiket masuk Rp3.000 per orangnya. Faris dan Alya masih saja tidur.

Lalu kami pun masuk menuju Bangunan Bendungan terlebih dahulu. Saat mau masuk, ternyata masih ada pungutan lagi, tiket parkir motor Rp3.000 per kendaraan.

Setelah membayar tiket parkir, kami segera menuju area parkir, dan kami bangunkan dua krucil ini.

Duh, Gak Bawa Payung

Kami sampai di Bendungan Batutegi sekitar pukul 14.30, dan matahari memang masih terik. Terasa benar panasnya, jalan di Bendungan Batutegi ini.

Saran saya, jika anda berkunjung ke sini di siang hari, akan lebih nyaman jika membawa payung, atau minimal jaket yang bisa dijadikan tutup kepala saat jalan di atas Bendungan.

Bendungan Batutegi ini terlihat cukup kokoh, dengan panjang ratusan meter, dan terlihat sangat panjang memang. Wajar saja jika disebut sebagai Bendungan terbesar di Asia Tenggara.

Pemandangan air di Bendungan Batutegi ini terlihat seperti pemandangan sebuah danau, dan kebetulan saat kami berkunjung, airnya terlihat bersih, tidak ada enceng gondok. Mungkin sudah dibersihkan.

Berikut ini beberapa foto yang saya ambil saat jalan-jalan di atas Bendungan Batutegi.

1. Dilarang Duduk di atas Pagar

Persis setelah pintu masuk, dua krucil kami suruh foto di dekat pagar pembatas bendungan. Di situ ada peringatan, "Dilarang Duduk di Atas Pagar". Larangan ini bukan tanpa alasan, mengingat di samping kanan dan kiri bendungan memang berupa jurang dengan batuan yang tajam, dan jurangnya pun dalam.

foto bendungan batutegi

Di belakang pagar, saya sempat kaget juga, saya kira tidak ada orang, saat Faris mau buang air kecil, dan saya suruh kencing di belakang pagar, ternyata ada pasangan yang sedang pacaran, dan setelah saya lihat, ternyata sepanjang belakang pagar banyak pasangan sedang pacaran.

Untung tidak jadi kencing di situ, kalau jadi kan berabeh ya hahaha.

2. Bendungan yang Cukup Panjang

panjangnya jembatan bendungan batutegi

Ternyata capek juga lho jalan dari ujung ke ujung, apa lagi panas matahari cukup menyengat juga, sehingga kami pun beberapa kali "ngiup" di tembok pembatas bendungan. Kendaraan tidak boleh masuk sehingga kami pun harus jalan kaki jika ingin melihat ujung jembatan.

3. Bangunan PLTA di Bawah

PLTA bendungan batu tegi
Dari atas, terlihat PLTA Batu Tegi di bawah sana
Di sebelah kanan bendungan, kita dapat melihat PLTA Batutegi yang sedang bekerja. Terlihat betapa dalamnya lereng di sebelah kanan bendungan ini, dan kayaknya serem kalau sampai ada yang jatuh.

Jalan sedikit lagi ke depan, ternyata ada jalan khusus (tangga) menuju PLTA ini, cuma kayaknya serem dan capek juga kalau menuruni tangga ini.

tangga menuju PLTA batu tegi

4. Tulisan Bendungan Batutegi

Di ujung dari Bendungan Batutegi kami jumpai tulisan Bendungan Batutegi, dan ternyata ada tangga juga untuk naik ke sana, bagi yang ingin berfoto-foto.

tulisan bendungan batutegi

Sayangnya kami sudah cukup capek sehingga tidak memanjat ke sana, hanya jalan-jalan sekitar, melihat keindahan "danau" di sekitar bendungan, batu nisan peresmian Bendungan Batutegi oleh Presiden Megawati, dan Monumen korban pembangunan Batutegi.

Dermaga Bendungan Batutegi

Setelah puas dan capek juga jalan di sepanjang Bendungan Batutegi, rencananya saya pengin mampir ke PLTA, tapi mama langsung menolak, takut motor mati seperti saat ke Air Terjun Talang Ogan, mengingat jalan menuju PLTA menurun tajam juga.

Maka kami pun memutuskan untuk ke Dermaga saja, melihat pemandangan "danau" yang memukau serta naik perahu kalau sempat.

Saat keluar dari Bendungan, kami sempat khawatir motor saya tidak kuat menanjak, tapi ternyata alhamdulillah semua berjalan lancar. Kami masih shock dengan kejadian di Talang Ogan.

Jalan menuju Dermaga ternyata lebih tajam dibandingkan jalan menuju Bendungan. Lintasan S dengan turunan curam, langsung menghampar di depan kami. Mama pun langsung ketakutan dan tidak berani turun, takut seperti kejadian di Air Terjun Talang Ogan.

Jadilah kami berhenti di pertengahan jalan, dan mengambil foto pemandangan air yang indah.

pemandangan dermaga batutegi

Setelah puas foto-foto pemandangan yang cukup cantik, awalnya kami memutuskan pulang, karena khawatir motor kembali mati saat menanjak.

Namun, kenekadan kembali menghampiri saya, sudah kepalang basah, nanggung sekali kalau sudah sampai sini dan tidak turun ke Dermaga.

Akhirnya, mama kembali menyerah, dan kami pun turun melewati letter S, melewati jalan menurun dan berkelok-kelok.

Sampailah kami di dermaga dengan mudah, karena tinggal turun saja.

Karena perut sudah lapar dan haus, kami mampir ke salah satu warung di sekitar dermaga, dan memesan kopi, popmie, dan air mineral.

Sayangnya hari sudah cukup sore, kami pun cuma sebentar di dermaga ini, tidak jadi naik perahu, dan hanya bisa menyaksikan beberap pengunjung yang berpetualang ke tengah "danau".

Pemandangan di Dermaga Batutegi ini betul-betul indah, dan layak untuk dijadikan wisata unggulan Kabupaten Tanggamus.

Akhirnya, kami pun segera pulang, memacu motor melewati jalanan yang naik tajam, dan alhamdulillah motor aman, bisa jalan dengan lancar, tidak mati. Sampai jumpa lagi Bendungan Batutegi.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.


EmoticonEmoticon