Thursday, July 14, 2016

Berpetualang ke Air Terjun Talang Ogan, Pulau Panggung, Tanggamus

Hari pertama setelah lebaran, Kamis 7 Juli 2016, agenda kami adalah berburu air terjun Talang Ogan yang ada di Dusun Talang Ogan, Pekon Talang Beringin, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Pertama kali tahu kalau di daerah ini ada air terjun, saat membaca sebuah blog yang mereview air terjun ini. Di blog tersebut, dikatakan Air Terjun Sumberejo. Begitu membaca Sumberejo, wah, berarti itu dekat dari rumah mertua saya di Gisting.

Dari situlah saya mulai merencanakan, suatu saat kami harus ke sini dan sekalian berkunjung ke air terjun Lembah Pelangi di Ulubelu Tanggamus.

Rute ke Air Terjun Talang Ogan

air terjun talang ogan
Keindahan Air Terjun Talang Ogan
Hari pertama setelah lebaran, agenda kami masih seputar silaturahmi ke saudara Mama Alya. Dan agenda hari itu adalah silaturahmi ke rumah lilik (paman), adiknya bapak mertua saya, di Pekon Wonoarjo, Kecamatan Sumberejo, Tanggamus.

Pukul 10.30 pagi, kami berangkat dari rumah. Tidak butuh waktu lama, karena sebenarnya jarak Gisting-Sumberejo cukup dekat, kami pun sampai di rumah lilik.

Setelah ngobrol-ngobrol, sekitar pukul 1 siang, kami berpamitan pulang. Awalnya, kami pengin ke kebun jambu di Sumberejo, yang konon bisa membeli jambu dan jambunya metik sendiri di pohonnya.

Tapi setelah bertanya kesana kemari, ternyata tidak ada yang tahu dimana lokasinya. Dan mumpung sudah ada di Sumberejo, maka kami tanyakanlah letak Air Terjun Sumberejo yang ingin kami kunjungi juga.

Ternyata kami salah tanya, bukan Air Terjun Sumberejo, tapi Air Terjun Gunung Batu, kata orang yang kami tanya. Lokasinya sekitar 7 km dari tempat lilik.

Akhirnya, dari Pekon Wonoarjo, kami balik lagi, ke Pekon Simpang Kanan, lalu naik ke atas ke arah Gunung Batu, lewat Dadapan, dan ketemu simpang yang mau ke Pasar Gunung Batu.

Di simpang ini, kami kembali bertanya kepada warga setempat. Lalu kami diarahkan untuk lewat Pasar Gunung Batu ini, ambil arah kiri, lalu lurus terus ikuti jalan bagus.

Susahnya Menemukan Air Terjun Talang Ogan


Jujur saja, ini adalah pertama kalinya kami lewat daerah Gunung Batu, meskipun lama juga tinggal di Gisting. Dan perjalanan menuju air terjun ini ternyata betul-betul sangat membingungkan.

Tidak adanya papan penunjuk jalan menuju air terjun merupakan faktor kesulitan yang paling utama. Sepanjang jalan kami cari papan penunjuk jalan, dan tidak kami jumpai satu pun.

Jadilah kami benar-benar asal jalan dengan modal bertanya kesana kemari.

Selepas dari Pasar Gunung Batu itulah yang paling membingungkan. Saat kami tanya tadi, dari Pasar Gunung Batu disuruh ambil ke arah kiri, lalu lurus terus.

Faktanya, jalanan banyak kami jumpai simpang, dan kami pun bingung harus ambil jalan yang mana. Jadilah kami sering sekali berhenti dan bertanya lokasi air terjun.

Sekitar 1 kilometer dari Pasar Gunung Batu, kami kembali bertanya kepada seorang ibu, yang ada di depan rumahnya.

"Bu, kalau mau ke air terjun sebelah mana ya?"

"Air terjun mana dek?"

"Air Terjun Gunung Batu atau Air Terjun Sumberejo bu".

"Wah, Air Terjun Gunung Batu atau Air Terjun Sumberejo mah gak ada dek. Yang ada Air Terjun Talang Ogan".

Lagi-lagi ternyata salah. Bukan Air terjun Sumberejo, bukan air terjun Gunung Batu. Tapi air terjun Talang Ogan.

"Oh, salah ya bu. Lokasinya di mana bu?".

"Ikutin jalan ini aja dek lurus, sampai ketemu Talang Ogan, nanti nanya sama orang".

Kami pun mengikuti petunjuk dari ibu tadi, jalan lurus mencari Talang Ogan. Awalnya, kami pikir Talang Ogan ini adalah sebuah  Desa.

Kami pun terus lurus mengikuti jalan utama, lalu ketemu Pekon Talang Beringin, lurus lagi, ketemu Pekon Talang Jawa, dengan jalanan naik turun dan banyak jalan rusak juga.

Jalanan benar-benar sepi, kami berjalan di pertengahan kebun-kebun yang tidak ada penduduk, dan agak-agak takut juga kalau-kalau ada begal.

Sesekali memang ada perkampungan, lalu perkebunan lagi, perkampungan lagi, dan perkebunan lagi, begitu terus jalan yang kami lalui.

Sudah sampai Pekon Talang Jawa, belum juga ketemu Talang Ogan, dan akhirnya malah sampai di Jalan Raya Talang Padang-Ulubelu.

Di jalan ini, kami kembali bertanya kepada seorang pemilik warung. Ternyata, air terjun sudah terlewat. Kami disuruh kembali lagi, sekitar 1 km ada rumah-rumah warga, kami disuruh bertanya sama warga-warga situ.

Nyasar Lagi


Dari jalan raya Talang Padang - Ulubelu, kami kembali berbalik menuju Talang Jawa, dan kembali bertanya. Tapi lagi-lagi jawabannya kurang jelas. Jadilah kami nyasar kesana-kemari.

Dalam hati saya mengeluh, pemerintah daerah Tanggamus ini benar-benar tidak peduli dengan pariwisatanya. Ada air terjun, tapi benar-benar tidak ada papan penunjuk jalan sama sekali, menyulitkan orang yang baru datang seperti kami.

Kami pun sempat nyasar masuk ke jalan tanah yang menanjak, jalanan sepi sekali masuk ke perkebunan, dan ketemu seorang warga yang mau ke kebun, ternyata kami salah jalan.

Kami kembali berbalik arah, dengan rasa putus asa. Sempat terbersit ingin pulang saja. Tapi rasanya nanggung banget, sudah jauh-jauh tapi belum ketemu air terjun.

Berkali-kali tanya, akhirnya kami kembali sampai di Pekon Talang Beringin. Dari Talang Beringin ini, kami diarahkan belok ke kanan, lalu belok kanan lagi, dan mentok terus belok kiri.

Di sana kami tanya lagi, dan diarahkan untuk jalan lurus saja menuju air terjun.

Sudah Dekat, Balik Lagi


Jalan yang kami lalui menuju lokasi air terjun merupakan jalan tanah murni. Awalnya, jalanan masih lebar muat untuk 1 mobil, dan masih ada batu-batunya juga.

Lalu jalanan berubah menjadi jalan setapak, yang hanya bisa dilalui oleh motor. Jika berpapasan 2 motor, masih bisa lewat, tapi sempit sekali, dan jalanan sudah murni berupa jalanan tanah yang pastinya bakalan becek saat kena air hujan.

Di sebelah kiri jalan, tidak ada rumah satu pun, hanya kebun-kebun, dan di kanan jalan, berupa jurang dan di bawahnya ada sawah-sawah dengan aliran sungai di sampingnya. Pasti sungai ini asalnya dari air terjun yang kami tuju.

Saat kami jalan, padahal baru sekitar pukul 3 sore, jalanan sepi sekali, tidak ada orang sama sekali. Kami menjadi satu-satunya orang yang lewat jalan itu. Takut-takut juga kami lewat situ, lagi-lagi takut begal atau aksi kejahatan lainnya.

Setelah beberapa menit mengendarai motor, ketemu simpang, kami ambil yang lurus, masih melewati jalanan setapak dengan sebelah kanannya masih jurang.

Akhirnya kami berpapasan dengan dua orang yang mau pulang ke perkampungan, mereka mengendarai motor gunung membawa barang dari kebun.

Jalan beberapa meter, kami ragu, jangan-jangan kami salah jalan lagi. Khawatir akan ada kejahatan, maka kami memutuskan balik arah dan pulang saja.

Saat saya sedang memutar motor, ada 3 orang lewat menggunakan 1 motor. Satu membawa helm, 2 tidak. Saya pun bertanya.

"Mau ke air terjun ya?".

"Iya nih".

"Air terjun lewat sini ya?".

"Iya lewat sini".

Meskipun begitu, kami masih tetap ragu kalau ini jalannya. Kami pun tetap memutuskan pulang, dan kembali berjalan menuju perkampungan.

Di pertengahan jalan menuju perkampungan, kami bertemu rombongan anak muda yang berjalan kaki. Karena mereka jalan banyak orang, saya pun menduga kalau mereka mau ke air terjun juga.

Maka saya pun bertanya kepada salah satu dari mereka.

"Mau ke air terjun ya dek?"

"Iya mas. Mas mau ke mana?"

"Ini tadi mau ke air terjun tapi takut nyasar?"

"Oh kalau gitu ayo bareng kami aja mas".

"Oh iya dek".

Namun, mama malah tetap bersikeras mau pulang saja. Alasannya perutnya sakit.

Saya tetap ngotot ingin pergi ke air terjun Talang Ogan. Nanggung, sudah jalan sebegitu jauh tapi pulang tanpa hasil.

Akhirnya mama pun menyerah dan dengan terpaksa saya ajak lagi naik ke atas menuju air terjun. Mumpung ada rombongan orang, jadi tidak perlu khawatir.

Ternyata, saat kami berangkat yang kedua kalinya ini, jalanan sudah cukup ramai. Terlihat beberapa pengunjung baik memakai motor maupun jalan kaki yang basah-basahan pulang dari air terjun.

Ada juga seorang polisi dan kawannya yang berkendara naik motor menuju air terjun.

Alhamdulillah, berarti kami tadi tidak nyasar.

Motor Mati


Apes, mungkin itu istilah yang tepat menimpa kami di perjalanan kedua ini. Padahal lokasi air terjun sudah dekat, sekitar 200 meter lagi.

Akibat motor telah diajak menanjak terus karena nyasar kemana mana, tiba-tiba motor saya mati. Duh apesnya. Sudah jalannya naik turun, motor mati pula. Tidak bisa distarter, diengkol pun tak bisa pula.

Jadilah sepanjang sore itu mendekati air terjun kami dipenuhi dengan kekhawatiran. Masa iya harus mendorong motor melewati jalanan seperti itu.

Sudah kepalang tanggung, dan air terjun sudah dekat juga, saya pun nekat.

Motor saya tinggal di pertengahan jalan tanpa pengawasan, tanpa kunci tambahan. Hanya saya kunci stang. Saya sudah tidak peduli lagi mau diambil orang atau tidak, kalau mau ambil motor mati yah silakan ambil saja.

Saya pun mengejar mama dan Alya yang sudah jalan kaki terlebih dahulu di depan saya. Dan langsung saya dengar suara air terjun menghantam bebatuan di bawahnya.

Ini Dia Air Terjun Talang Ogan


Rasa capek dan khawatir nyasar akhirnya terbayar lunas, saat kami melihat betapa indahnya Curup Talang Ogan di Pulau Panggung ini. Pemandangan yang begitu indah, air terjun yang tinggi, dan air yang jernih yang mengalir sepanjang sungai di bawahnya, dihiasi dengan pemandangan persawahan.

foto air terjun talang ogan
Foto ketinggian air terjun Talang Ogan dari bawah

Sudah ada beberapa motor parkir di dekat air terjun, dan di dekatnya ada jembatan bambu yang dibuat oleh warga yang digunakan untuk menyeberang.

Dan tidak lama-lama menunggu, kami pun langsung mecicipi dinginnya air dan ternyata memang benar-benar dingin, seperti yang dikatakan salah satu pengunjung saat kami berpapasan di jalan tadi.

Tidak lupa juga kami pun berfoto-foto mengabadikan keindahan air terjun yang memang betul-betul indah.

foto keindahan air terjun talang ogan
Menikmati keindahan air terjun talang ogan

Melihat air jernih mengalir, Alya tidak sabar ingin mandi. Sebenarnya kami larang, tapi dasar anak kecil, kalau sudah mau harus dituruti. Akhirnya saya temani Alya mandi di sungai ini dan melihatnya langsung tertawa kegirangan.

mandi di air terjun talang ogan
Alya mandi di Air Terjun Talang Ogan yang dingin

Tapi, karena air sangat dingin, maka hanya sebentar saja saya biarkan Alya mandi. Setelah itu langsung saya angkat dan suruh pakai baju lagi biar tidak kedinginan.

Di sebelah kanan dan depan kami, kami lihat banyak juga anak-anak yang serombongan tadi sedang asyik berfoto, dan ada juga yang mandi di tetesan-tetesan air di sebelah kanan air terjun, karena ada unsur mitos yang diceritakan oleh orang-orang jika mandi di tetesan air itu.

Sayangnya, kami masih terbayang-bayang motor yang mati tadi. Jadinya kami betul-betul tidak tenang dan tidak bisa berlama-lama di air terjun, karena takut kesorean dan tidak ada yang membantu kami mengatasi motor yang mati.

Maka setelah berfoto-foto sebentar lagi, kami pun memutuskan untuk pulang dengan rasa khawatir harus mendorong motor sampai ketemu bengkel.

Akhirnya, Pertolongan Alloh datang


Kami kembali jalan kaki menuju tempat saya memarkir motor. Baru berjalan beberapa meter, kami berjumpa dengan seorang polisi yang memakai motor sport. Melihat kami berjalan pulang, dan mama membawa helm, polisi itu pun bertanya.

"Itu yang di sana motor mas ya?".

"Iya mas soalnya tadi mati sama sekali gak bisa dihidupin, jadi saya tinggal saja di sana".

"Lain kali jangan tinggalkan motor di sana yah mas, soalnya suka ada motor hilang di sini. Bawa saja motor ke dekat air terjun".

"Iya mas". Saya pun cuma bisa mengiyakan.

Kami kembali berjalan, dan polisi itu kembali berbalik arah menuju jalan pulang.

Sesampai di tempat saya memarkir motor, saya lihat polisi tadi ternyata berhenti di samping motor saya bersama dengan seorang temannya.

Alhamdulillah, ternyata motor saya dijagain sama mereka, baik banget ya. Dan saya pun sempat berpikir mereka mau menolong saya mengatasi motor mati ini.

Ternyata setelah kami sampai, mereka malah kembali memacu motornya, dan berpesan agar kami hati-hati. Yah tak apa lah, mereka sudah menjaga motor saya.

Saya pun langsung mencoba menghidupkan motor, ternyata sia-sia saja. Motor tetap tidak mau hidup. Terpaksa kami dorong motor ini.

Saat menemukan turunan, saya pasang gigi 1, dan saya biarkan motor turun, dan alhamdullillah, selang tidak beberapa lama, motor hidup kecil-kecil dan saya gas, bisa hidup motor ini.

Namun, cuma beberapa detik, motor kembali mati, kecewa benar. Motor kembali saya dorong, dan saat ada turunan lagi, saya coba trik tadi.

Alhamdulillah, akhirnya motor kembali nyala, dan langsung saya gas agak gede supaya tidak mati. Motor saya pun bisa nyala, tidak mati lagi. Setelah sekitar 1 menit, motor tetap nyala, saya pun menyuruh mama dan Alya untuk naik, dan alhamdulilah sampai perkampungan, dan sampai ke rumah, motor ini tetap nyala dan aman sampai tujuan.

Kesan Mengunjungi Air Terjun Talang Ogan


Jalan-jalan ke Air Terjun Talang Ogan merupakan pengalaman yang benar-benar mendebarkan, dari lewat jalanan sepi cuma bertiga bareng mama dan Alya, sampai nyasar sampai ke perkebunan yang tambah sepi dan juga motor yang mati.

Namun, semua kesal, lelah, dan rasa putus asa terbayar lunas saat merasakan hembusan uap titik-titik air yang terbawa angin di bawah air terjun.

Harapan saya, agar Pemerintah Kabupaten Tanggamus lebih peka terhadap potensi wisata yang satu ini, dan memasang papan penunjuk arah di sepanjang perjalanan menuju lokasi air terjun.

Fasilitas dan Infrastruktur juga perlu dibenahi jika ingin mengembangkan pariwisata yang lebih maju.

Akhirnya, hanya bisa saya katakan, Air Terjun Talang Ogan, Pulau Panggung, Tanggamus benar-benar istimewa, dan anda pun harus mencoba. Selamat jalan-jalan ya.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.


EmoticonEmoticon