Friday, June 3, 2016

Menikmati Bandar Lampung Dari Alam Wawai Bersama Kakak Kelas Di STAN Dulu

Tanggal 1 s.d. 4 Juni 2016 merupakan hari bersejarah bagi kantor kami, Perwakilan BPKP Provinsi Lampung. Pasalnya, awal Juni 2016 ini kantor kami untuk pertama kalinya menyelenggarakan forum keuangan yang cukup besar dengan pesertanya adalah Perwakilan BPKP dari seluruh Indonesia beserta unit-unit kerja mandiri di lingkungan BPKP.

Total lebih dari 150 peserta yang hadir, termasuk yang hadir juga adalah beberapa pejabat di Lingkungan BPKP seperti Ibu Sekretaris Utama, Ibu Kepala Biro Keuangan, Bapak Inspektur BPKP, serta Direktur dan beberapa pejabat lainnya.

Waktu untuk mempersiapkan acara ini cukup mepet, sekitar satu minggu saja mengingat pemberitahuan dari Biro Keuangan disampaikan sekitar satu minggu sebelum acara dimulai.

Tapi rasanya tidak ingin saya ceritakan detail jalannya acara, karena inti dari tulisan saya kali ini adalah catatan saya saat menemani kakak kelas saya melihat pemandangan Bandar Lampung dari perbukitan di Jalan Imba Kesuma, tepatnya Alam Wawai Bandar Lampung.

Mas Koni

Forum Rekonsiliasi Self Blocking dan Reviu Usulan Anggaran BPKP Tahun 2016 ditutup sebelum Jumatan. Setelah acara selesai, beberapa ada yang langsung pulang ke hotel, ada yang tetap di kantor, ada yang cari oleh-oleh, dan beberapa kegiatan lainnya.

Sehabis Jumatan, saat saya sedang merekap data, Kakak Kelas Saya, Mas Koni, datang ke ruangan kerja saya dan ngobrol-ngobrol sambil makan siang.

Mas Koni ini adalah lulusan DIII Kebendaharaan Negara Tahun 2007, kakak kelas saya 2 tahun. Saya lulus dari STAN tahun 2009.

Saat masih kuliah, saat saya duduk di tingkat I dan dia tingkat III, sebenarnya kami sama sekali tidak saling mengenal. Bahkan muka pun mungkin sama sekali tidak tahu.

Perjumpaan kami diawali pada saat Matrikulasi Pembentukan Auditor Terampil di Bogor tahun 2011 lalu. Sama seperti saya, dia adalah lulusan Kebendaharaan Negara yang tidak diproyeksikan menjadi Auditor, dan saat itu dia juga bekerja di Sub Bagian Keuangan.

Dan tahun 2011 lalu tiba-tiba Biro Kepegawaian memutuskan lain, sehingga kami, Anak Kebendaharaan Negara, dipanggil mengikuti Matrikulasi Pembentukan Auditor Terampil.

Dari situlah awal perjumpaan kami, karena kebetulan saya satu kamar dengan dia.

Awal perjumpaan kami pun dilanjutkan dengan perbincangan panjang lebar, termasuk pengalaman kuliah dan pengalaman kerja.

Jalan-jalan Ke Alam Wawai

Dan di tahun 2016 ini, kami kembali dipertemukan dalam suatu forum keuangan, dan kebetulan sekali kali ini saya yang menjadi tuan rumah.

Ini adalah pengalaman pertama Mas Koni datang ke Lampung. Mas Koni ini putra asli Ambon, dan sejak awal penempatan, dapat penempatan di Perwakilan BPKP Provinsi Maluku (Ambon).

Jam setengah 3 sore, saya selesai merekap data, dan makan siang sebentar, lalu saya mengantarkan Mas Koni untuk membeli oleh-oleh Keripik Lampung di Toko Yen Yen Teluk.

Setelah membeli oleh-oleh, perjalanan pun kami lanjutkan ke Alam Wawai Bandar Lampung. Sebenarnya ada beberapa tempat wisata lainnya di Lampung, hanya saja karena waktu yang sempit, maka saya ajak saja dia ke Alam Wawai ini, untuk menikmati Bandar Lampung dari ketinggian.

Lokasi Alam Wawai dari Kantor saya cukup dekat, sehingga hanya beberapa menit saja kami sudah sampai di lokasi.

Kami menuju Alam Wawai dari Jalan P Emir M Noer, lalu belok ke kiri ke arah PDAM Way Rilau, menuju Jalan Imba Kesuma, dan kemudian belok kanan menyusuri Jalan Imba Kesuma.

Sesuai dengan kontur alamnya di daerah perbukitan, jalan yang kami lewati pun naik turun dan disertai suasana alam yang masih hijau dan sejuk.

Sesampai di Tugu Duren, ada simpang ke kiri berupa tanjakan, kami pun ambil ke kiri, dan sekitar 200-300 meter dari sini, ada spanduk penunjuk jalan Alam Wawai, ambil kiri lagi dan cuma beberapa meter saja sudah sampai di Kompleks Alam Wawai.

Begitu masuk kami langsung disambut rindangnya pepohonan yang cukup sejuk, hanya saja jalannya masih berupa batu onderlaght, belum di aspal.

Di spanduk-spanduk dekat penjualan tiket tertulis Jam Operasional Alam Wawai ini cuma sampai jam 17.00, lewat dari itu sudah ditutup.

Beruntung kami sampai Alam Wawai ini baru jam 3 sore.

Kami pun langsung parkir motor, dan kemudian membeli tiket masuk seharga Rp15.000- per orang. Kami diberi gelang kertas bertuliskan Alam Wawai dan juga selembar tiket tiap orang untuk ditukarkan dengan teh botol.
gelang alam wawai
Gelang Alam Wawai sebagai kenang-kenangan
Tak berlama-lama, kami pun langsung menelusuri Alam Wawai ini. Lokasinya kalau saya lihat tidak begitu luas, jauh sekali jika dibandingkan dengan Lembah Hijau.

Dari Alam Wawai ini, kami bisa saksikan laut Teluk Lampung di bawah sana, serta bangunan-bangunan dan rumah-rumah yang ada di kota Bandar Lampung.

Terlihat juga para pengunjung sedang asyik berfoto-foto dan ada juga yang asyik duduk-duduk ngobrol dengan teman maupun pasangannya.

Tidak jauh dari penjualan tiket, kami jumpai papan penunjuk arah menuju beberapa lokasi.
Penunjuk Arah di Alam Wawai
Wahana yang ada di Alam Wawai
Kami pun kemudian turun ke bawah, menuju amphi theatre dan Camping Ground. Terlihat banyak sekali tenda-tenda perkemahan yang sudah siap sedia untuk disewa. Sayangnya, sewa camping di Alam Wawai ini hanya bisa dilakukan rombongan, minimal 30 orang.
menikmati area camping ground
Mas Koni menikmati area Camping Ground
tenda kemah di alam wawai
Tenda kemah yang ada di Camping Ground Alam Wawai
Di sini kami ambil banyak foto dengan background Tenda Camping dan juga laut serta kota Bandar Lampung untuk kenang-kenangan Mas Koni saat pulang ke Ambon nanti. Setidaknya, ada memori yang tidak terlupakan saat berkunjung ke Bandar Lampung.

Setelah puas berfoto-foto di bawah, kami pun naik ke atas mencari toilet dan juga mushola.

Toilet di Alam Wawai ini dibuat dengan suasana alami, begitu pun musholanya dan tempat wudhunya.

Mushola Alam Wawai berbentuk satu buah tenda kemah dengan tikar sebagai alasnya, dan peralatan sholat berupa mukena dan sarung tersedia digantung di dalam mushola ini.

Adapun tempat wudhu terbuat dari batu-batu yang cukup unik untuk dilihat.

Terakhir, kami pun menuju warung makan yang ada di Alam Wawai ini untuk menukarkan tiket kami dengan sebotol teh manis.

Warung makan yang ada di Alam Wawai ini juga berbentuk tenda besar, dengan meja dan kursi yang cukup banyak, dan benar-benar dengan suasana alami yang asri.

Setelah itu, kami pun pulang ke kantor untuk mengambil barang-barang Mas Koni, kemudian saya antarkan Mas Koni menuju Hotel Whiz di dekat Bundaran Gajah.

Selamat jalan Mas Koni, sampai jumpa lagi di lain waktu. Mudah-mudahan Jalan-jalan Ke Alam Wawai ini bisa menjadi kenangan di Ambon bagi Mas Koni nanti.

Seorang PNS yang sedang belajar menulis. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.


EmoticonEmoticon